
Kampung Tiber
Di pesisir pantai, banyak masyarakat kampung Tiber yang sedang menunggu kedatangan keluarga besar Alif dan Ferri. Masyarakat sangat antusias menunggu kedatangan dua keluarga itu. Kenapa? Karena baru kali ini anak gadis dari kampung Tiber dilamar oleh anak orang kaya. Di tambah lagi lagi Pak Adis dan Pak Sam menyebarkan info tentang keluarga besar Alif, yang katanya mereka keluarga baik-baik. Masyarakat tidak merasa iri melainkan mereka sangat senang karena ada orang kaya yang mau menerima anak gadis dari kampung mereka.
"Mainom moia (Itu mereka)" kata Nurin pada orang tuanya. Wanita itu menggunakan bahasa daerah Kampung Tiber.
Speed boat yang ditumpangi dua keluarga mulai menepi di bibir pantai. Tak lama, terlihat Kakek Sofyan dan Nenek Eka turun dari speed boat yang disusul oleh yang lain.
"Subhanallah, di sini sangat indah" gumam Nenek Eka. Wanita tua itu mengedarkan pandangannya ke segala sudut. Mulai dari gunung hingga pantai. Ya, Kampung Tiber adalah kampung tergolong pulau kecil. Dimana masyarakat bisa melihat gunung juga bisa melihat laut. Jika ingin makan sayur, maka mereka akan ke kebun dan jika ingin makan ikan maka suami atau anak laki-laki akan menangkap ikan di laut.
"Kak Kia..." Nada dan Nurin berlari memeluk Sakia yang baru saja turun dari speed boat. "Kami kangen" kata Nurin meneteskan air mata.
"Kak Kia juga kangen" balas Sakia tersenyum membalas pelukan Nurin dan Nada.
Masyarakat yang melihat Sakia, Nada dan Nurin, mereka dapat menilai, bahwa info yang beredar memang betul. Terlebih lagi saat mereka melihat penampilan dua keluarga itu, berpakaian apa adanya.
"Minaaso ihulano, memang moiaia mia umela (Dilihat dari wajahnya, memang mereka orang baik" kata seorang wanita separuh baya yang tak lain adalah masyarakat Kampung Tiber.
"Kak Nada..." panggil Sukma, adik kandung Ferri yang baru berusia 5 tahun. Anak kecil itu berlari memeluk Nada. "Kak Nada akan menjadi Kakak Uma kan?" tanyanya serius.
Nada berjongkok lalu menggendong Sukma. "Iya, Sayang. Kakak akan menjadi Kakaknya Sukma. Apa Sukma senang?" tanya Nada.
"Sukma senang..." sorak Sukma melingkarkan kedua tangannya dileher Nada dan menenggelamkan wajahnya di pundak Nada.
Nada berjalan menghampiri Tante Anita, wanita yang akan menjadi Mama mertuanya. "Tante, kenapa Tante nggak bilang padaku" ujar Nada cemberut.
Tante Anita tersenyum. "Panggil Mama saja" katanya. "Kalau Mama beritahu Nada, nanti Ferri marah sama Mama" sambungnya mengelus kepala calon menantunya.
Keluarga besar Ferri singgah di rumah Pak Sam. Sementara Keluarga besar Alif singgah di rumah Pak Adis. Berhubung rumah Pak Adis tidak terlalu besar, maka keluarga Alif berpencar lagi. Sebagian dari keluar besar Alif tinggal di rumah si kembar Zain dan Zian, anak Pak Adis.
__ADS_1
......🍁🍁......
Esok harinya
"Ferri... apa kau lihat adikmu?" tanya Tante Anita.
Ferri yang baru saja pulang dari pantai, pria itu menggeleng bertanda tak tahu. "Mungkin lagi jalan sama Azam atau anaknya Tante Akila" kata Ferri.
"Mama... minta uang, aku mau beli nasi kuning di pasar" kata Sukma yang tiba-tiba datang entah dari mana anak itu.
"Beli nasi kuning? Memang Sukma tahu di mana pasar?" tanya Tante Anita.
Sukma mengangguk. "Ayo kita ke pasar, Ma. Kak Azam dan Tante ada di pasar" Sukma menarik tangan Mamanya.
"Tunggu Mama ambil uang" kata Tante Anita lalu masuk ke dalam rumah mengambil uang seratus ribu sebanyak tiga lembar.
