Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Ibu Suri Tidak Berada di Istana


__ADS_3

Andressa mengamati sekeliling, tidak ia temukan jejak atau tanda-tanda keberadaan Leyna. Dengan tidak adanya Leyna di sana, Andressa jadi semakin curiga. Mungkin saja ada sesuatu yang sedang dipersiapkan wanita itu untuk menghancurkan momen pertunangannya dengan Lorcan.


"Benar-benar mencurigakan. Aku jadi tidak bisa berpikir tenang kalau belum melihat batang hidung wanita itu. Aku rasa dia sedang merencanakan sesuatu yang bodoh lagi," ujar Andressa menggerutu.


Lorcan juga punya firasat yang sama seperti Andressa. Ketidakhadiran Leyna malam ini menjadi tanda tanya besar di kepalanya. Apalagi Leyna selama ini tidak pernah membiarkannya hidup sesuai keinginannya sendiri. Selalu saja ada kejadian tak terduga menimpanya.


"Aku berharap semoga dia tidak melakukan hal yang merugikan kita berdua. Akan sangat menyulitkan jika dia datang bersama rencana mengacaukan suasana saat ini."


Di saat keduanya tengah berbisik-bisik, Gibson dan Miria menghampiri mereka seraya membawa sebuah bungkusan hadiah.


"Salam kepada Yang Mulia Kaisar." Keduanya menunduk memberi salam.


Andressa menatap dingin Miria dan Gibson. Jelas sekali Miria adalah orang paling bahagia dengan pertunangan Andressa. Dengan begini tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan karena Andressa takkan mengusik hubungannya dengan Gibson.


"Selamat atas pertunangan Anda, Yang Mulia dan juga Viscountess Erriel. Semoga Anda berdua bisa selalu bersama sampai waktu pernikahan nanti," tutur Miria.


Gibson dikuasai kecemburuan. Sebenarnya ia tidak mau mengucapkan selamat kepada mereka berdua. Dia ingin sekali menggantikan posisi kaisar, tetapi apa daya? Andressa tidak lagi melihatnya seperti dahulu.


"Saya juga mengucapkan selamat kepada Anda berdua." Hanya itu yang mampu diucapkan Gibson, hatinya pedih sehingga tiada kata lain yang sanggup ia utarakan.


"Terima kasih kalian telah meluangkan waktu menghadiri acara pertunanganku dan Andressa." Lorcan merangkul erat Andressa.


"Sama-sama, Yang Mulia. Kami juga menyiapkan hadiah untuk Anda berdua. Silakan dibuka nanti setelah acaranya selesai."


Miria menyerahkan hadiahnya kepada pelayan yang berdiri di samping sang kaisar. Entah apa yang ada di dalam balutan indah kotak hadiah tersebut, Andressa jadi menaruh curiga.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih juga atas hadiahnya. Silakan nikmati hidangan pesta yang telah dipersiapkan oleh para koki terbaik istana," ucap Andressa seraya tersenyum lebar.


Miria langsung menarik Gibson untuk pergi dari hadapan Andressa. Dia cemburu melihat Gibson tiada henti menatap gadis itu.


"Aku pikir mereka tidak akan datang." Senyum Andressa langsung luntur seusai keduanya menghilang dari pandangan.


"Bukankah kau menyukai Gibson dulunya?"


Andressa sontak menyorot tajam Lorcan. Pria itu tampaknya sedang cemburu.


"Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah menyukainya. Mungkin itu hanyalah sebuah kesalahpahaman." Andressa enggan mengakui hal itu.


"Sungguh? Syukurlah kalau begitu." Lorcan menghela napas lega.


Sesudah menerima ucapan selamat dan hadiah dari tamu lainnya, Andressa dan Lorcan berpisah lalu membaur dengan seluruh tamu di sana. Mereka menyapa satu per satu bangsawan yang hadir.


"Ya, kami juga. Kami pikir nona Camille yang akan menjadi tunangan kaisar. Untung saja kaisar menolak tegas usulan pertunangan dari duke Fidel. Tidak bisa dibayangkan seberapa sombongnya pria itu jika putrinya berhasil menjadi permaisuri," tambah Viscount Kaidan.


Andressa tertawa kecil. Mereka sangat membenci duke Fidel. Tidak heran mengapa mereka selalu berselisih setiap saat mereka bertemu.


