
Amrita memainkan ponselnya tanpa menatap Dokter Aziz. "Pernikahan itu terjadi karena Om sudah menciumku. Jika tidak, siapa juga yang mau nikah muda apalagi sama Om Om" ujar Amrita.
Aziz terlihat geram mendengar jawaban yang keluar dari mulut Amrita. Lagi lagi Amrita memanggilnya Om. Boleh dikata, Aziz baru berusian 27 tahun. Menurutnya, ia masih sangat muda.
"Om Om Om Om! Aku bukan Om Om Amrita.. aku masih muda" seru Aziz.
Amrita terkekeh, ia menghentikan kegiatannya menoleh menatap Dokter Aziz. "Om tidak perlu mengelak. Aku tahu wajah Om Om itu seperti apa" katanya sembari menjulurkan lidah.
"Seperti apa?" tanya Aziz yang mulai panas.
Amrita mendekatkan wajahnya. Ia menatap lekat wajah Dokter Aziz. "Seperti wajah Om yang sekarang ini" katanya sembari menatap lekat wajah Dokter Aziz.
Dokter Aziz menepikan mobilnya dipinggir jalan, ia menarik tenguk Amrita. Amrita terperanjat, membulatkan mata saat Aziz kembali menciumnya. Satu menit, dua menit, tiga menit. Ciuman berlangsung hingga 3 menit dua detik. "Dasar Om mesum!" pekik Amrita. Ia mendorong kuat tubuh Dokter Aziz.
Aziz tersenyum mesum memegang bibirnya. "Tapi kamu suka kan" ujarnya kembali mendekatkan wajahnya pada Amrita.
"Aku tidak suka!! Aku tidak mau menikah dengan Om! Aku tarik semua ucapanku yang kemarin. Dasar pria tua!!" hardik Amrita. Ia membuka pintu mobil lalu menutupnya dengan kuat. Amrita memilih jalan kaki menelusuri jalan yang dipenuhi lampu jalan. Sepanjang jalan, dia terus mengumpat menyumpahi pria yang ia panggil Om.
"Dasar Om mesum! Seenak jidatnya dia menciumku. Belum juga nikah sudah begitu apalagi sudah menikah, aku bisa dihukum olehnya terus menerus" umpatnya sembari mendendang sesuatu yang ada di hadapannya.
"Aww!!" pekiknya saat ia melihat kakinya berdarah. "Ternyata aku menendang batu" gumamnya.
"Kenapa kamu bodoh sekali!!" bentak Aziz yang ternyata sejak tadi mengikuti Amrita dari belakang. Aziz menggendong Amrita membawanya masuk ke dalam mobil.
Amrita duduk di dalam mobil, ia memilih menatap kedepan jalan dibandingkan menatap Aziz. Ingin rasanya ia mencakar bibir milik Aziz menggunakan sendok garpu.
"Pelan-pelan!!" pekik Amrita saat Aziz mengobati lukanya. Rasa nyeri membuatnya diam dan tidak mau memberontak.
__ADS_1
"Kamu sudah menyetujui pernikahan kita jadi jangan harap atau jangan pernah berfikir untuk kabur. Makassar tak sebesar impianmu jadi jangan main-main denganku" kata Aziz setelah selesai mengobati kaki Amrita.
"Aku tidak akan kabur tapi aku akan membuat Om menyesal menikahiku terlebih lagi berani melecehkanku" ujar Amrita.
Aziz terdiam, ia tahu ia salah karena sudah lancang berbuat sesukanya pada wanita yang belum menjadi istrinya. Aziz melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya untuk membahas pernikahannya dengan Amrita.
Rumah
Aziz memakirkan mobilnya di garasi rumah mewah milik orang tuanya. Ia turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk wanita yang tak lama lagi akan menjadi istrinya.
Amrita turun dari mobil dengan kaki pincang. Ia berjalan melewati Aziz yang berdiri disamping mobil. Dia meringis kesakitan saat kakinya terasa sakit. "Kenapa hidupku seperti ini. Kenapa aku sial seperti ini. Aku yang dilecehkan tapi aku juga yang tersakiti" gumam Amrita dengan kesal.