Sementara di pasar, Sakia dan Fadila serta Nurin dan Nada sedang membeli roti untuk sarapan pagi. Banyak mata yang memandangi Sakia dan juga Fadila. Mereka takjub dengan penampilan Sakia dan Fadila yang berpakaian ala orang kampung, berpakaian seadanya.
"Di sana" Nada menunjuk penjual nasi kuning. "Nanti aku antar, Ma" katanya.
"Nurin, kamu temani Kak Kia dan Kak Fadila ya" kata Nada pada Nurin.
Nada dan Mama Anita serta Sukma berjalan menuju tempat penjual nasi kuning. "Kak Nada, nanti makan sama kami ya" pinta Sukma.
"Kalau sekarang belum bisa. Soalnya Mama dan Papa Kak Nada sedang menunggu Kakak pulang" jawab Nada tersenyum.
Sesampainya di tempat penjual nasi kuning, Tante Anita memesan dua puluh bungkus nasi kuning. Wanita itu memesan banyak karena cucu Pak Sam ada empat. Usai membeli nasi kuning, mereka kembali ke rumah Pak Sam. Di rumah, sudah ada Tante dan Om serta anak cucu Pak Sam.
"Ma, aku pulang dulu ya. Ntar dicariin Mama dan Papa" kata Nada.
__ADS_1
"Ambil ini" Tante Anita menyerahkan lima bungkus nasi kuning untuk menantunya.
"Nggak perlu, Ma" tolak Nada.
"Ambil" kata Tante Anita dengan tegas. Nada menghela napas lalu mengambil nasi kuning dari tangan calon Ibu mertuanya. Setelah itu Nada pulang ke rumahnya. Dan tinggala keluarga besar Ferri.
"Sukma, setelah makan kita bermain ya" kata Nasdin, putra bungsu Akila yang juga berusia lima tahun.
"Iya" balas Sukma tersenyum.
Di tempat lain, tepatnya di rumah Pak Adis, keluarga besar Alif sedang sarapan bersama. Mereka berbincang-bincang dan tertawa. Dua puluh tahun lebih mereka berpisah dan sekarang mereka bertemu kembali. Namun sayangnya, pertemuan itu tanpa Mama Amrita.
Usai sarapan, Sakia dan Fadila mengikuti Tante Lisa ke kebun yang tidak terlalu jauh dari rumah. Mereka memilih jalan kaki dibandingkan naik motor. Bukannya Pak Adis tidak memiliki motor tapi Fadila dan Sakia ingin jalan kaki.
"Tante, apa benar dulu Tante ke Makassar tinggal di rumah kami?" tanya Fadila.
"Iya. Waktu itu kalian belum lahir. Mama kalian itu orangnya sangat baik. Mungkin karena kebaikan serta cinta dan kasih sayangnya hingga Papa kalian nggak bisa melupakan sosok Mama kalian. Tante yang hanya beberapa hari mengenalnya, sudah sulit melupakan kebaikan Mama kalian. Apalagi Papa kalian yang tiap hari bersamanya" ungkap Tante Lisa.
Sakia dan Fadila mangguk-mangguk sambil menampakkan kaki di jalan bebatuan. Mereka membenarkan perkataan Tante Lisa.
"Dulu, saat Tante mendengar kabar duka tentang mama kalian. Hampir seminggu Tante nggak nafsu makan. Wajah dan senyuman Mama kalian terngiang-ngiang di ingatan Tante" sambung Tante Lisa sedih.
Di rumah Pak Adis, Fattan dan Farhan bersiap-siap mengikuti Om Zain dan Zian pergi memancing ikan di air laut. Kedua pria itu saling tatap dan tertawa. Ini perjalanan pertama mereka pergi memancing ikan.
"Mas, anggap saja kita jalan-jalan menggunakan perahu" kata Fattan terkekeh.
"Iya. Mas baru kali ini mau pergi memancing" ujar Farhan yang juga tertawa.
"Zain. Apa kamu yakin mau ajak kedua anak ku?" tanya Papa Aziz sekedar bercanda gurau. Papa Aziz tahu Fattan dan Farhan tidak tahu memancing.
__ADS_1
"Paa, sekalipun kami nggak tahu cara memancing tapi kami tahu cara mendayung. Aku dan Mas Farhan mendayung dan Om yang memancing ikan. Bagaimana menurut Om?" kata Fattan dengan bangga.