Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Terkejut dengan Kedatangan Lion


__ADS_3

Usulan dari kedua orang terpercayanya tidak bisa dibantah begitu saja. Tanpa mempertimbangkan lebih banyak hal, Andressa pun akhirnya mengambil keputusan untuk membangun cabang klinik baru. Lagi pula tidak ada yang perlu dipikirkan atau dipertimbangkan lebih lanjut.


'Baiklah, aku rasa aku memang harus membuka cabang klinik ini. Aku tidak mungkin bisa mengatasi pasien dalam jumlah yang melimpah.'


Keesokan harinya, Andressa langsung mengurus pembukaan cabang klinik. Terlebih dahulu ia memilih tempat di mana cabang klinik berdiri. Tidak butuh waktu lama bagi Andressa mengurus hal tersebut.


"Nona, bagaimana? Apa Anda sudah selesai mencari lokasi strategis untuk cabang klinik Anda?" tanya Amelia sembari menyajikan secangkir teh.


"Ya, aku berhasil mendapatkan lokasi yang cocok dan tidak jauh dari sini. Aku sengaja mengambil lokasi terdekat supaya aku bisa bolak-balik ke sana tanpa memakan waktu lama. Sekarang tinggal menunggu dilakukannya pembangunan gedung klinik," jawab Andressa menjelaskan.


"Lalu siapa yang akan bertanggung jawab di cabang klinik tersebut?"


"Tentu saja kau yang akan bertanggung jawab. Lalu siapa lagi kalau bukan kau?"


Sepasang netra Amelia melebar. Sungguh ia begitu terkejut mendengarnya.

__ADS_1


"Saya? Apa Anda sedang bercanda, Nona?" Amelia bertanya untuk memastikan.


"Tidak, aku tidak bercanda." Ekspresi wajah Andressa tampak serius. "Sebenarnya aku ingin meminta Calvin mengurus cabang klinik, tetapi dia menolak dengan alasan kemampuannya masih belum sempurna. Sedangkan kau sudah menguasai teknik pengobatan yang aku ajarkan selama ini. Jadi, aku mau kau bertanggung jawab atas cabang klinikku. Bagaimana?"


Amelia merenung. Terlalu mendadak baginya Andressa memberi dia tanggung jawab terlalu berat. Akan tetapi, ini merupakan kesempatan bagi dia untuk berkembang lebih jauh lagi.


"Jika itu keputusan Anda, baiklah, Nona, saya akan mengambil tanggung jawab mengurus cabang klinik Anda."


"Baguslah kalau kau setuju. Dengan begini aku bisa sedikit lebih tenang."


Selepas itu, Amelia pamit keluar dari ruangan Andressa. Dia ingin melanjutkan pekerjaannya kembali. Sedangkan Andressa berdiam diri di ruangannya memikirkan bagaimana kemungkinan buruk akan menimpa dirinya nanti.


Andressa terperanjat kaget mendengar suara Lion bergaung di telinganya.


"Dasar sialan! Mengapa kau selalu saja mengejutkanku? Tidak bisakah kau datang dengan tenang?" Andressa mengomel kesal.

__ADS_1


"Ah, maafkan aku, aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Lagi pula wajahmu terlihat serius. Apa yang membuatmu tampak serius seperti ini?"


"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu. Oh iya, bagaimana? Apa dinding pembatas dimensi berhasil kau atasi keretakannya?" tanya Andressa mengalihkan topik.


Lion menggeleng pelan.


"Belum, keretakannya belum bisa aku atasi. Namun, setidaknya saat ini aku bisa mencegah alat sihir untuk masuk ke dunia ini lagi. Hanya itu satu-satunya yang dapat aku dan rekanku lakukan sementara waktu," jelas Lion.


"Hmm begitu rupanya. Lalu kenapa kau berada di sini sedangkan pekerjaanmu belum selesai? Apa kau merindukanku?" Andressa sengaja meledek Lion.


"Sembarangan! Mana mungkin aku merindukan wanita menyebalkan sepertimu. Aku hanya mampir sebentar, tidak ada niat lain selain itu. Jangan percaya diri sekali kau."


Andressa terkikik kecil. Sangat lucu melihat wajah kesal Lion. Makhluk mungil itu memang pantas diusili karena dia sendiri sering membuat Andressa kesal.


"Ya sudah kalau begitu."

__ADS_1


Lion membuang napas singkat.


"Bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu waktu itu? Apa kau sudah menemukan alat-alat sihir yang terlempar ke dunia manusia?


__ADS_2