
Mendengar kabar tentang Fattan yang katanya sakit, Fadila dan suami serta anaknya datang ke rumah Fattan. Bukan hanya keluarga kecil Fadila saja yang datang, Papa Aziz pun datang membesuk putranya. Di ruang keluarga lantai dua, Fattan duduk di samping istrinya, Sakia. Duduk sambil menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
"Kenapa Kakak bisa sakit?" tanya Fadila.
"Efek rindu, Dek" balas Fattan manyun.
Mendengar jawaban Fattan, Sakia melotot menatap Fattan. Sementara Papa Aziz, Fadila dan Farhan tertawa mendengar jawaban Fattan.
"Kenapa? Lah memang kenyataannya sakit karena rindu. Memang sih cape juga tapi rasa rindu yang lebih besar" kata Fattan pada istrinya.
"Nggak gitu juga kali, Kak. Kalau mau jujur, cukup persoalan yang lain" kata Sakia cemberut. Dia malu, malu pada Papa Aziz, Fadila dan Farhan.
"Kia, Kakak senang melihat Kak Fattan sakit" ujar Fadila dengan santai.
"Ya ampun By. Kakak sendiri sakit kok kamu malah senang" sanggah Farhan menatap aneh istrinya.
"Terserah kalian mau bilang apa. Yang pasti aku senang Kak Fattan sakit karena rindu. Kan dari dulu aku udah ingatkan, hargai perasaan wanita yang mencintai dirinya, karena karma itu ada. Nah, buktinya sekarang Kak Fattan kena karma. Dia sakit karena rindu, rindu wanita yang dulu dia sakiti perasaannya" ujar Fadila. Lalu menatap Kakaknya.
"Rasain tuh" Fadila mengejek Kakaknya.
"Papa juga senang lihat Fattan sakit rindu. Biar dia tahu rasa!" ujar Papa Aziz. Dulunya, Papa Aziz sering memantau Sakia. Melihat tabiat Sakia yang sopan dan ramah, Papa Aziz berniat menjodohkan Fattan dengan Sakia. Tapi putranya itu justru memilih Sabila.
"Hahahahaha" Fattan terkekeh. "Anak dan Papa sama saja. Hanya Mas Farhan yang menyayangiku" kata Fattan tersenyum kecil.
"Cepat sembuh agar kamu bisa nyusul kami ke pernikahan Alif. Kami pamit pulang, mau packing barang untuk berangkat nanti subuh" kata Fadila.
"Kalian semua pergi?" tanya Fattan menatap Papa, Fadila dan Farhan.
"Tentu saja mereka pergi. Bahkan Kakek dan Nenek serta Oma Opa juga pergi. Bukan hanya keluarga kita, keluarga besar Kak Ferri juga pergi" Sakia yang menjawab. Wanita itu ingin pergi tapi melihat kondisi suaminya yang tidak memungkinkan maka dia hanya bisa mengirim gaun pernikahan untuk Nurin. Dan untuk Nada, orang tua Ferri sudah menyiapkan gaun pengantin untuk calon menantunya.
__ADS_1
......🍁🍁......
Malam hari, usai shalat isya, Fattan kembali menggauli istrinya setelah lima hari tanpa membelai ataupun dibelai. Benar apa kata pria itu, dia sakit karena rindu. Buktinya, dia sangat bersemangat saat menggauli istrinya. Setelah selesai, keduanya mandi junub.
"Dek, nanti bantu Kakak packing barang ya. Kakak bingung mau bawa pakaian apa saja" kata Fattan sambil mengenakan celana yang sudah disiapkan oleh istrinya.
"Iya" balas Sakia seraya mengambil hair dryer.
"Tunggu" seru Fattan berjalan menghampiri istrinya di samping tempat tidur. "Biar Kakak yang keringkan rambutmu" sambungnya tersenyum.
Sakia tersenyum dan membiarkan Fattan mengeringkan rambut panjang milik Sakia. Boleh dikata, Fattan masih bertelanjang dada. Setelah selesai, Fattan maupun Sakia mengambil koper dan membuka lemari pakaian, keduanya akan packing barang yang mau dibawa ke kampung Nurin dan Nada.
"Kakak, boleh nggak, baju yang Kia nggak gunakan lagi Kia bawa untuk adik Nurin dan Nada" izin Sakia.
Fattan tersenyum. "Bawa saja, itu jauh lebih bagus daripada Kia simpan di dalam lemari" balas Fattan.
Dua jam kemudian, tiga koper berjejer di samping lemari. Satu koper yang berisi pakaian Fattan, satu berisi pakaian dan peralatan Sakia dan satu berisi pakaian yang mau dibagikan ke keluarga Nurin dan Nada.
