Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kedatangan Marchionese Jevano


__ADS_3

Andressa mengulas senyum seringai. Hal mudah baginya memulihkan kembali kaki dan mata Lorcan.


"Bisa dan aku tidak bercanda sama sekali. Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan selagi itu masih berada di sekitar lingkaran kemampuanku." Andressa terdengar sangat penuh percaya diri.


"Bagaimana caramu melakukannya?"


Andressa memperbaiki posisi duduknya. Sorot matanya tampak memukau dalam sekilas pandang.


"Dengan teknik operasi. Teknik ini terbilang cukup ekstrim bagi kalangan para tabib. Namun, hanya ini cara yang bisa menyembuhkan kaki dan matamu."


Lorcan berpikir sejenak. Dia memang pernah mendengar soal teknik operasi yang dibicarakan beberapa orang akhir-akhir ini. Terlebih lagi, ada kesatria istana yang diselamatkan Andressa menggunakan teknik tersebut.


"Apa teknik operasi itu sangat sakit?" tanya Lorcan.


Andressa menggeleng. "Walaupun aku menggunting kulitmu, kau takkan merasakan sakit selama proses itu berjalan. Aku menggunakan bius supaya kau tidak sadarkan diri ketika aku mengoperasimu."


"Baiklah. Mari lakukan itu. Tidak masalah meski aku merasakan sakit karena aku hanya ingin kembali normal supaya aku bisa pergi berperang."


Sebuah tekad yang sangat kuat. Sebagai pecandu perang, Lorcan ingin sekali kembali seperti sedia kala. Dia rindu masa berjayanya sebagai pahlawan perang.

__ADS_1


"Mari atur jadwalmu. Tolong kosongkan waktumu selama satu hari untuk operasi. Kabari aku kalau kau sudah mendapatkan jadwalnya," kata Andressa.


"Baiklah. Aku akan mengabarimu lagi nanti."


***


Pada hari berikutnya, seseorang mengunjungi Andressa di klinik. Orang itu adalah Marchioness Jevano. Secara lancang tanpa sopan santun, dia menyelonong masuk begitu saja.


"Panggilkan tabib Andressa kemari." Dengan sangat angkuhnya, dia memerintahkan seenak hatinya orang-orang yang berada di sana.


"Nona Andressa sedang melakukan pemeriksaan terhadap pasien, Nyonya. Mohon ditunggu sebentar," ucap Amelia menolak dengan halus.


Marchioness Jevano membentak Amelia. Dia enggan menunggu sebentar. Statusnya sebagai bangsawan membuatnya menjadi manusia sombong dan tidak sabaran.


"Mohon maaf, Nyonya. Nona Andressa benar-benar tidak bisa diganggu sekarang. Dimohon pengertiannya."


Marchioness Jevano mendekati Amelia. Giginya menggertak murka akibat penolakan halus dari Amelia.


"Apa kau tahu siapa aku?"

__ADS_1


Amelia masih mempertahankan senyumnya walau dia sebenarnya sudah sangat marah kala itu.


"Saya tahu. Anda adalah Marchioness Jevano. Bagaimana saya tidak mengenal bangsawan terpandang seperti Anda?"


"Bagus kalau kau menyadarinya. Sekarang cepat panggilkan tabib Andressa. Aku ingin berbicara dengannya," titah Marchioness Jevano sekali lagi.


"Saya sudah mengatakannya kepada Anda. Nona Andressa tengah menangani pasien. Anda tidak bisa mengganggu beliau, Nyonya. Harap pengertian Anda, saya tidak mau Nona terganggu karena kehadiran Anda di sini."


Marchioness Jevano menghela napas berat. Emosinya tak lagi beraturan.


"Kurang ajar! Sepertinya kau harus aku beri pelajaran!"


Marchioness Jevano mengangkat tinggi-tinggi tangannya. Dia berniat untuk mendaratkan tamparan ke wajah Amelia.


"Apa yang kau lakukan di klinikku? Kalau kau hanya membuat keribuatn saja, maka lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku sendiri menyeretmu keluar."


Andressa pun keluar dari ruangan pasien. Dia berhasil menghentikan Machioness Jevano yang hendak melukai Amelia.


"Siapa kau? Mungkinkah kau yang bernama Andressa?"

__ADS_1


"Benar, itu aku. Ada perlu apa kau denganku? Apakah ada sesuatu yang lebih penting dari kesibukanku sebagai tabib? Ataukah kau kemari hanya untuk membicarakan omong kosong saja?"


__ADS_2