
"Oeek... oeek... oeek..."
"Oeek... oeek... oeek..."
Tangisan bayi kembar terdengar nyaring memenuhi ruangan yang cukup luas. Amrita merasa tubuhnya lemas, berjuang seorang diri tanpa bantuan bidan atau orang terdekatnya. Berkat doanya dan doa suaminya. Wanita itu melahirkan normal tanpa bantuan siapa-siapa.
Terdengar pintu rumah terbuka. Yang disusul suara langkah kaki terdengar terburu-buru. Selang beberap puluh detik, seorang pria berdiri di depan pintu kamar.
"Sayang" panggil Aziz hampir tak terdengar. Pria itu hampir saja pingsan melihat dua bayi di atas tempat tidur.
"Mas, anak kita sudah lahir" ujar Amrita dengan pelan.
Aziz masih diam tak bergeming. Baru kali ini pria itu melihat wanita melahirkan tanpa bantuan orang lain.Tangisan bayi kembar mengagetkan dirinya hingga tangisnya pun ikut pecah bersamaan dengan kedua tangis anaknya.
"Amrita... kamu baik-baik saja Sayang?" tanya Aziz memeriksa tubuh istrinya.
"Aku baik-baik saja, Mas" balas Amrita tersenyum.
Terdengar langkah kaki di luar. Lalu terdengar suara Tante Eka memanggil Pak Sofyan, memintanya agar mempercepat langkahnya. Tante Eka dan Pak Sofyan berlari masuk ke dalam rumah dan berhenti di depan kamar yang dilihat terbuka. Mata mereka membulat melihat bayi kembar di atas tempat tidur.
"Cucuku..." seru Tante Eka menghampiri cucu kembarnya.
"Ibu, tolong bersihkan anak-anak ku" pintah Amrita.
--
Pukul satu siang, di dalam rumah Amrita nampak ramai. Ada tetangga mereka yang datang berkunjung saat mendengar kabar bahagia itu. Semuanya terlihat bahagia dengan kehadiran bayi kembar yang cantik dan ganteng. Orang-orang akan mengucap Subhanallah bila melihat kedua bayi kembar itu. Hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, sungguh sangat menggemaskan.
"Bagaimana ceritanya kamu melahirkan tanpa bantuan?" tanya Aziz menemani istrinya di kamar.
"Hahahaha. Saat kamu pergi, aku mulai melihat tanda. Namun aku menganggap biasa karena menurutku, belum waktunya aku melahirkan. Tiba-tiba perutku mules, sesuatu di dalam perut mendesak ke luar. Dan saat aku berusaha berdiri, sesuatu di bawah sana terasa ada yang sobek. Aku mulai yakin, hari ini juga aku akan melahirkan. Dengan segera, aku memposisikan diriku seperti orang yang sedang melahirkan. Mengatur napas dan mulai mengejan" jelas Amrita.
"Alhamdulilah, Mas. Nggak lama aku mengejan anak kita lahir, tapi baru satu. Bebera belas menit setelahnya, perutku kembali mules dan ternyata bayi kita masih ada yang ke luar" ungkap Amrita.
__ADS_1
"Amrita, maafkan aku Sayang. Harusnya aku ada saat kamu bersalin" kata Aziz. Aziz meneteskan air mata haru. Allah mendengar doa-doanya. Mempermudah proses persalinan istrinya.
"Papa Aziz" panggil Aher yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Aher masuk bersama istrinya, Mahdania.
Aziz dan Amrita terkekeh. "Ada apa Om Aher?" tanya Aziz tersenyum.
"Bolehka aku mengendongnya?" tanya Mahdania. Seulas senyum tersungging dikedua sudut bibirnya.
"Silahkan Mbak" balas Amrita.
Aher menggendong bayi perempuan dan Mahdania menggendong bayi laki-laki. Saat kedua bayi itu memainkan bibir mereka bersamaan, Mahdania dan Aher tersenyum lebar. "Da, dia tersenyum" ucap Aher dengan gemes.
"Iya, By. Yang aku gendong juga tersenyum, sangat menggemaskan" balas Mahdania.
"Aziz, aku dan Mahdania mau bermalam di sini. Aku mau lihat keponakanku terus" ujar Aher dengan manja.
"Hahahaha. Apa kamu mau jadi baby sister anak ku?" tanya Aziz sekedar bercanda gurau.
"Jangan harap. Aku menantinya siang dan malam. Menantinya untuk tidur bersamaku di kamar" ujar Aziz. "Dan kamu, kamu mau membawanya tidur bersamamu? Jangan harap, Aher!" sambunya meledek.
