Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Andressa Memulai Penyusupan


__ADS_3

Andressa menerima surat dari Lorcan. Surat tersebut berisi bahwa Andressa bisa melakukan apa saja terhadap Marchioness Jevano. Dia telah mendapatkan izin dari Lorcan sehingga hal ini akan mempermudah langkahnya ke depannya.


"Kaisar sangat baik. Dia membiarkanku bersikap seenaknya. Baiklah, aku juga takkan segan-segan menghabisi wanita itu. Apabila dia protes, aku tinggal menjawab kalau Kaisar memberiku izin untuk membunuhnya sekali pun."


Andressa segera bersiap-siap untuk pergi ke luar. Dia meninggalkan klinik pada Amelia. Sekarang saatnya dia bergerak menghajar Marchioness Jevano.


"Syukurlah Marquess Gencio memberiku satu kuda. Aku bisa pergi menggunakan kuda, jadi akan lebih menghemat waktu untuk sampai ke kediaman wanita gila itu."


Andressa menunggangi kuda itu menuju ke jalan mengarah pada kediaman Marchioness Jevano. Dia masih mahir menunggangi kuda meski telah berlalu lebih dari lima puluh tahun semenjak terakhir kali dia menggunakan kuda untuk berkendara. Sebab Andressa sebelumnya ditaruh di dunia penuh sihir. Jadi, dia tidak memerlukan kuda untuk bepergian.


"Aku jadi rindu menggunakan sihir untuk berteleportasi. Cukup menguras tenaga jika memakai kuda untuk bepergian jauh," gumam Andressa.


Sepanjang perjalanan, untung saja tidak ada hambatan sehingga dia bisa tiba di kediaman Marchioness Jevano dalam waktu yang lebih cepat.


"Oh, wanita itu tinggal di tempat yang mewah. Ada banyak kesatria dan pelayan juga di sini. Cukup mengesankan. Sementara penduduk Selion merintih sakit, dia malah hidup di mansion mewah. Ini membuatku sedikit jengkel."


Andressa pun mencari celah untuk menyelinap ke dalam. Namun, tidak dia temukan tempat paling amat untuk menyusup. Andressa akhirnya memilih melompat melewati tembok yang sangat tinggi.


"Tubuh ini sedikit lentur sehingga memudahkaku untuk melompati tembok ini."


Andressa duduk di atas tembok seraya mengamati situasi sekitar. Setelah dirasa aman, dia melompat ke bawah.


"Huh? Aku melompat tepat di samping gudang. Mungkinkah ini gudang yang dimaksud oleh Marquess Gencio di dalam suratnya? Baiklah, aku akan pastikan sendiri dengan mata kepalaku."


Andressa mencongkel kunci pintu lalu menerobos masuk ke dalam. Betapa terkejutnya dia menemukan ada banyak sekali botol cairan yang sama. Bahkan, ada di antaranya punya warna yang berbeda.


"Ini sedikit berbeda." Andressa membuka tutup salah satu botol cairan itu. Aromanya menyengat hingga membuat Andressa terbatuk.


"Cairan ini lebih kuat daripada cairan sebelumnya. Apa dia sungguh berniat melenyapkan kekaisaran Emilian?"


Kemudian Andressa mengacak-acak isi gudang. Tidak ditemukan apa pun di sana selain cairan virus tersebut. Bersamaan saat itu, Andressa mendengar suara derap kaki mendekati gudang.


'Gawat! Aku harus bersembunyi.'

__ADS_1


Andressa menyembunyikan keberadaannya di balik tumpukan barang. Tidak lupa dia memasang telinga baik-baik untuk menguping.


Datanglah sekitar dua orang kesatria masuk ke dalam gudang.


"Apa kau tidak mengunci gudangnya?"


"Perasaan tadi aku sudah menguncinya. Mungkinkah aku lupa?"


"Kalau Nyonya tahu, beliau bisa memarahimu habis-habisan."


"Jika begitu, kau jangan adukan masalah ini kepada Nyonya agar aku tidak dimarahi."


Mereka mengambil dua kotak cairan virus dan hendak membawanya keluar dari sini.


"Ke mana target Nyonya berikutnya?"


"Beliau sudah memulainya dari wilayah kekuasaan Marquess Gencio. Entah atas alasan apa, Nyonya terlihat sangat dendam kepada Marquess Gencio."


