Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 98


__ADS_3

Gugup dan takut. Itulah yang Amrita rasakan saat ini. Ibu dua anak itu sedang berada di parkiran Fakultas Mipa bersama suami dan kedua anaknya. Amrita mengenakan baju putih dan rok hitam. Karena hari ini wanita itu akan ujian proposal bersama seniornya. Sementara Aziz, pria itu meminta izin untuk memindahkan jadwal tugasnya menjadi malam.


"Mama, belajar?" tanya Fattan menatap mamanya yang terlihat serius membaca proposal di dalam mobil.


"Iya Sayang" balas Amrita tersenyum.


"Sayang. Jangan lupa berdoa sebelum kamu mempresentasikan proposal mu nanti" ucap Aziz mengingatkan.


"Iya, Mas" balas Amrita tersenyum. "Mas, aku turun dulu ya, mau angkat parsel" sambungnya setelah melihat mobil Avanza berhenti di depan ruangan kosong dua.


"Nanti aku bantu" kata Aziz. Dia dan dan istrinya pun turun dari mobil. Amrita lebih dulu menghampiri mobil Avanza, sementara Aziz menurunkan Fattan dan Fadila dari mobil.


"Kakak..." panggil Fakri. "Kakak jagain Fattan dan Fadila saja. Nanti aku dan teman-temanku yang bantu Amrita" sambungnya menghampiri mobil yang akan disamperin kakak iparnya.


"Iya, Dek" balas Aziz. Aziz mengajak kedua anaknya duduk di tempat duduk yang ada di depan Fakultas Teknik.


Setelah mengangkat parsel dan meletakkannya di depan ruang seminar, Amrita menghampiri suami dan anaknya. "Mas, aku masuk ke dalam ruang seminar dulu ya. Fattan, Fadila, Mama belajar dulu ya Sayang" ujarnya.


"Iya Mama. Semangat belajar" balas Fattan tersenyum lebar.


"Mama, jangan lupa baca doa"ujar Fadila tersenyum.


Amrita tersenyum mengangguk lalu kembali ke Fakultas Mipa. Beberapa menit setelahnya, terlihat beberapa dosen masuk ke dalam ruang seminar. Di dalam ruang seminar, ada lima mahasiswa mengenakan baju kemeja putih dan rok hitam. Diantara mereka, ada tiga yang naik proposal dan ada dua yang seminar hasil.


Aziz mengajak kedua anaknya ke depan ruang seminar. Mereka duduk bersama dengan teman-teman Amrita, yaitu Hanin, Ade, Fakri, Affi, Maya, dan yang lainnya. Banyak pasang mata yang menatap Aziz. Menatap takjub pria yang masuk dalam kategori pria idaman itu. Sementara Aziz hanya duduk diam sambil memainkan ponselnya. Tanpa mereka sadari, Fattan dan Fadila berjalan dan berdiri di depan pintu ruang seminar yang pintunya tidak tertutup.


"Mama... semangat...!" teriak Fadila saat giliran mamanya mempresentasikan power pointnya.


Semua pembimbing yang ada di dalam ruang seminar menoleh ke arah pintu. Dilihatnya dua anak kembar tersenyum menatap mereka semua. Sementara Amrita memberi kode pada kedua anaknya untuk diam dan jangan berdiri di depan pintu. Kedua anak itu mengangguk dan berencana pergi namun dicegah oleh Bu Fauziah yang sementara ada di dalam ruang seminar sebagai penguji salah satu mahasiswa seminar hasil.


Amrita dipersilahkan untuk memaparkan rancangan penelitiannya lewat slide Power Point. Sementara Fadila dan Fattan duduk di kursi samping Ibu Fauziah. Kedua anak kecil itu begitu fokus menatap Mama mereka di depan sana. Di luar, Aziz berharap kedua anaknya itu keluar tapi keduanya sibuk memperhatikan Mama mereka.

__ADS_1


--


Pukul 13:12 PM


Amrita dan teman-temannya sedang berdiri di depan Auditorium. Mereka sedang berfoto, mengabadikan momen bahagia bersama. Setelah berfoto, Amrita menghampiri suami dan anaknya yang tengah menunggunya di mobil. Sementara Hanin dan Fakri sibuk mengangkat kado pemberian dari teman-teman mereka.


"Kakak, tolong buka bagasinya" pinta Fakri.


"Tunggu sebentar" balas Aziz lalu turun dari mobil. "Banyak sekali kadonya" gumamnya.


