Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 73


__ADS_3

Sepulang dari tanjung bayam, Amrita dan Aziz memilih beristrahat di kamar. Sementara Aher memilih duduk di kursi kolam renang sembari menatap foto Madania, saat mereka di tanjung bayam. Aher tersenyum menatap fotonya bersama sang mantan kekasih.


"Madania, cintaku. Jika merelakanmu adalah bukti cinta, maka akan aku lakukan. Aku akan hadir di hari bahagiamu. Memberimu kejutan yang istimewa. Maafkan aku yang mengajakmu pacaran namun gagal menikahimu" gumam Aher sembari menatap foto Madania.


Drt drt drt... ponsel Aher berdering. Tertera bacaan Papa di panggilan masuk. "Papa, ada apa Papa menghubungiku" gumam Aziz.


"Kenapa baru diangkat?" tanya seorang pria paruh baya diseberang telepon, saat panggilannya dijawab oleh anaknya.


"Maaf, Pa. Aku lagi galau" balas Aher dengan pelan. "Oh ya, Papa dan Mama di mana sekarang?" tanyanya.


"Galau terus. Hahaha" ledek Pak Zainal, Papa kandung Aher. "Papa dan Mama di rumah. Nanti malam kamu harus pulang, jika tidak, kamu akan tahu sendiri akibatnya" sambung Pa Zainal dengan nada mengancam.


"Papa, kenapa kalian baru pulang sih Pa. Apa Papa tahu, wanita yang pernah aku kenalkan pada kalian sudah di lamar orang lain Pa..." curhat Aher dengan sedih.


"Hahahahaha" tawa Zainal pecah. "Lalu kenapa kamu sedih? Mencintai tak harus memiliki, Aher" sambung Pak Zainal dengan santai.


"Gampang ya Pa kalau ngomong!" ketus Aher. "Papa tidak berada di posisiku sih. Coba Papa di posisiku, aku yakin Papa sudah bunuh diri" ledeknya.


"Papa tak sebodoh kamu. Buktinya, Papa menikah dengan wanita yang Papa cintai" sindir Pak Zainal.


Deg! Aher terdiam sesaat. Bukan dia bodoh, hanya saja uang yang dia kumpulkan belum cukup empat ratus juta. Bukannya Aher terbebani hanya saja ia ingin menikahi Madania dengan mahar yang sesuai. Anggap saja ia menghargai Madania yang menjaga martabatnya sebagai seorang wanita.


"Papa minta nanti malam kamu pulang. Jika tidak, maka kau akan menyesal seumur hidupmu. Papa tidak mengacammu tapi ini demi kebahagiaanmu. Papa matikan teleponnya ya. Jangan lupa pulang nanti malam" tutur Pa Zainal lalu memutuskan panggilan.


"Ya Allah, kok Papa tega menyindirku seperti itu" gumam Aher cemberut. "Lebih baik aku tidur di sini saja, toh mendung jadi ngak panas" sambungnya lalu memejamkan mata.


...ΩΩΩ...


Kumandan azan Magrib yang merdu kembali terdengar menggema di wilayah Makassar dan sekitarnya. Panggilan yang menyejukkan hati itu membangunkan Aziz dan Amrita. Dengan segera keduanya bangun dan langsung berlari ke kamar mandi.


"Mas... kita mandi berdua ya..." ujar Amrita sedikit berteriak karena Aziz hendak menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Iya Sayang" balas Aziz tersenyum.


Setelah mandi dan berwudhu, Amrita mengenakan baju dan celana lalu mengenakan mukena. Sementara Aziz bersiap-siap mengenakan baju koko warna putih lengan panjang dan celana panjang yang dilapisi sarung. Niatnya sholat berjama'ah di masjid namun langit tiba-tiba berawan gelap hingga mencurahkan hujan di malam hari.


"Kita sholat berjama'ah ya" ujar Aziz tersenyum. Lalu bersiap-siap dan mulai mengumandankan azan dengan suara pelan. Setelah azan, ia melantunkan iqamah.


Amrita berdiri dibelakang suaminya. Dia dan Aziz pun memulai shalat magrib berjama'ah. Setelah selesai, seperti biasanya, keduanya akan mengaji hingga waktu isya tiba.


---


Amrita dan Aziz ke luar dari kamar usai melaksanakan shalat isya. Keduanya mengerutkan kening mereka saat mendengar nada dering dari arah kolam renang. Dengan langkah pelan Aziz berjalan menuju kolam renang. Dilihatnya Aher sedang tertidur pulas.