"Oh iya, Nona. Apa Anda melihat ibu suri? Kami tidak menemukan beliau di mana-mana," tanya Marquess Gencio.


"Saya tidak melihat beliau. Padahal saya mencari ibu suri sejak tadi, tetapi dia sepertinya tidak ada di istana. Mungkin dia enggan menghadiri pertunangan putranya yang tidak dia restui."


Marquess Gencio terlihat resah. Dia tahu pasti seperti apa ibu suri itu. Sebelumnya ia sempat khawatir Andressa akan dicelakai oleh ibu suri. Akan tetapi, ternyata Andressa baik-baik saja sampai upacara pertunangannya selesai dilakukan.

__ADS_1


"Mungkin begitu, tetapi Anda tidak boleh menurunkan kewaspadaan. Tolong perhatikan di sekitar Anda karena kita tidak tahu kapan musuh akan menyerang. Rasanya mustahil ibu suri berdiam diri begitu saja tanpa ada perlawanan."


"Ya, itu benar, Nona." Viscount Kaidan ikut menimpali. "Kami tahu betul seberapa gilanya ibu suri. Maka dari itu, kami sempat cemas karena pertunangan ini. Kami khawatir ibu suri mengambil langkah berbahaya demi menjatuhkan Anda."


"Dengan ketidakhadiran ibu suri, kita harus curiga. Saya percaya bahwa beliau memang sedang mempersiapkan sesuatu yang membahayakan keselamatan Anda. Tolong berhati-hatilah, Nona. Kami sudah meminta kaisar menaruh kesatria di tempat-tempat tertentu demi menjaga keamanan Anda."


Mereka bertiga tulus mencemaskan Andressa. Rasanya sedikit bersyukur karena Andressa dikelilingi oleh orang-orang baik.


"Ya, saya tidak menurunkan kewaspadaan sedikit pun. Tenang saja, saya akan lebih berhati-hati. Tolong jangan biarkan kekhawatiran itu mengganggu malam yang indah ini."


Mereka melanjutkan pembicaraan. Keempatnya berbincang perihal topik lain. Tidak berlangsung lama, Andressa lalu berpindah menyapa tamu lainnya.


"Lihatlah betapa sombongnya kau malam ini." Camille menyindir Andressa secara langsung.


Raut mukanya masam, ia cemburu berat menyaksikan adegan saling tukar cincin antara Andressa dan Lorcan.


"Ya ampun, aku pikir kau takkan datang. Siapa sangka kau sanggup menyaksikanku dan Lorcan bertunangan secara resmi di depan matamu," balas Andressa dengan nada mengejek dan menjengkelkan.


"Kau memang menang malam ini, tetapi aku takkan membiarkanmu melangkah ke jenjang yang lebih serius. Akulah satu-satunya yang pantas menjadi permaisuri. Kau hanyalah wanita berdarah keturunan rendahan!" hardik Camille.


Andressa merasa kasihan sekali melihat Camille putus asa. Dia hanya sedang berusaha menutupi kekecewaannya dengan sikap kurang ajarnya itu.


"Kalau begitu, cobalah merebut Lorcan dariku. Aku ingin melihat seberapa hebat kau dalam merayunya. Tunjukkan kepadaku bukti dari perkataanmu itu. Jangan hanya sibuk berkhayal hal yang tidak-tidak."


"Aku pasti bisa melakukannya. Kau takkan bertahan lama dengan kaisar. Berpuas hatilah kau malam ini, nanti aku akan membuatmu menangis dan cemburu menyaksikan aku bersanding di singgasana bersama kaisar."

__ADS_1


Andressa memandang remeh Camille. Wanita itu sungguh bodoh. Dia tidak pernah belajar dari kesalahan dan tidak pernah mengukur kemampuan diri. Dia tidak lebih dari seorang nona manja dari keluarga kaya. Tidak cocok sama sekali dengan karakter seorang permaisuri yang tegas dan mandiri.


"Ya, Camille. Tolong perlihatkan kepadaku segera. Aku penasaran bagaimana rupa Lorcan jika jatuh cinta denganmu. Walaupun sepertinya kau akan gagal karena pria itu sulit untuk digapai oleh wanita cengeng dan suka tebar pesona sepertimu. Aku sarankan, sebaiknya kau mempersiapkan hati sebelum kecewa dengan ekspektasi yang tidak berjalan sesuai keinginanmu. Kau paham itu?"


__ADS_2