Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Jiwa dari Dunia Lain


__ADS_3

Datanglah hari di mana dilakukan perekrutan tabib dan asisten tabib. Kali ini Andressa turun langsung menyeleksi satu per satu para pelamar. Cukup banyak orang yang harus dia seleksi, tetapi untungnya dia dibantu oleh tabib yang selama ini berada di bawah naungannya.


“Kita butuh berapa orang, Nona?” tanya Amelia.


“Sekitar tiga puluh tabib dan lima puluh orang asisten tabib. Semakin banyak, maka akan semakin bagus. Itu bisa mempermudahku nanti mengatur jadwal kerja kalian masing-masing,” jawab Andressa.


“Baiklah, saya paham. Sekarang sudah waktunya kita memulai ujiannya, Nona. Saya akan mengantar Anda ke ruangan para pelamar berada.”


Ini adalah waktu ujian para pelamar. Andressa sengaja mengadakan ujian tulis demi menguji sampai mana kemampuan mereka sebagai seorang tabib maupun sebagai seorang asisten tabib.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka melakukan ujian tulis sebab hanya ada sepuluh soal yang tertera pada kertas ujian. Di hari yang sama pula, Andressa mengumumkan siapa saja yang diterima bekerja di kliniknya. Banyak yang kecewa terhadap hasil ujian tersebut. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena Andressa lah penentu segalanya.


“Kau sudah mengumumkan kepada mereka bahwa mulai besok mereka akan melaksanakan pelatihan khusus sebelum menjadi tabib resmi di klinikku?” Andressa bertanya kepada Bosley.


“Sudah, Nona. Anda tenang saja, tanpa Anda beritahu pun saya sudah pasti memberi tahu mereka.”


Andressa tersenyum puas. Dia sangat bangga terhadap Bosley yang selalu bertindak sebelum dia beri perintah. Padahal Bosley pertama kali masuk ke klinik ini hanyalah seorang tabib yang punya berbagai rasa takut. Akan tetapi, sekarang aura pria ini berubah drastis akibat terlalu sering menghadapi pasien serta berkat ajaran dari Andressa.


“Bagus! Aku harus bersiap-siap sebelum melakukan pengajaran pertama pada calon rekan kita esok.”


Pada hari berikutnya, Andressa terjun langsung mengajari calon tabib dan asisten tabib. Bosley telah menyediakan ruangan khusus untuk mereka di lantai paling atas klinik.


“Selamat pagi semua.” Andressa menyapa seluruh calon tabib serta asisten tabib.


Tidak jarang di antara mereka yang terpukau dan terpikat akan pesona Andressa. Bukanlah sekedar rumor belaka mengatakan bahwa Andressa sesosok gadis muda cantik jelita.


“Selama pagi, Viscountess,” balas mereka serentak.


Andressa amat tidak terbiasa mendengar dirinya dipanggil Viscountess.

__ADS_1


“Tolong panggil aku Nona saja. Aku tidak mau mendengar kalian memanggilku dengan begitu hormat. Ya sudah, langsung saja kita mulai pelajaran pertama. Aku harap kalian bisa mengingat apa yang aku ajari sebab semua ini merupakan pengetahuan dasar menjadi tabib di klinik Adista. Kalian paham?”


“Paham, Nona!”


Mereka teramat bersemangat. Andressa dapat merasakan betapa mereka menantikan bekerja di klinik Adista. Klinik milik Andressa beberapa waktu belakangan ini digadang-gadang sebagai klinik yang mempunyai pelayanan terbaik sekaligus teknik pengobatan yang punya efek pemulihan luar biasa.


Kemudian di tengah praktek menjahit, Andressa dikejutkan oleh kemampuan salah seorang tabib muda. Andressa tertegun melihat hasil jahitan yang baru saja diajari Andressa beberapa menit yang lalu.


“Hei, apa kau sendiri yang menjahitnya? Bagaimana kau bisa langsung mahir melakukannya?” tanya Andressa.


Pria muda itu terperanjat kaget baru menyadari kehadiran Andressa di hadapannya. Dia terlihat panik tatkala Andressa melontarkan pertanyaan padanya.


“Saya sudah berlatih sebelumnya, Nona,” jawab pemuda itu ragu-ragu.


“Benarkah? Bolehkah aku tahu siapa namamu?”


“N-Nama saya Calvin, Nona.”


