Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Perang


__ADS_3

Selepas mengganti pakaian, Lorcan langsung mengantarkan Andressa kembali ke kediamannya. Lorcan tampak terburu-buru seusai menerima sebuah laporan mendesak dari istana.


"Nanti aku akan kirim surat. Jangan lupa dibalas," ucap Lorcan.


"Iya, tenang saja."


Andressa melambaikan tangannya mengamati Lorcan perlahan menjauh dari jarak pandang matanya.


"Kira-kira apa yang sedang terjadi di istana? Ya sudahlah, nanti saja aku tanya kepada Lorcan."


Andressa masuk ke dalam kediamannya yang tidak jauh dari lokasi klinik. Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat tanpa harus membebankan dirinya pada pikiran yang rumit.


Beberapa hari berselang, Lorcan tidak menepati ucapannya. Dia tak mengirim surat kepada Andressa. Bahkan, ia juga tak mendengar kabar apa pun dari istana.


Perasaan Andressa berkecamuk tak menentu. Dia mencoba tetap tenang, tetapi tidak bisa ia lakukan.


"Nona, kenapa Anda terlihat sangat gelisah?" tanya Calvin.


"Iya, Anda juga kurang fokus. Apa mungkin Anda ada masalah dengan Kaisar?" timpal Amelia menduga-duga.

__ADS_1


Andressa melirik mereka berdua. Untuk ke sekian kalinya mereka mendengar suara helaan napas Andressa.


"Tidak ada masalah apa-apa. Kalian fokus saja dengan pekerjaan kalian. Jangan urusi aku."


Andressa beranjak pergi dari hadapan Amelia dan Calvin. Mereka berdua serentak saling beradu pandang. Sepertinya mereka keheranan melihat tingkah aneh Andressa.


"Mungkin karena Kaisar tidak mengirim surat kepada beliau." Kali ini dugaan Calvin sangat tepat.


"Benarkah? Pantas saja Nona bersikap aneh. Apa beliau masih belum sadar kalau beliau punya perasaan terhadap Kaisar?"


Calvin mengedikkan bahu.


"Tidak tahu. Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua."


"Ke mana saja dia? Padahal dia sudah berjanji mengirim surat kepadaku."


Andressa bergegas membuka amplop suratnya lalu membaca isi surat tersebut. Ekspresi semringah Andressa mencair dan berubah datar.


"Hah? Lorcan akan pergi perang tiga hari lagi? Mendadak sekali," gumam Andressa.

__ADS_1


Di surat itu tertulis bahwasanya Lorcan mendapatkan laporan dari perbatasan wilayah kekaisaran kalau pihak musuh mulai terang-terangan menyatakan perang terhadap pihak kekaisaran Emilian. Hal ini mengganggu kedamaian rakyat. Jadi, dia selama beberapa hari belakangan ini mempersiapkan diri untuk memulai perang kembali.


"Baiklah, aku harus membalas surat ini secepatnya. Lalu mungkin aku harus mempersiapkan obat-obatan untuk mereka nanti di medan perang."


Begitulah Andressa memulai kesibukan baru yakni mempersiapkan cadangan obat bagi para prajurit perang. Walaupun sebenarnya Lorcan sudah melarang agar Andressa tak terlalu sibuk, tetapi gadis itu sangat keras kepala.


Hingga tibalah waktu keberangkatan Lorcan ke arena perang. Andressa lebih awal datang menemui Lorcan di tempat Lorcan berkumpul bersama bawahannya.


Tubuh Lorcan tampak tertutupi baju zirah. Pedangnya nan tajam tersarung di samping baju zirah. Penampilan Lorcan saat ini membuat Andressa sedikit terpana.


"Lorcan, bagaimana persiapannya? Kau sudah memeriksa ulang semuanya kan?" tanya Andressa.


"Sudah, tidak ada satu pun yang terlewatkan."


"Ah, syukurlah."


Andressa melirik ke sekeliling. Terlihat beberapa orang gadis yang merupakan istri dan kekasih para kesatria berdatangan. Mereka ingin memberi sapu tangan sebagai pertanda harapan bahwa seluruh prajurit harus pulang degan selamat.


"Oh iya, kemarikan tanganmu," kata Andressa tiba-tiba.

__ADS_1


"Tangan? Untuk apa?" Lorcan mengulurkan tangan kanannya kepada Andressa.


"Ini sapu tangan untukmu." Andressa mengikat sapu tangan di pergelangan tangan Lorcan. "Cepat pulang. Aku menunggumu di sini," lanjut Andressa berucap.


__ADS_2