
Safira memakirkan mobilnya di parkiran rumah sakit, lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit menuju ruangannya. Sepanjang langkahnya menelusuri lorong rumah sakit, wanita itu terus tersenyum licik.
"Tak mengapa bagiku jika tak bisa memilikimu, tapi aku akan terus berusaha membuat rumah tanggamu kacau balau. Kita lihat saja nanti, bukan Safira namanya jika dia akan diam dan membiarkan hatinya terluka" batin Safira.
Safira meraih handle pintu lalu membukanya. Kemudian masuk dan duduk cantik di kursinya. Sebelum menjalankan aksinya, wanita itu mengambil stetoskop dan keluar dari ruangannya. Dan mulai menjalankan tugasnya sebagai asisten dokter.
Sementara di tempat lain, Aziz sedang mengemudi menuju tempat kerja. Sekali kali dia tersenyum mengingat awal mula bertemu Amrita. "Sepertinya aku mulai gila" gumam Aziz lalu terkekeh.
Aziz memakirkan mobilnya di samping mobil sahabatnya. Kemudian ia keluar dan masuk ke dalam rumah sakit. Seperti biasa, candaan dari Pa Berti selalu saja ada.
"Assalamualaikum, Dok. Senyum pagi ini sangat berbeda ya. Hehehe" ujar Pa Berti terkekeh.
"Waalaikumsalam. Hahahaha, biasa Pak" balas Aziz tersenyum. "Pak, saya kembali bekerja dulu. Selamat bertugas" ujar Aziz kemudian pergi meninggalkan Pak Berti.
Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)
Aziz masuk ke ruangnnya dan beristrahat sejenak sambil melihat lihat story di watshap. Tatapannya terhenti pada satu story dengan nama kontak Ibu. Jarinya menekan story tersebut lalu membaca isi story yang ada.
"Terima kasih putra sulung tercintaku, Ibu sudah sembuh sekarang. Terima kasih untuk obatnya. Dan terima kasih untuk menantu kesayanganku, Love love love untukmu Sayang (Smile Love)"
Aziz terkekeh membaca story ibunya. Senyumnya sedikit memudar, dan terlihat kerutan di dahinya. Dengan segera, ia membuka story yang baru beberapa detik yang lalu.
"Sebelas duabelas" tulis Pa Sofyan pada postingannya. Dalam postingannya, Pa Sofyan memasukan foto dirinya dan putranya, Fakri. Mereka mengenakan baju dengan model yang sama. Terlihat Pa Sofyan tersenyum bahagia sedangkan Fakri nampak cemberut.
"Hahahaha. Ada-ada saja Papa" gumam Aziz.
Aziz meletakkan ponsel dan dompetnya di atas meja. Lalu mengambil stetoskop dan keluar dari ruangannya. Sepanjang jalan menuju ruangan kelas satu, dia selalu menyunggingkan senyum. "Semangat Aziz. Ada istri dan keluarga yang harus kamu bahagiakan" batinnya.
--
Perumahan Citraland Hertasning
Pukul 10:21 PM
Amrita masih meringkuk memeluk bantal gulingnya. Wanita itu tahu bahwa hari ini ada acara di Auditorium, sudah pasti semua dosen akan libur mengajar, karena acara dimulai dari pagi hingga sore hari.
Drt drt drt... Ponsel Amrita berdering. Amrita meraih ponselnya lalu menjawab panggilan telepon tanpa melihat siapa yang meneleponnya. "Hallo" sapa Amrita.
__ADS_1
"Aku, Affi dan Safna ada di depan rumahmu" ujar Hanin.
"Masuk saja, sepertinya pintu tidak terkunci" balas Amrita.
Tut tut tut... Hanin memutuskan panggilan telepon lalu membuka pintu rumah. Dan benar saja, pintunya tidak terkunci. Hanin dan teman temannya pun masuk ke dalam lalu duduk di ruang tengah.
"Subhanallah... tampan sekali suaminya Amrita. Mana suaminya dokter lagi. Fiks, sepulang dari sini aku mau temui ibuku, memintanya mencarikan aku calon suami dokter yang tampan seperti suaminya Amrita" ujar Safna tersenyum. Safna adalah teman sekelompok Amrita.
