
Aziz baru saja tiba di rumah setelah shalat berjamaah di masjid. Pria itu masuk ke dalam rumah dan mendapati keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Terlihat Mbak Ima dan Tante Eka sedang nonton sinetron di Chanel Indosiar. Fadila dan Fattan sedang belajar menulis. Sementara Amrita membantu Fakri mengerjakan skripsi. Dan Pa Sofyan sedang sibuk dengan gawai nya.
"Assalamualaikum" ucap Aziz menghampiri keluarganya.
"Waalaikumsalam" balas semuanya bersamaan, menoleh ke arah suara lalu kembali dengan kegiatan masing-masing.
"Sebegitu seriusnya mereka" gumam Aziz seakan berbisik.
"Mas, cepat ganti pakaianmu. Kami semua sudah lapar. Sejak tadi menunggu tapi Mas tak kunjung tiba di rumah" titah Amrita tanpa ekspresi.
Aziz tersenyum lalu masuk ke dalam kamar. Setelah mengganti pakaiannya, pria langsung menghampiri keluarganya. "Ayo kita makan" ajaknya.
Tiba-tiba televisi dimatikan oleh Tante Eka. Fattan dan Fadila menutup buku mereka. Fakri memasang mode sleep pada leptop nya dan Pa Sofyan mematikan layar ponselnya kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Semuanya berjalan menuju meja makan tanpa mengajak Aziz.
"Ada apa dengan mereka? Apa aku membuat kesalahan? Bukannya aku hanya terlambat tiga puluh menit" gumam Aziz hampir tak terdengar. Lalu menyusul keluarganya di meja makan.
Di meja makan, tak ada yang mengajak Aziz berbicara. Saat Aziz menimpali canda dan gurauan yang diciptakan Pak Sofyan. Semua orang diam dan tak ingin merespon.
"Lihat saja nanti. Aku tidak mau lagi belikan baju lebaran untuk kalian" gumam Aziz hampir tak terdengar.
Degh!! Tante Eka tertegun melirik menantunya. Amrita memberi kode pada Ibu mertuanya. Agar wanita paruh baya itu mencari cara agar Aziz kembali menarik kata-katanya.
"Aziz, kamu tahu nggak. Tadi itu ada siaran langsung antara Real Madrid vs Chelsea. Berapa skor yang di dapat Real Madrid? 3-2. Real Madrid 3 dan Chelsea 2. Hebat kan tim Real Madrid" ungkap Tante Eka berbasa-basi.
"Jangan berbohong, Bu. Dua bulan lagi baru pertandingan" ucap Aziz dengan santai.
"Tajam sekali ingatannya" batin Tante Eka. Lalu memberi kode pada menantunya.
"Ehem-ehem" Amrita berdehem. "Mas, mau nambah ikan?" tanya Amrita.
"Kalau masih ada ya mau" balas Aziz. "Rasain kalian. Apa kalian pikir aku tidak punya senjata untuk membalas kalian" batin Aziz penuh kemenangan.
Amrita mengambil ikan panggang di dalam happy cell. Lalu meletakkannya di piring dan memberikannya pada Aziz. Sementara Aziz masih tanpa ekspresi namun dalam hatinya bersorak girang.
__ADS_1
"Alhamdulilah. Nggak sia-sia aku bergumam seperti tadi" batin Aziz.
Setelah menghabiskan dua ekor ikan panggang kembung. Aziz beranjak dari kursi lalu mencuci tangannya di wastafel. Kemudian pergi di ruang keluarga. Di meja makan, Fattan dan Fadila nampak cemberut menatap piring ikan yang sudah bersih. Kedua anak itu masih mau nambah ikan tapi ikannya sudah dihabiskan sang Papa.
"Kakek juga mau nambah ikan?" tanya Fadila. Pak Sofyan mengangguk sedih. Membuat Tante Eka, Mbak Ima, Amrita dan Fakri tertawa terbahak-bahak.
"Papa. Tolong deh, jangan memasang ekspresi cemberut kek gitu. Papa mirip panda kalau kayak tadi" canda Fakri yang dibalas tawa oleh yang lain.
Di ruang keluarga, Aziz nampak penasaran mendengar keluarganya tertawa lepas di dapur. Dia pun berjalan mengendap-endap dan berusaha mencari tahu apa yang membuat mereka tertawa bahagia.
"Apa mereka menertawakan aku?" batin Aziz bertanya tanya.
Aziz melihat Papa dan adik serta kedua anaknya sedang beranjak dari kursi. Mereka berempat berjalan menuju ruang keluarga. Aziz yang tidak ingin ketahuan, pria itu berlari cepat dan duduk santai di sofa. Berusaha serefleks mungkin agar yang lainnya tidak curiga.