"Tenang saja. Hal itu takkan pernah terjadi selagi kita menjaga informasi."


Netra Andressa melebar tatkala mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan.


'Apa? Wanita itu menyerang wilayah kekuasaan Marquess Gencio. Dasar tamak! Sepertinya aku harus menghabisimu sekarang sebelum merugikan lebih banyak orang lagi.'


Andressa keluar dari tempat persembunyian seusai memastikan orang-orang itu sudah tidak ada lagi di sana. Kemudian Andressa berpikir sejenak mengenai tumpukan cairan virus tersebut.


"Mungkin aku harus membuat sesuatu untuk melenyapkan cairan virus ini tanpa harus menumpahkan atau membuangnya hingga menyebabkan wabah baru lagi."


Andressa lekas bergerak ke luar. Sebelum kedua kesatria itu pergi lebih jauh, Andressa dengan sangat cepat melumpuhkan mereka.


"Siapa kau?! Apa kau penyus—"


"Jangan berisik!" Andressa menyumpal mulut mereka. "Kalian takkan bisa membawa cairan virus ini ke mana-mana mulai sekarang." Andressa mengikat kedua kesatria itu ke pohon.

__ADS_1


Sebelum bergerak pergi, Andressa membawa kembali ke gudang dua kotak cairan virus yang diangkut kesatria itu.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian mengacau hingga menjatuhkan lebih banyak korban jiwa lagi."


Selepas itu, Andressa melakukan serangan secara diam-diam kepada para kesatria penjaga supaya ia dapat masuk dengan tenang ke dalam mansion.


"Sedikit merepotkan, tetapi inilah cara agar Marchioness Jevano tidak kabur dari kejaranku. Aku tidak mau dia melarikan diri dari hukuman."


Andressa mengendap-endap ke dalam mansion. Dia terpukau menyaksikan keindahan mansion tersebut rupanya jauh lebih indah dari luar. Sembari bergerak, dia terus melumpuhkan satu per satu kesatria penjaga demi meminimalkan resiko ketahuan.


"Ada di mana kamar wanita itu? Mungkin ada di lantai atas."


Sementara Andressa terus berjalan mengitari seisi mansion, Marchioness Jevano tengah bersantai di kamarnya sembari meminum alkohol. Dia terlihat gembira karena tujuannya hampir tercapai.


"Sebentar lagi Marquess Gencio akan mati lalu aku yang akan menguasai seluruh wilayah kekuasaannya. Memang menjengkelkan karena tabib itu menggangguku. Namun, apa dia bisa menggagalkan rencanaku? Aku rasa dia takkan bisa melakukannya," ujar Marchioness Jevano berbicara sendirian.


Begitulah sifat wanita itu. Dia serakah dan penuh ambisi menguasai segala sesuatu yang sudah dia tandai sejak lama. Tersirat kabar bahwa dia membunuh suaminya yakni Marquess Jevano demi mendapatkan kekayaan serta kekuasaan.


Walau begitu, Lorcan tidak bisa membuktikan kebersalahannya sehingga dia bisa bergerak bebas sampai detik ini. Akan tetapi, sebentar lagi kebebasannya akan direnggut paksa oleh Andressa.


"Apa aku harus menyiapkan pesta untuk kejatuhan Marquess Gencio? Ya, sepertinya aku harus melakukannya. Pria itu sangat menjengkelkan. Dia selalu saja menggangguku dan sekarang dia menolong tabib ingusan itu."


Marchioness Jevano menggerutu terus menerus mengingat bagaimana perlakuan Andressa sebelumnya. Saat ini dia pikir bahwa dirinya berada di puncak teratas. Maka dari itu, tidak ada seseorang yang mungkin dapat mengacaukan ambisinya.


"Oh, kau ternyata ada di sini. Aku lelah mengelilingi mansion untuk mencari kamarmu. Siapa sangka kalau kamarmu ternyata terletak di lantai paling atas."


Sontak Marchioness Jevano menoleh ke arah datangnya suara. Dia tidak percaya melihat Andressa mendobrak pintu masuk sambil menyeret seorang kesatria.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk?!"


Marchioness Jevano bangkit dari posisinya. Dia berupaya tetap tenang menghadapi Andressa.


"Tidak ada yang mengizinkanku masuk. Aku hanya menerobos dan menyelinap ke dalam kediamanmu yang mewah ini."

__ADS_1


__ADS_2