......🍁🍁......
Sementara perwakilan dari keluarga besar Ferri yaitu, Tante dan Om dari Alm Ayah Ferri. Dan juga Tante serta Om dari Tante Anita. Kedua keluarga itu menyewa satu speed boat yang bisa memuat enam puluh orang, yang akan mereka gunakan ke kampung dan memuat barang yang mereka beli untuk acara pernikahan nanti. Beras, gula, terigu, dan perlengkapan lainnya. Ya, semua kebutuhan itu dibeli di Kota Ambon karena di Kampung tidak ada toko besar.
"Satu jam lagi baru kita berangkat. Ayo kita ke rumah yang sana, rumah itu milik Tantenya Nurin" ajak Alif sambil menunjuk rumah yang lalu dia dan Ferri tempati untuk istirahat.
"Ayo" balas Kakek Sofyan. Kakek Sofyan dan keluarga besarnya serta keluarga besar Ferri beranjak dari duduk dan berjalan menuju rumah yang Alif tunjuk.
"Assalamualaikum, Bibi" Alif mengucap salam.
"Waalaikumsalam" sahut seorang wanita separuh baya menghampiri Alif dan yang lainnya. "Mari masuk" sambungnya tersenyum.
__ADS_1
Keluarga besar Alif dan keluarga besar Ferri masuk ke dalam rumah yang lumayan besar. Di dalam rumah tidak ada sofa, maupun kursi. Mau tidak mau, mereka semua melantai. Kakek Sofyan, Nenek Eka, begitu juga Opa Alif dan Oma Alif, keempat manusia yang tinggal tunggu ajal memilih merebahkan tubuh mereka di lantai.
"Pak, ada kamar kalau mau istirahat" kata Tantenya Nurin.
"Nggak perlu repot-repot. Kami bisa kok tidur melantai" balas Nenek Eka tersenyum.
Tante Nurin tersenyum lalu kebelakang dan kembali sembari membawa teh dan kue. "Silahkan diminum dan di makan teh dan kuenya. Maaf, hanya ini yang ada di rumah" ujarnya.
"Terima kasih ya, Bu" ujar Fadila tersenyum.
"Mama, aku mau kue yang itu" kata adiknya Ferri menunjuk kue serut. Mama Ferri pun mengambilkan kue serut untuk putrinya dan untuk Azam, putra Fadila.
"Mama, apa kalian masih ingat kue ini? Ini kue yang dulu dibawa oleh istri Pak Sam dan Pak Adis" kata Papa Aziz seraya mengambil satu kue serut lalu memperlihatkan pada Mama dan Papanya.
"Astaghfirullah" Alif menepuk jidatnya dengan pelan.
"Om, Alif lupa beritahu kalian. Sebenarnya, saat Alif sampai di Kampung Nurin, ada dua orang pria separuh baya dan Ibu-Ibu datang ke rumah orang tua Nada, mereka mencari ku. Orang-orang di kampung memanggilnya Sam dan Adis" ungkap Alif.
"Mereka bertanya padaku, nama orang tua, nama kakek dan alamat tempat tinggal orang tua serta alamat tempat tinggal Om. Ya sudah, ku beritahu semuanya. Malam itu juga, mereka memanggilku tinggal bersama mereka. Mau tidak mau, aku dan Ferri ikut bersama mereka. Katanya sih, mereka mengenal Om, Kakek dan Nenek" jelas Alif.
"Iya, kami mengenalnya" ujar Papa Aziz antusias. Akhirnya, dia bisa bertemu Putri Akila dan si kembar Zain dan Zian.
Sejam telah berlalu, keluarga besar Ferri dan keluarga besar Alif sudah berada di dalam speed boat. Mereka tampak senang, secara, ini adalah perjalanan pertama mereka menggunakan speed boat dengan waktu perjalanan empat jam.
"Kia, anggap saja kita pergi bulan madu" bisik Fattan.
"Hahahaha" Fadila tertawa. Wanita itu mendengar apa yang dibisikkan Kakaknya di telinga Sakia.
"Mana ada orang bulan madu di kampung. Yang ada orang kampung pergi ke Kota. Kak Fattan semakin hari semakin aneh. Dasar pria nggak romantis" sindir Fadila yang dibalas tawa oleh keluarga besar mereka dan keluarga besar Ferri.
__ADS_1
"Ini telinga dan mulut tajam sekali sih!!" ketus Fattan seraya menjewer kuping adiknya. Sekalipun Fadila menggunakan jilbab tapi kupingnya masih bisa dijewer oleh Fattan.