
Andressa menyunggingkan senyum seringai. Inilah yang ia tunggu-tunggu sedari tadi. Dia ingin tahu apa alasan sebenarnya Leyna mengundangnya ke istana.
"Tolong beri tahu saya, Yang Mulia. Saya tidak tahu sama sekali tujuan dan alasan Anda mengundang rakyat biasa seperti saya ke istana," tutur Andressa.
"Aku menawarkan sebuah kerja sama untukmu."
Leyna menatap Andressa dengan pandangan angkuh serta percaya diri yang penuh.
"Kerja sama?"
Leyna mengangguk.
"Benar, kerja sama. Aku akan membantumu mendapatkan gelar bangsawan dan memperluas pengaruh klinikmu. Asalkan kau mau bekerja di bawah perintahku, bukan di bawah perintah sang Kaisar," jelas Leyna.
Andressa membuang napas pelan. Memang benar dugaannya bahwa Leyna akan mencoba menariknya ke sisinya.
__ADS_1
"Maaf, Yang Mulia, tetapi saya tidak mau menjadi anj*ng Anda," ucap Andressa tenang dan penuh penekanan disertai senyum tipis melengkung di bibirnya.
Gadis itu tidak punya sedikit pun rasa takut melawan Leyna. Hingga detik itu pula, ekspresi ramah Leyna berubah dingin. Dia tidak lagi menatap Andressa menggunakan sorot mata yang diwarnai kepalsuan. Saat ini ia menunjukkan bagian dari dirinya yang sesungguhnya.
"Kau yakin menolak tawaranku? Tidak ada salahnya menjadi anj*ngku yang setia. Rakyat jelata sepertimu butuh hal semacam ini kan? Tenang saja, aku takkan membiarkan hidupmu sengsara apabila bekerja di bawahku."
Leyna masih berupaya membujuk Andressa. Namun, Andressa telah mengukuhkan keputusannya tersebut.
"Saya yakin sebab saya tidak butuh itu semua. Saya bisa mendapatkannya bahkan tanpa Anda sekali pun. Lagi pula, kenapa saya harus bekerja di bawah Anda? Mungkinkah Anda ingin menggulingkan kekuasaan Kaisar?"
"Bagaimana mungkin aku menggulingkan kekuasaan putraku sendiri? Tolong jangan mengada-ada." Leyna membantah tudingan Andressa.
"Sungguh? Tetapi, itu terlihat jelas sekali di mata Anda. Saya juga tahu seberapa buruk hubungan Anda dengan Kaisar. Meskipun Anda membantahnya sekali pun, bantahan itu berisi kebohongan belaka. Lalu asal Anda tahu, saya sebenarnya telah berada di sisi Kaisar."
Andressa menyeruput dengan santai secangkir teh yang disajikan untuknya. Layaknya seorang bangsawan, Andressa kian menonjolkan sisi etiket kebangsawanan di dirinya.
__ADS_1
"Ternyata begitu. Tidak heran kenapa kau menolakku secara terang-terangan. Tidak masalah, tetapi kau jangan salahkan aku bila kau sering mendapatkan kejadian tidak terduga yang mungkin saja dapat menghancurkan klinikmu." Leyna menggertak Andressa menggunakan aura membunuh nan kuat.
Andressa tak gentar menghadapi gertakan dari Leyna.
"Saya tidak takut karena saya yakin kalau Anda takkan bisa menyentuh klinik saya apalagi menghancurkannya."
Kemudian Andressa bangkit dari tempat duduk.
"Saya pamit undur diri. Tolong jangan mencoba-coba mengancam saya menggunakan gertakan murahan seperti tadi. Saya tidak tahu ke depannya saya bisa segila apa bila Anda berupaya menyentuh wilayah kekuasaan saya," tekan Andressa sekaligus memberi peringatan.
Andressa beranjak pergi meninggalkan ruangan tanpa menunggu respon selanjutnya dari Leyna. Gadis itu berlalu begitu saja hingga membuat Leyna jengkel akibat ulahnya itu.
"Sialan! Dasar wanita jal*ng! Tampaknya dia tidak punya rasa takut. Baiklah, aku akan tunjukkan padanya seberapa besar pengaruhku. Lagi pula dia hanya seorang rakyat jelata. Takkan ada yang mempermasalahkannya jika dia mati," gerutu Leyna mengepalkan kedua tangan.
Sementara itu, pada saat bersamaan, Lorcan menunggu Andressa keluar dari istana kediaman Leyna dalam kondisi hati yang didera kecemasan.
__ADS_1
"Apa yang terjadi di sana? Apa wanita itu akan menyerang atau membunuh Andressa?"