Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Camille Diabaikan


__ADS_3

Lorcan mondar-mandir di taman istana kediaman Leyna. Di sana ada Jason yang senantiasa menemaninya. Jason hanya menatap Lorcan disertai mimik datar.'


"Jika Anda sebegitu khawatirnya, kenapa Anda tidak menyusul saja ke dalam? Tidak ada salahnya Anda membantu Nona Andressa keluar dari lubang neraka itu," ucap Jason.


Lorcan melirik Jason.


"Tidak boleh. Andressa tidak mengizinkanku untuk ikut campur. Dia bilang akan mengatasi semuanya sendirian."


Di sisi berlainan, ternyata kala itu Camille juga sedang berada di istana. Dia berencana pergi menemui Leyna. Akan tetapi, langkahnya terhenti begitu menemukan Lorcan berada tidak jauh dari jarak pandangannya.


'Kaisar ada di sini? Wah, apakah beliau sengaja menungguku di sini? Kalau begitu, Kaisar tahu aku akan datang ke istana?!'


Camille lekas merapikan rambut serta gaunnya. Dia melangkah pelan ke arah tempat Lorcan berdiri saat ini.


"Yang Mulia." Camille memanggil Lorcan dengan suara lembut dan sengaja terdengar imut. Tidak lupa senyum polos yang penuh kepalsuan.


"Siapa?" Lorcan menyorot dingin Camille. Pria itu benar-benar tidak tahu siapa wanita di hadapannya kala itu.


"Apa Anda lupa? Saya Camille Fidel. Sebelumnya, saya sudah memperkenalkan diri kepada Anda."

__ADS_1


Camille masih mempertahankan raut mukanya yang terkesan merayu Lorcan. Meski dia kesal Lorcan tampak tidak tertarik sedikit pun padanya.


"Camille Fidel? Ah, begitu rupanya."


Lorcan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia mengedarkan bola mata untuk memastikan apakah Andressa sudah keluar dari istana sang ibu atau belum.


"Apa yang Anda lakukan di sini, Yang Mulia? Mungkinkah Anda menunggu saya?"


Mimik wajah Lorcan dan Jason serentak berubah. Keduanya sejenak merasa jijik dan geli terhadap kepercayaan diri Camille.


"Hah? Kau gila ya?"


Camille tersentak. Tubuhnya gemetar tatkala pandangannya bertemu dengan mata dingin Lorcan.


Sepersekian detik berselang, Camille menegakkan kepalanya kembali.


"Yang Mulia, Ibu Suri berkata saya akan menjadi—"


"Andressa!"

__ADS_1


Lorcan mengabaikan perkataan Camille. Dia berlari ke dekat Andressa yang baru saja keluar dari istana.


Camille terdiam dalam seribu kata. Baru kali ini dia merasakan harga dirinya diinjak-injak seorang pria. Jason saat itu hanya tersenyum mengejek Camille.


"Nona, sepertinya Anda tidak punya kesempatan menyelinap masuk ke hidup Kaisar. Jadi, tolong berhentilah berkhayal. Anda bukan wanita yang diinginkan Kaisar," ujar Jason memberi peringatan.


Jason meninggalkan Camille yang didera kejengkelan. Dia pun langsung berbalik badan untuk melihat siapa gerangan yang membuat Lorcan dingin terhadapnya.


Begitu Camille melihat wajah Andressa, kedua bola matanya melebar.


"Wanita itu bukannya Andressa? Dia tabib muda yang dekat dengan kakak kan? Mengapa dia bisa mengenal Kaisar?" gumamnya memelototi Andressa dari kejauhan.


Andressa ketika itu menghentikan gerak kakinya tatkala Lorcan memanggilnya bersama suara lantang.


"Oh, Lorcan! Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau harus bekerja hari ini?" tanya Andressa.


"Pekerjaanku sudah selesai. Aku kemari ingin memastikan apa kau baik-baik saja selama mengobrol dengan Ibu Suri? Apa dia menyulitkanmu? Katakan saja padaku."


Andressa menggeleng pelan. Sesaat ia sadar bahwa sebenarnya Lorcan sedang mencemaskannya.

__ADS_1


"Aku bisa mengatasinya. Walaupun tadi Ibu Suri sempat mengancamku. Namun, ancaman itu bukan apa-apa bagiku. Lihat! Aku berhasil keluar tanpa terluka kan?"


Andressa memutar-mutar badannya di hadapan Lorcan. Memang tidak ada bekas luka atau bekas kekerasan lain di tubuhnya.


__ADS_2