
Lorcan langsung mengirim sekitar lima orang tabib istana kepada Andressa. Mereka merupakan para tabib yang dikenal oleh kemampuan pengobatannya yang luar biasa.
Begitu mereka mendengar Lorcan ingin mengirim mereka kepada Andressa, mereka tampak bersemangat. Pasalnya, para tabib sudah mendengar kemampuan Andressa dalam bidang pengobatan. Tidak sedikit tabib yang penasaran dengan kemampuan Andressa dan ingin melihat gadis itu cara mengobati orang lain.
"Sebuah kehormatan bagi kami dikirim ke klinik Anda untuk membantu Anda, Nona."
Andressa terlihat puas. Untung saja mereka berlima bukanlah tabib kurang ajar seperti di klinik Glory sebelumnya. Jadi, akan lebih mudah bagi Andressa mengatur mereka dan mengajari teknik operasi.
"Ya, aku menyambut kalian semua. Apa kalian sudah mendengar kalau kita kali ini akan melakukan operasi terhadap kaki dan mata Kaisar?"
Mereka sontak kaget mendengar pertanyaan Andressa. Mereka belum tahu sama sekali mengenai hal tersebut.
"Melihat dari ekspresi kalian, sepertinya kalian belum mendengar dari pihak Kaisar. Baiklah, aku akan mengatakan kepada kalian. Aku berencana untuk mengoperasi kaki dan mata Kaisar," lanjut Andressa berucap.
"Nona, apakah ada kemungkinan kaki dan mata Kaisar bisa kembali pulih seperti semula?" tanya salah satu tabib.
"Ya, bisa."
__ADS_1
Para tabib terpaku. Jawaban Andressa seperti sebuah ketidakmungkinan bagi mereka. Padahal selama ini mereka sudah melakukan apa saja untuk membantu menyembuhkan Lorcan.
"Benarkah begitu? Tetapi, kami sudah melakukan apa saja demi memulihkan kaki serta mata Kaisar. Tidak ada jalan untuk pulih, Nona. Jadi, bagaimana bisa teknik operasi bisa memulihkan tubuh Kaisar?"
Andressa menghela napas panjang. Sudah ia duga akan ada pertanyaan seperti demikian.
"Teknik operasi bukanlah teknik pengobatan biasa. Teknik ini memaksa kita untuk memotong permukaan kulit pasien hingga mengacak-acak bagian dalam tubuh pasien. Maka dari itu, butuh keberanian besar untuk melakukannya. Aku akan mengajari kalian bagaimana jalan kerja teknik operasi," jelas Andressa panjang lebar.
Tidak ada di antara mereka yang paham maksud penjelasan Andressa. Hanya saja mereka percaya bahwa Andressa bisa melakukan itu semua.
Bersamaan kala itu, Aldan yang bertugas sebagai pembuat alat-alat medis Andressa pun datang. Dia membawa satu kotak penuh alat medis yang dia pesan beberapa hari yang lalu.
"Ya, ini bukan apa-apa bagiku. Tolong dicek terlebih dahulu apakah ada alat yang masih kurang?"
Andressa segera memeriksa satu per satu alat-alat medis tersebut. Para tabib tercengang melihat tumpukan alat yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
"Apa itu? Mungkinkah itu alat untuk melakukan operasi?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu, tetapi mungkin saja itu memang alatnya."
Andressa terasa sangat puas dengan alat-alat medis yang dibuat langsung oleh tangan Aldan.
"Ini sudah lebih dari cukup. Aku puas dengan kinerjamu. Lain kali aku akan memesan lebih banyak lagi. Bisa kan?"
Aldan sumringah seketika.
"Ya, tentu saja bisa. Aku akan membuatkan berapa pun yang kau minta," kata Aldan.
"Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan uang pembayarannya."
Andressa melangkah masuk ke dalam untuk mengambil sebuah amplop berisi uang. Dia langsung memberikan amplop itu kepada Aldan.
"Ini bayarannya. Coba kau hitung dulu, kalau kurang tolong bilang padaku."
Aldan menghitung jumlah uangnya dan ternyata pas.
__ADS_1
"Sudah pas. Terima kasih ya, semoga pengobatanmu kali ini juga lancar."