Di dapur, Amrita mencuci piring kotor dan Mbak Ima membersihkan meja. Sementara Tante Eka membilas piring lalu meletakkannya di rak piring. Setelah selesai, mereka menghampiri yang lainnya di ruang keluarga.
Fadila duduk bersila di atas permadani sambil memegang pensilnya. Lalu melirik semua orang dewasa yang ada diruang keluarga. Semuanya sedang bercanda gurau. Hanya Aziz saja yang sibuk dengan gawai nya.
"Semoga saja Papa mau baikan sama aku" gumam Fadila.
"---------" bisik Fadila.
"Ayo" ajak Fattan tersenyum. Fattan dan Fadila mendekati Papa Aziz.
"Papa" panggil Fadila.
Aziz menghentikan kegiatannya lalu menatap anaknya penuh tanya. "Ada apa Sayang?" tanya Aziz.
Fadila naik di atas sofa lalu meminta Papanya mendekat. Aziz mengerutkan kening namun menurut. Didekatkan telinganya pada putri tercintanya. "Aku dan Kakak mau obat yang seperti obatnya Mama. Yang coklat itu" bisik Fadila.
Tante Eka dan yang lainnya saling tatap. Mereka penasaran dengan apa yang dibisikkan Fadia. Sementara Aziz terkekeh mendengar apa yang inginkan putrinya.
"Sudah pandai ya sekarang" ucap Aziz menggelitik putrinya.
__ADS_1
"Hahahahahaha" tawa Fadila pecah. "Papa. Tolong kabulkan permintaanku" pinta Fadila cemberut.
"Oke tuan putri. Kita bertiga ke ruang tamu saja. Jangan di sini. Kalau di sini nanti cepat habis" kata Aziz lalu menggendong putrinya. "Fattan, ayo Sayang" ajak Aziz.
Sesampainya di ruang tamu, Aziz menurunkan putrinya. Lalu membantu Fattan naik ke sofa. Iapun duduk diantara Fattan dan Fadila. "Kita pesan berapa?" tanya Aziz.
"Kalau hanya untuk kita bertiga maka pesan satu saja. Kalau mau berbagi maka pesan empat" balas Fadila tersenyum.
"Anak pintar" ujar Aziz mengangguk lalu menggeser layar ponselnya. Sebelum memesan, Aziz membisikan sesuatu pada putra dan putrinya.
"Hahahaha. Oke Papa" balas Fattan dan Fadila. bersamaan.
"Brownies amanda original dua. Brownies pandan satu dan brownies strawberry satu. Tiga-tiganya untuk kita nanti sisanya kita simpan di kulkas" ucap Aziz sedikit memperbesar suaranya.
"Mereka tidak sadar kalau aku melihat mereka mengintip" batin Aziz.
Cukup lama menunggu. Bel rumah tiba-tiba berdentang. Aziz beranjak ke kamar mengambil dompetnya. Saat melewati ruang keluarga, terlihat Tante Eka, Pa Sofyan, Amrita dan Fakri salah tingkah. Sementara Mbak Ima serius menyaksikan sinetron di Chanel ANTV. Setelah mengambil uang di kamar, Aziz kembali ke ruang tamu lalu membuka pintu utama.
"Maaf lama" kata Aziz pada kurir yang mengantar pesanannya.
"Tidak apa-apa, Nak. Ini pesanannya, totalnya 150 ribu sudah sama ongkir" balas sang kurir seraya menyerahkan kresek yang bertuliskan Amanda Brownies.
"Terima kasih, Pak. Ambil saja uang kembaliannya. Anggap saja itu rezeki keluarga Bapak" kata Aziz. Mengikhlaskan uang lima puluh ribu untuk kurir.
"Alhamdulilah. Terima kasih banyak, Nak" ucap sang kurir yang sudah lumayan tua. Pria paruh baya itu tersenyum bahagia. "Saya pulang dulu" sambungnya dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca.
"Papa, kenapa Papa memberi Kakek itu uang?" tanya Fadila.
"Bagaimana perasaan Fadila saat Fadila lapar lalu ada orang yang memberi Fadila makanan?" tanya Aziz agar dengan mudah ia bisa memberi pemahaman pada putrinya.
"Aku pasti senang dan akan berterima kasih pada mereka" balas Fadila dengan antusias.
"Seperti itulah Kakek tadi. Dia butuh makanan dan dia butuh bantuan dari orang lain" jelas Aziz tersenyum.
__ADS_1
"Papa, aku ingin seperti Papa. Baik pada orang" ucap Fattan lalu memeluk lulut Papanya.