"Astagfirullah. Jangan bilang dia melewatkan shalat magrib dan isya" gumam Aziz sambil mendekati sahabatnya.


"Aher bangun. Ya Allah... bisa bisanya kamu tidur di saat orang shalat magrib dan isya" kata Aziz sembari menarik baju sahabatnya.


"Hmmm, sudah jam berapa sekarang?" tanya Aher dengan serak.


"Apa! Jam delapan? Mati aku, papaku akan marah besar" gumam Aher dengan mata yang terbuka lebar. "Aziz, aku pamit pulang ya" ujarnya lalu bergegas keluar dari rumah.


Setelah Aher pergi, Aziz menghampiri istrinya yang sedang di dapur. "Kamu kenapa?" tanya Aziz mengerutkan keningnya.


"Ikan, sayur dan telur habis. Kita mau makan apa sekarang" balas Amrita cemberut.


"Ya sudah, kita pesan makanan saja. Nanti besok, sepulang dari kampus kamu singga di pasar" kata Aziz agar istrinya tenang dan tidak cemberut lagi.


"Iya Mas. Ayo kita pesan makanan, aku udah lapar" ajak Amrita sambil menggandeng tangan suaminya. "Mas tunggu di ruang tengah, aku ambil ponsel dulu" sambungnya lalu naik ke lantai dua. Ia mengambil ponsel suaminya dan juga ponselnya.


--


Meja makan

__ADS_1


Aziz dan Amrita makan malam dengan menu ayam lalapan yang mereka pesan di grabfood. Saat makan, keduanya diam dan fokus dengan makanan yang ada dihadapan mereka.


"Mas, setelah ini kita istrahat lalu tidur ya" ujar Amrita setelah menghabiskan makanannya.


"Iya Sayang" balas Aziz lalu mengambil air minum dan meneguknya beberapa kali.


Amrita membereskan piring kotor dan mencucinya. Sementara Aziz langsung berdiri dan berjalan ke ruang tengah. Di ruang tengah, Aziz berbalas pesan dengan rekan kerjanya.


"Mas, lagi apa?" tanya Amrita mengambil tempat di samping kanan suaminya.


"Berbalas pesan dengan rekan kerja yang lain" balas Aziz tersenyum.


Cup! sekilas Amrita mencium pipi suaminya.


Aziz tersenyum mendapatkan ciuman yang tiba-tiba. Sementara Amrita menanggap hal itu biasa saja. Bahkan ia ingin terus dan terus mencium suaminya.


"Senyum-senyum bae, Mas" ledek Amrita.


"Hahahahaha" tawa Aziz pecah sambil meletakan ponselnya di atas meja. Lalu menatap manik mata istrinya.


"Melihat perubahanmu yang sekarang membuatku bingung namun aku suka. Bahkan aku ingin membawamu ke tempat ruqyah tapi aku menolak niatku. Aku lebih suka kau main nyosor begini" ungkap Aziz tersenyum.


"Hahahahaha. akupun tak tahu kenapa Mas. Yang pasti aku ingin menciummu terus menerus. Ingin mandi bersamamu, tidur dipeluk dan segalanya denganmu" jelas Amrita lalu memeluk suaminya.


"Kalau diingat-ingat dia sudah telat haid. Atau aku yang salah hitung?" batin Aziz sembari mengelus rambut istrinya. "Tapi kalau dianalisa dari penjelasannya barusan, terlebih lagi kalau dilihat-lihat pipinya yang semakin cabby dan badannya semakin berisi, aku rasa dia sedang mengandung" ucapnya dalam hati.


"Mas, ayo kita tidur" ajak Amrita seraya menggandeng tangan suaminya. "Jangan dilepas ya, biar ngak direbut pelakor" ujarnya.


Aziz kembali tersenyum dan membiarkan istrinya menggandeng tangannya. Sesampainya di kamar, Amrita merebahkan tubuhnya dipembaringan. Sementara Aziz bersandar di kepala tempat tidur lalu mengambil kalender kecil di atas nakas. Lalu menatap bulan dan tanggal.


"Terakhir dia haid saat pulang dari mendaki. Dan sampai sekarang dia belum haid juga. Bukannya ini sudah beberapa bulan. Ya Allah, bisa-bisanya aku dan Amrita tidak memperhatikan ini. Apa harus menunggu dia mual-mual baru aku dan dia menyadari kehamilannya" batin Aziz.

__ADS_1


"Mas, jangan lupa peluk aku dari belakang ya. Aku bosan dipeluk dari depan terus" pinta Amrita lalu membelakangi suaminya.


__ADS_2