"Itulah rezeki. Hidup yatim piatu bukan berarti akan menderita selamanya. Memang iya sih, ada juga orang yang mederita tapi tidak semuanya. Ya.., sepert Amrita. Aku senang melihat orang-orang yang seperti Amrita mendapatkan kebahagiaan" timpal Affi, yang juga teman sekelompok Amrita.
Safna dan Affi memiliki orang tua yang bergelimang harta. Rumah mereka pun sangat luas dan sangat besar. Bahkan, orang tua keduanya memiliki usaha di mana-mana.
"Safna, Affi, kalian mau ngak kita patungan uang buat beli pisang coklat dan brownis di grab. Dan juga minuman dingin. Mau tidak? tanya Hanin.
"Aku setuju" balas Safna.
"Aku juga mau" balas Affi.
"Aku juga mau..." teriak Amrita dari tangga.
"Apa tidak ada film lain selain itu!" ketus Hanin.
"Bagaiman kalau kita nonton Drama Korea saja. Kebetulan hardisku ada di tas" ucap Safna.
"Nah, kalau itu aku mau" ujar Hanin tersenyum.
Safna mengambil hardis di dalam totebagnya sedangkan Hanin mengambil leptopnya di dalam tas. Saat sedang nonton Drama Korea K2, terdengar kalakson motor diluar, Hanin beranjak dari sofa lalu keluar mengambil pesanan mereka. Kemudian masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan yang lain.
---
Rumah Sakit Awal Bros
Pukul 01:13 PM
Safira masuk ke dalam ruang kerja Aziz. Lalu mengambil sesuatu dari dalam jas yang ia kenakan, kemudian meletakkannya di dalam dompet milik Aziz.
"Hahahaha. Kita lihat saja nanti, sepulang dari sini kau akan bertengkar dengan istrimu" batin Safira tersenyum licik.
__ADS_1
Safira bergegas keluar sebelum Aziz kembali. Di waktu bersamaan, Aher melihat Safira keluar dari ruangan sahabatnya. Aher penasaran lalu masuk ke dalam ruangan sahabatnya.
"Dia terlihat mencurigakan tapi tidak ada apa-apa di sini. Lalu apa yang Safira lakukan di sini?" gumam Aziz menerka nerka apa yang sebenarnya dilakukan Safira.
---
Pukul lima sore, Aziz Aher dan Safira kembali ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang, Aziz menepikan mobilnya di pinggiran jalan. Lalu turun membeli gorengan untuk di bawa pulang.
"Semoga Amrita suka" gumam Aziz.
"Beli tahu isi, bakwan, suku dan moleng. Masing-masing 4 ribu ya Pak"
"Iya, Mas" balas penjual gorengan.
Selang beberapa puluh detik. "Mas, ini pesannya" ujar Mas penjual gorengan.
Aziz menyerahkan uang dua puluh ribu lalu mengambil pesanannya. "Terima kasih ya Pak. Ambil saja kembaliannya" ujar Aziz tersenyum.
Mobil melaju dengan kecepatn tinggi menuju
Perumahan Citraland Hertasning. Tak membutuhkan waktu lama, Aziz pun sampai di rumah. Dengan segera, ia keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Apa itu, Mas?" tanya Amrita menatap kresek hitam yang di tenteng suaminya.
"Gorengan. Cepat ambil piring dan buatkan aku kopi" kata Aziz mengambil tempat di sisi istrinya.
"Iya, Mas" ucap Amrita sambil beranjak dari duduknya.
Beberapa menit setelahnya, Amrita kembali ke ruang tengah. Dibawanya mangkuk keramik besar dan segelas kopi. "Ini Mas," ucap Amrita.
"Pindahkan gorengan itu ke dalam mangkuk dan tunggu Mas mandi setelah itu kita makan bersama" jelas Aziz. Lalu beranjak dari sofa dan lupa mengambil tasnya.
Lima belas menit setelahnya, Aziz keluar dari kamar lalu menghampiri istrinya. Terlihat kerutan di keningnya saat melihat tatapan tak biasa dari istrinya.
__ADS_1