
Tatkala Andressa berada di tengah perjalanan ke kediamannya, ada sesuatu yang terjadi dan mengagetkannya. Seseorang sedang mengikutinya diam-diam. Entah siapa itu, sekarang Andressa berupaya tenang agar ia bisa lebih mudah menghadapi si penguntit tersebut.
'Siapa dia? Kenapa dia terus mengikutiku?'
Andressa mempercepat laju kuda yang ia tunggangi. Namun, begitu dia tiba dia persimpangan jalan masuk hutan, orang yang menguntitnya itu menghadang jalannya. Nyaris saja Andressa terjatuh dari kuda, untungnya dia bisa berhenti sebelum jatuh ke tanah.
"Sialan! Siapa kau?! Berani-beraninya menghambat jalanku!" Emosi Andressa tak terbendungkan lagi. Dia paling malas bila diganggu ketika tengah malam begini.
Orang itu tidak menjawab perkataan Andressa. Dia malah menyeringai sambil memperhatikan Andressa di bawah tudung jubah.
Kemudian Andressa turun dari kuda. Dia berjalan mendekati orang tersebut.
"Apa kau pembunuh yang dikirim kaisar Dorton?" tanya Andressa dengan tatapan penuh selidik.
__ADS_1
Orang itu pun membuka tudung jubahnya. Kedua bola mata Andressa membelalak kaget di saat melihat wajah yang ada di balik tudung itu.
"Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu."
Orang itu adalah Egran. Tentu saja mereka pernah bertemu sekali. Dulu Andressa masih belum tahu siapa sebenarnya Egran. Akan tetapi, seusai mendengar penjelasan Lorcan, kini ia tahu siapa Egran sesungguhnya.
"Kenapa bajing*n sepertimu bisa berada di Emilian? Melihatmu membuatku kesal mengingat apa yang pernah kau lakukan selama menjadi tabib kepercayaan Lorcan," tutur Andressa menekan nada bicaranya.
"Hahaha." Egran tertawa lepas. Pria itu benar-benar dipenuhi aura jahat. "Aku kemari secara khusus untuk menemuimu. Tenang saja, aku takkan mengajakmu bertengkar apalagi sampai beradu kekuatan."
"Menemuiku untuk apa? Apa kau diam-diam merencanakan sesuatu yang busuk lagi? Sudahlah, cepat bicara di sini! Aku tidak suka berlama-lama melihat sampah sepertimu."
Raut muka Egran berubah dingin dalam sekejap. Sorot matanya tajam bak harimau yang hendak menerkam mangsanya. Hanya saja, Andressa tidak takut dengan ancaman ekspresi dari Egran.
__ADS_1
"Wah, kau sangat angkuh. Apa karena kau berpikir ilmu pengobatanmu sudah melebihiku? Ya, aku tidak peduli itu, yang jelas sekarang sebaiknya kau berhenti terlalu ikut campur ke dalam rencana kaisar Dorton. Jangan sampai kau menyesal nantinya," kata Egran kian mengintimidasi Andressa.
"Ah, begitukah? Tampaknya aku takkan menyesal karena ikut campur. Masalah ini sudah melewati batas, jadi tidak ada salahnya aku ikut campur."
Andressa meresponnya dengan santai tanpa tersulut emosi sedikit pun. Intimidasi jenis apa pun itu takkan mempan kepadanya.
"Kau tidak punya rasa takut ya? Ya sudahlah, yang penting aku telah mengingatkanmu perihal masalah ini."
Ekspresi dingin Egran meluruh kembali. Sungguh tidak bisa dipahami apa maksud pria ini kala itu.
"Aku tidak butuh pengingat darimu. Lebih baik kau pergi dan menghindar dari jalanku. Aku tidak punya banyak waktu meladeni pria brengs*k sepertimu."
Egran melangkah ke tepi, dia mengulas senyum miring di bibirnya.
__ADS_1
"Baiklah, silakan lanjutkan perjalananmu kembali, tetapi aku tidak akan berhenti sampai di sini saja. Aku harap kau bisa bersiap-siap untuk menerima hadiah dariku. Mungkin sesudah ini kau akan berlutut di hadapanku memohon meminta bantuan dariku."