Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Lambang Kepala Elang


__ADS_3

"Apa yang terjadi padaku? Kenapa jantungku tiba-tiba sakit begini?"


Andressa mengeluh pedih menyiksa jantung. Lalu tatkala ia berbalik badan menghadap cermin rias, Andressa melihat pantulan tubuhnya. Sejenak ia terdiam mendapati jantungnya bersinar serta terlihat aliran mana yang sangat lancar memenuhi sekujur badan.


"Hah? Tunggu sebentar!" Andressa mendekati cermin rias, melihat dirinya lebih dekat. "Inti manaku semakin terbuka dan kenapa semakin banyak mana melimpahi tubuhku? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Tanpa berpikir lama, Andressa bergegas menuju balkon kamar. Alangkah terkejutnya ia menyaksikan berbagai warna mana terbang di udara. Mana-mana itu entah terbang ke mana, tetapi yang jelas sebagian dari energi mana tersebut berkumpul di tubuhnya.


"Jangan-jangan mungkinkah dinding pembatas dimensi semakin besar keretakannya? Apa yang dilakukan Lion dan rekannya di sana? Mengapa mereka tidak mencegah hal ini terjadi?"


Andressa menderita syok cukup berat. Dia tidak percaya terhadap apa yang ada di depan mata.


"Sepertinya aku harus menenangkan diri. Aku tidak bisa berpikir jernih kalau begini," gumam Andressa yang pada akhirnya tanpa sengaja tertidur kala didera pikiran rumit.


Pada keesokan hari, Andressa terbangun lebih pagi. Gadis itu bangun dalam kondisi pikiran yang masih kacau.


"Sial! Bisa-bisanya aku tertidur."


Kemudian tak berselang lama, Amelia masuk ke dalam kamar membawakan sarapan untuk Andressa.

__ADS_1


"Nona, Anda sudah bangun?"


Andressa spontan menatap Amelia.


"Ya, aku baru saja bangun. Tumben sekali kau yang mengantar sarapan. Mana pelayan yang biasanya?" tanya Andressa.


"Saya ingin bertemu Anda, jadi sekalian saja saya membawa sarapan untuk Anda," jawab Amelia sembari menaruh nampan makanan di atas meja.


"Oh begitu rupanya. Lalu apa yang mau kau bicarakan denganku?"


"Nona, semalam di klinik ada penyusup."


"Penyusup? Apa kalian berhasil menangkap penyusupnya? Apa yang dilakukan penyusup itu di klinik?" cecar Andressa.


"Penyusupnya satu orang, untung saja dia belum melakukan apa pun terhadap klinik. Dia ketahuan oleh kesatria begitu hendak menyelinap lewat pintu belakang. Namun, kesatria tak mampu menahannya dan bajing*n itu berhasil kabur," jelas Amelia dibubuhi sedikit emosi.


Semakin banyak masalah yang berdatangan kian hari. Andressa sampai berpikir bahwa dia tidak punya kesempatan untuk bernapas.


"Apa tidak ada satu pun jejak yang mereka tinggalkan?"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Amelia mengeluarkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Andressa.


"Sebenarnya tadi malam kesatria menemukan ini. Saya disuruh menyerahkannya kepada Anda."


Amelia memberikan sebilah belati kepada Andressa.


"Belati?" Andressa mengambil belati tersebut. "Ada apa dengan belati ini?"


Tatkala Andressa sedang memeriksa belati itu, ia menemukan sebuah lambang di gagang belati. Lambang bergambar kepala burung elang.


"Lambang apa ini? Aku baru pertama kali melihatnya. Mungkinkah penyusup ini berasal dari suatu organisasi? Ah, tunggu dulu. Kelompok pembunuh yang kemarin hendak membunuhku juga punya lambang ini di jubah mereka," lanjut Andressa berucap.


"Anda menyadarinya kan? Sejujurnya, Nona, ada salah satu kesatria yang pernah mendengar desas-desus tentang sebuah kelompok berlambang kepala elang yang bergerak secara kotor di wilayah lain."


"Benarkah? Apa kau bisa menjelaskannya kepadaku? Oh, tidak. Suruh kesatria yang kau maksudkan itu kemari. Biar aku sendiri yang bertanya kepadanya. Aku perlu memastikan sesuatu hal yang juga berkaitan dengan lambang ini."


Amelia mengangguk mematuhi perkataan Andressa.


"Baik, tolong tunggu sebentar. Saya akan segera memanggilnya kemari."

__ADS_1


__ADS_2