"Hehehe" Aher kembali terkekeh. Sikembar yang nyaman digendong, tidak menangis sekalipun Aher berisik. Keduanya nyaman dalam gendongan Aher dan Mahdania.
Di ruang tengah, Pa Sofyan dan Tante Eka masih bercanda gurau dengan para tetangga. Di sana, tidak ada Hanin maupun Fakri. Kedua pasangan itu sedang mendaki bersama kerabat mereka dan juga senior Mapala. Berhubung kampus masih libur.
--
Usai shalat isya, Pa Sofyan dan Tante Eka makan malam berdua di meja makan. Sementara Aziz sedang mengaji disamping anak-anaknya. Dan Amrita sementara berbaring disamping kedua anaknya.
"Sayang, tidurlah jika kamu mengantuk" kata Aziz.
"Iya, Mas. Aku tidur duluan ya" balas Amrita kemudian memejamkan mata.
Setelah makan malam, Tante Eka dan suaminya ke kamar Amrita. Mereka melihat menantu dan juga kedua cucu mereka. Terlebih lagi anak perempuan yang selama ini dinantikan oleh kedua pasangan paruh baya itu. Tante Eka dan Pa Sofyan sangat bahagia. Mereka tidak dikaruniai anak perempuan namun dikaruniai cucu perempuan.
__ADS_1
"Aziz, Ibu dan Papa istrahat dulu ya. Panggil kami jika kamu butuh bantuan" kata Tante Eka sedikit memelankan suaranya.
"Iya, Bu" balas Aziz.
Rasanya Pa Sofyan tidak mau keluar dari kamar menantunya. Ia ingin berada di samping kedua cucunya dan tidur bersama kedua bayi mungil itu. Namun, Aziz yang dilanda kebahagiaan, pria itu tidak mau anaknya tidur bersama yang lain.
"Pa, masih ada waktu besok. Besok Papa bisa bermain dengan mereka. Sekarang Papa istrahat agar Papa sehat dan kuat. Ada dua cucu Papa, Papa akan menggendong keduanya bergantian dan itu butuh kesehatan tulang dan otot" jelas Aziz saat Pa Sofyan cemberut dan tidak mau pergi istrahat.
"Ayo Pa" ajak Tante Eka, menarik lengan suaminya.
"Ibu... Papa mau tidur sama cucu Papa..." rengek Pa Sofyan.
Aziz menghela napas kasar. Pria itu juga merasa nggak tega melihat papanya sedih. Ia pun memikirkan cara agar mereka bisa tidur bersama. Sofa bed, Aziz berencana menggeser sofa bed di samping kamar atau meletakannya di kamar. Namun niatnya ia urungkan karena papanya sudah mau tidur di kamar sebelah.
"Jaga cucu Papa dengan baik" ujar Pa Sofyan sebelum keluar dari kamar.
"Iya, Pa" balas Aziz tersenyum.
Aziz menggendong anaknya yang laki-laki dan menidurkannya di tempat tidur bayi. Kemudian menggendong anaknya yang perempuan dan menidurkannya disamping anak laki-lakinya. Tak lupa Aziz membenarkan kelambu tempat tidur anaknya. Lalu ia naik di kasur dan berbaring menatap langit-langit kamar.
"Mereka bertiga sudah tidur, saatnya aku ikut tidur" gumam Aziz.
---
Jam lima subuh, Tante Eka berkutak di dapur. Wanita paruh baya itu sibuk memasak untuk suami, anak dan menantunya. Sementara Pa Sofyan dan Aziz shalat berjamaah di masjid.
"Ibu masak apa?" tanya Amrita menghampiri Ibu mertuanya.
"Seadanya saja Sayang. Tempe, tahu, sayur dan telur. Ibu lagi mau rebus telur untuk kamu. Dan bikin sayur sop juga. Telur rebus dan sayur sop sangat bagus dikomsumsi oleh Ibu-Ibu yang baru melahirkan, apalagi Ibu yang menyusui" balas Tante Eka.
"Sekarang kamu ke kamar, jaga cucu Ibu" titah Tante Eka tersenyum.
Note: Untuk proses melahirkan itu saya ambil dari kisah nyata. Orang terdekat saya yang Alhamdulilah dia melahirkan tanpa merasakan sakit yang berlarut larut. Pagi dia masih jualan kue keliling kampung, pulang dari jualan kue dia langsung melihat tanda, seperti ada yang mendorong keluar di dalam rahim dan dia pun melahirkan seorang diri. 😊
__ADS_1