“Calvin ya? Aku akan mengingat namamu. Lanjutkan kembali pekerjaanmu, jangan sungkan bertanya bila ada sesuatu yang tidak kau pahami.”


Sesudah itu, ada banyak hal dari diri Calvin yang menimbulkan berbagai jenis pertanyaan di kepalanya. Tatkala Andressa mengecek satu per satu hasil praktek Calvin, dia sadar bahwa pekerjaan Calvin terlalu sempurna untuk disebut sebagai pemula.


“Aku belum pernah mendengar nama Calvin di mana pun. Apabila dia bisa melakukan semuanya sesempurna ini, maka dia bisa menjadi tabib terkenal sejak dahulu. Akan tetapi, mengapa dia tidak pernah menunjukkan kemampuannya ke hadapan publik?”


Pertanyaan kian menumpuk di otak Andressa. Kemudian tiba-tiba saja kedua manik matanya melebar.


“Mungkinkah dia … ah, mustahil! Tidak mungkin itu terjadi.” Andressa menampik segala hal yang menurutnya tidak logis sama sekali.


Tidak berselang lama, Lion kembali muncul di hadapan Andressa.

__ADS_1


“Apa yang membuatmu berpikir terlalu serius?” tanya Lion.


“Aku menemukan seseorang yang menarik perhatianku.” Andressa menjawab tanpa memandangi Lion.


“Seseorang yang menarik? Bisakah kau memberi tahuku?” Lion pun ikut penasaran.


Andressa menunjukkan kepada Lion hasil praktek Calvin sebelumnya.


“Bagaimana bisa ada seorang tabib pemula yang dapat melakukan praktek sesempurna ini? Aku mencoba menduga-duga. Jika tebakanku benar, apa mungkin dia jiwa yang berasal dari dunia modern? Dia mati lalu tanpa sengaja malah tersapu ke dimensi ini.”


Andressa menatap lekat Lion. Sorot matanya mengisyaratkan bahwa dia butuh kejujuran Lion perihal ini semua.


“Dugaanmu benar. Pria bernama Calvin itu memang jiwa yang berasal dari dunia modern. Dia terseret keretakan dinding pembatas dimensi hingga dia berhasil tiba di dunia entah berantah. Pada awalnya, dia sulit menerima semuanya, tetapi setelah aku awasi dari kejauhan, tampaknya sekarang mencoba membuka diri kembali. Alhasil, dia bertemu denganmu, sungguh takdir yang terdengar sangat aneh sekaligus lucu,” jelas Lion.


Andressa merekahkan senyum tipis. Dia masih tidak menyangka ada jiwa orang lain yang ikut terseret ke dunia ini.


“Lalu kenapa kau tidak mencoba mengirimnya saja ke akhirat? Seharusnya kau bisa melakukannya karena kasusnya tidaklah serumit diriku.”


Lion mendengus, perlahan ia membuang napas perlahan.


“Aku tidak bisa melakukannya. Apabila dia mau ke akhirat, maka dia harus menjalani hidupnya di sini sampai mati. Sehabis itu, baru dia bisa pergi ke akhirat.”


“Aku pikir ini dapat lebih mudah, rupanya prasangkaku salah. Kasihan sekali dia harus bertahan di dunia ini. Sayang kemampuannya sebagus terbuang begitu saja. Memang keputusanku sudah bagus memasukkannya ke klinikku,” tutur Andressa.


“Ya, kau harus mengawasinya. Aku merasa sangat beruntung dia bertemu denganmu di sini. Lagi pula akhir-akhir ini ada banyak sekali jiwa manusia dari dimensi lain terseret arus. Hanya saja, di dunia yang sama denganmu sekarang, cuma jiwa Calvin yang terbawa kemari. Oleh sebab itulah, pekerjaanku saat ini teramat sulit. Jadi, Andressa, tolong jaga Calvin sementara waktu. Aku percayakan dia padamu.”


Andressa tidak bisa menolak permintaan Lion. Ini bukanlah permintaan yang sulit untuk dikabulkan olehnya.


“Baiklah, serahkan saja anak ini padaku. Setidaknya, dia aman bersamaku selama dia masih berada di dunia ini. Selesaikan saja pekerjaanmu, aku tidak mau terseret lagi ke dunia dari dimensi-dimensi yang tidak aku ketahui sama sekali,” tekan Andressa penuh emosi.

__ADS_1


“Iya iya, aku sedang mengusahakannya.”


__ADS_2