"Biasa, Kak. Mantan preman banyak temannya" balas Fakri yang dibalas tawa kecil oleh Hanin dan Amrita.


"Fakri, Hanin, terima kasih ya Dek. Kami pulang duluan. Kasihan Fattan dan Fadila, mereka sudah mengantuk" jelas Aziz.


"Teman-teman, aku pulang duluan ya. Terima kasih untuk waktu dan kadonya" pamit Amrita pada teman-temannya.


"Iya, Amrita. Hati-hati ya" balas Maya dan teman temannya yang lain.


"Terima kasih ya, Mas. Sudah mau luangkan waktu untuk menemaniku melewati masa tegang tadi" ucap Amrita.


"Sama-sama, Sayang. Kamu mau apa?" tanya Aziz.


"Aku mau makan bakso" balas Amrita tersenyum.


"Mau dibungkus atau makan di warung?" tanya Aziz sambil menatap lurus ke depan.


"Bungkus saja, Mas. Kasihan anak-anak sudah tidur. Mereka pasti lelah berlari lari di kampus" balas Amrita.


Aziz menepikan mobilnya dipinggiran jalan. Tepatnya di depan warung bakso. "Kamu tunggu di sini saja" titah Aziz lalu keluar dari mobil. Beberapa menit setelahnya, Aziz keluar dari warung bakso lalu membuka bagasi dan meletakkan bakso di dalam bagasi.


"Kalau kamu lelah, kamu istrahat saja. Nanti aku bangunin kalau sudah sampai" ujar Aziz sambil menyalakan mesin mobilnya.

__ADS_1


Perumahan Citraland Hertasning nomor A19


"Amrita..." panggil Mahdania.


Amrita menoleh ke arah suara. Dilihatnya Mahdania berjalan kearahnya. "Mbak, Nia. Ngapain siang-siang diluar?" tanya Amrita.


Mahdania tersenyum. "Mau ketemu kamu. Ini kado untukmu. Selamat meneliti ya. Tadi aku rencana ke kampus tapi aku nggak punya mood untuk menyetir" jelasnya.


"Subhanallah. Terima kasih banyak, Mbak" ucap Amrita tersenyum lebar.


"Iya, sama-sama. Aku masuk dulu ya. Mau tidur siang" pamit Mahdania tersenyum.


Setelah Mahdania masuk ke dalam rumahnya. Amrita membuka bagasi mobil lalu mengambil bakso yang tadi mereka beli. Sementara Aziz menggendong Fattan. Membawanya masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di atas tempat tidur. Kemudian keluar menggendong Fadila dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Mas, ayo kita makan bakso" ajak Amrita menggeser kursi di dapur.


"Aku masih kenyang, Sayang. Kamu saja yang makan. Oh ya, setelah makan, kamu mandi dan tidur siang" kata Aziz.


Amrita mengangguk paham. Sesuai perkataan suaminya, setelah makan ia masuk ke kamar. "Ini pertama kalinya aku lihat Mas Aziz tidur siang di hari senin. Biasanya hanya hari minggu" gumam Amrita menatap suaminya.


"Lebih baik aku mandi" gumamnya berlalu ke kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap-siap, Amrita ke kamar anaknya. Membenarkan selimut yang menutupi tubuh mungil kedua anaknya lalu keluar dari kamar dan masuk ke kamar sebelahnya menghampiri sang suami.


"Ayo sini" ajak Aziz tanpa membuka mata.


Amrita tersenyum lalu naik di atas tempat tidur. Berbaring miring menghadap sang suami. Dan tak lupa berbantalkan lengan kekarnya. "Selamat beristirahat, Mas" ucapnya ikut memejamkan mata.


Aziz memeluk erat istrinya. Keduanya pun tidur siang bersama. Begitupun dengan Fattan dan Fadila yang juga tidur siang di kamar sebelah. Kumandan Adzan ashar bergema di masjid. Membuat Fattan dan Fadila mengerjap. Begitupun di kamar sebelah, Amrita dan Aziz juga mengerjap dan berusaha bangun.


"Mama... shalat" teriak Fattan berjalan keluar mencari Mama dan papanya.


"Kakak, Mama dan Papa mana?" tanya Fadila.

__ADS_1


"Mungkin lagi shalat" balas Fattan. Dia dan adiknya pun naik di sofa dan duduk manis di sana.


__ADS_2