
Mimik muka Marchioness Jevano seketika masam. Perasaannya memburuk melihat Andressa menanggapinya dengan sangat lancang. Hal paling dibenci oleh Marchioness Jevano adalah mata bulat Andressa yang menatapnya lurus.
Bagi Andressa tidak ada gunanya bersikap sopan terhadap bangsawan maupun Kaisar. Alasannya ialah karena dia sudah bosan hidup. Dia bosan menjalani kehidupannya yang berputar terus berputar ke arah roda yang tak tentu.
"Lihatlah betapa tidak sopannya kau. Tunjukkan rasa hormat padaku!" bentak Marchioness Jevano.
"Rasa hormat?" Andressa menyunggingkan senyum. "Untuk apa aku menghormatimu? Kau orang yang menerobos masuk ke wilayah kepemilikanku. Lalu mengapa aku yang harus menghormatimu?" tekan Andressa.
"Wilayah kepemilikanmu?"
"Iya, klinik ini adalah wilayah kepemilikanku. Semua orang kemari untuk berobat. Jadi, kau ada urusan apa mencariku? Kau mau berobat atau malah membuat masalah?"
Marchioness Jevano sontak melangkah mundur. Ada segelintir rasa takut menguasai dirinya perlahan.
'Apa aku takut kepada wanita ini? Tidak mungkin. Mengapa aku harus takut padanya? Tak masuk akal sama sekali,' batin Marchioness Jevano.
__ADS_1
Marchioness Jevano berdehem. Dia menangkal segala jenis rasa takut yang dia rasakan.
"Aku sudah bilang kalau aku kemari ingin berbicara denganmu. Keluarlah! Aku akan membeli waktumu selama sepuluh menit."
Andressa menaruh stetoskop di atas meja sembari membuang napas singkat. Dia merasakan ada sesuatu menjanggal di diri Marchioness Jevano.
"Baiklah. Mari kita bicara, sepertinya kau punya bahan bagus untuk dibicarakan," ujar Andressa.
Kemudian Andressa menyuruh Amelia untuk mengambil alih tugasnya sebentar. Andressa pun mengajak Marchioness Jevano ke ruang yang lebih privasi. Di sana mereka tidak hanya berdua saja, ada para kesatria pribadi Marchioness Jevano yang juga ikut mengawasi pembicaraan mereka.
"Apa yang mau kau bicarakan? Langsung pada intinya saja."
Kemudian Marchioness Jevano mengeluarkan sejumlah uang. Jumlahnya tidak main-main banyaknya.
"Berikan wilayah ini padaku, aku akan membayarmu berapa pun itu," ujar Marchioness Jevano.
__ADS_1
Sekarang Andressa pun paham maksud kedatangan wanita tersebut ke kliniknya.
"Kau serius membayarku hanya segini saja?" Andressa memancing Marchioness Jevano mengeluarkan uang lebih banyak lagi.
"Baiklah. Aku akan membayarmu lebih banyak lagi." Dia mengeluarkan uang yang jumlahnya mungkin bisa membeli mansion mewah di ibu kota.
"Hahaha." Andressa tertawa lepas. "Kenapa kau sangat menginginkan wilayah ini? Mungkinkah ada sesuatu yang kau inginkan? Atau jangan-jangan kau adalah orang yang membuat wilayah Selion menjadi wilayah dengan riwayat penyakit menular berbahaya?"
Andressa tepat sasaran! Wanita itu memang pelaku utamanya. Dia tidaklah asal berbicara mengenai hal itu. Bahkan, ekspresi wajah Marchioness Jevano berubah drastis tatkala Andressa menudingnya.
"Apa yang kau bicarakan? Mengapa juga aku harus melakukannya?"
Andressa bangkit dari tempatnya duduk.
"Begitukah? Ya sudah terserah saja. Lebih baik kau keluar dari sini dan tinggalkan segera wilayah Selion. Aku tidak mau menyerahkan wilayah itu padamu. Kau tahu kenapa? Karena tak ada gunanya aku menyerahkannya pada sampah sepertimu."
__ADS_1
Marchioness Jevano pun murka akibat perkataan Andressa. Dia tidak terima disebut sebagai sampah meski itulah kenyataannya. Dia pun ikut bangkit dari tempat duduk.
"Apa kau bilang? Aku tidak salah dengar kan? Kau baru saja menghina bangsawan terpandang sepertiku. Apa kau tidak takut dijatuhkan hukuman pancung?!"