Aziz mendekat lalu berjongkok. "Cepat naik" kata Aziz. Ia membungkukan tubuhnya agar Amrita bisa naik dibelakangnya.
"Aku tidak mau gendong belakang. Jika aku naik maka apa yang aku jaga akan mengenai belakang Om" kata Amrita, dia berjalan melewati Aziz.
"Om... turunkan aku!" pekik Amrita ia memberontak dalam gendongan Aziz.
Aziz membuka pintu, ia berjalan menuju sofa. Sesampainya di sofa, ia menurunkan Amrita dengan hati-hati. "Jangan banyak bergerak. Berani kamu membantah, aku akan mengulangi kesalan yang tadi saat kita di mobil" ancamnya.
Terlihat seorang wanita parubaya menuruni anak tangga. Wanita itu tersenyum saat melihat Amrita di sofa. Namun, senyum itu memudar saat ia melihat luka di kaki kaki Amrita. Dengan terburu-buru, wanita itu menghampiri Amrita. "Sayang, kaki kamu kenapa?" tanyanya.
"Jangan tanyakan lagi Ibu. Calon menantu ibu sangat kuat hingga batupun ia berani menendangnya" kata Aziz. Ia menyandarkan kepalanya di sofa.
"Mana ada orang gila yang mau menendang batu. Ibu yakin, kamu pasti membuatnya kesal kan!" kata Tante Eka mengambil tempat disamping Amrita.
__ADS_1
Pa Sofyan turun dari lantai dua. Ia berjalan menghampiri istri, anak dan calon menantunya. Mereka pun duduk bersama di sofa yang ada diruang keluarga. Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 20:00. Tante Eka mengantar Amrita di dalam kamar. Sedangkan Aziz, ia kembali ke rumah sakit karena ada pasien kecelakaan.
Aziz tiba di rumah pukul 04:05 A.M. Ia memakirkan mobilnya lalu masuk ke dalam rumah menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Sesampainya di dalam, Aziz membuka baju kameja yang ia pakai, kemudian merebahkan tubuhnya diranjang.
"Aku sangat lelah" gumam Aziz menatap langit-langit kamar kemudian memejamkan matanya hingga terlelap.
Pagi Hari
Terdengar kicauan burung yang saling saut menyaut, menandakan bahwa pagi telah menyapa. Seperti biasa, Tante Eka akan masuk ke dalam kamar putra sulungnya. Di dalam kamar Tante Eka melihat Amrita sedang tidur berbantalkan lengan Aziz.
"Apa Aziz sudah bangun, Bu?" tanya Pa Sofyan berjalan masuk ke dalam kamar putra sulungnya.
"Ssttt..." Tante Eka membukam mulut suaminya dengan kedua tangannya.
"Jangan ribut. Beberapa menit ke depan, kita akan mendengar suara nyaring yang seperti petir" bisiknya dengan satu tangan menutup pelan pintu kamar putranya.
Pa Sofyan membulatkan matanya. "Jangan bilang Ibu yang merencanakan ini" ujar Pa Sofyan menyelidik.
"Papa, Ibu mau mereka segerah menikah. Dilihat dari sikap Amrita yang keras kepala, Ibu rasa Amrita bisa mengubah tabiat buruk anak kita" kata Tante Eka.
"Papa tahu tapi bukan seperti ini caranya. Apa Ibu tidak sayang pada Amrita. Kasihan dia, dia menjaga martabatnya tapi ibu membuatnya terlihat seperti wanita yang tidak punya harga diri" balas Pa Sofyan. Dia juga ingin Amrita segera menikah dengan Aziz hanya saja, dia tidak setuju dengan cara istrinya.
"Aakk!!!" teriak Amrita saat dia melihat Aziz memeluknya. Terlebih lagi Aziz tak mengenakan baju. Dan Amrita, dia tidur hanya memakai baju dalaman lengan pendek.
Aziz mengerjap saat mendengar suara nyaring disampingnya. Matanya membulat saat ia melihat Amrita berada disampingnya.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku, Amrita!!"
__ADS_1
teriak Aziz baranjak dari tempat tidur.
"Aziz! Amrita! Apa yang kalian berdua lakukan!!" teriak Pa Sofyan yang berpura-pura tak tahu.