Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 50


__ADS_3

Keesokan harinya


Di Perumahan Citraland Hertasning, tepatnya di ruang keluarga, beberapa wanita sedang duduk berbincang-bincang, siapa lagi kalau bukan Tante Eka, Amrita, Miranti dan Lisa. Sesekali terdengar tawa dari mulut keempatnya.


"Dulu, sebelum menikah, aku benci dengan pria yang kini menjadi suamiku. Lambat laun, aku mulai jatuh cinta padanya" ujar Tante Eka tersenyum.


"Kenapa Tante membenci Pa Sofyan?" tanya Miranti.


"Kami satu sekolah saat SMA. Sofyan termasuk pria play boy waktu itu. Dia pacaran sama aku, sebulan pacaran, aku dapat info dari teman kalau Sofyan pacaran dengan sahabatku. Aku grebek keduanya saat mereka sedang berpacaran dibelakang sekolah. Aku putusin Sofyan lalu menjauh darinya. Saat kami lulus SMA, dia mulai dekatin aku lagi tapi aku terus menolaknya karena aku sudah terlanjur benci padanya. Melihat kegigihannya, perlahan aku mulai kasihan padanya dan mulai membuka hati lagi untuknya" jelas Tante Eka.


"Perjalanan cinta Tante dan perjalanan cintaku hampir mirip, sayangnya aku ngak lanjut kulia" kata Lisa.


"Apa hanya aku dan suamiku yang terhalang karena ekonomi dan lingkungan" ujar Miranti yang ikut nimbrung.


"Maksudnya?" tanya Tante Eka.


"Di kampungku, tidak ada yang namanya tower dan ponsel. Jadi bagi anak muda yang pacaran, kami hanya bisa berkirim kabar lewat surat. Dan Adis, dia pria yang paling setia. Bahkan, diusia pernikahan yang ke sembilan, Allah belum juga memberi kami kepercayaan, namun Adis selalu menyemangati aku, dan kami selalu berdoa untuk diberi keturunan. Alhamdulilah, di usia pernikahan kesepuluh, Allah memberi kami kepercayaan, ia menitipkan janin dalam rahimku. Sepuluh tahun menanti, dan Putri Akila adalah titipan Allah untuk kami, hasil dari doa yang selalu kami panjatkan tiap harinya" jelas Miranti.


Miranti tersenyum saat menceritkana kisah cinta dan perjuangannya bersama suami. Tante Eka, Lisa dan Amrita merasa terharu saat mendengarnya.


"Mbak Miranti adalah wanita yang paling beruntung bersuamikan Pa Adis. Hanya cinta yang tulus yang mampu membuat rumah tangga harmonis. Aku kagum mendengar perjuangan kalian hingga mendapatkan keturunan" kata Amrita haru.


Di tempat lain, Aziz memperhatikan sikembar dan Putri Akila. Senyum terukir diwajah tampannya, sepenggal niat menghampiri dirinya. "Andai Allah memberiku kepercayaan, mungkin aku akan menjadi ayah dari anak-anakku"


Aziz mengajak sikembar dan putri Akila untuk masuk ke dalam rumah, mereka pun masuk lalu mengganti pakaian mereka yang sudah basa. Setelah selesai, merek berempat ikut bergabung dengan Tante Eka, Amrita, Miranti dan Lisa.


--


Seusai makan malam, Aziz dan keluarga Pa Sam serta keluarga Pa Adis sepakat pergi jalan-jalan di Pantai Losari. Karena mereka banyak, maka sebagian dari mereka menggunakan Taxi. Amrita, Aziz, sikembar dan Putri Akila, mereka berempat satu mobil.


"Tante, kita mau ke mana?" tanya Akila.


"Kita ke Pantai Losari sayang" balas Amrita.


"Tante, apa di sana ramai?" tanya Zian.

__ADS_1


"Kalau tidak ramai, mana mungkin kita akan jalan-jalan ke sana!" ketus Zain, saudara kembar Zian.


Aziz tersenyum mendengar komentar pedas Zain. "Sayang, kamu tidak boleh menjawab dengan nada seperti itu. Bagaimana jika adik kamu sedih" ujar Aziz.


"Iya, Om. Zian, maafkan kakak" kata Zain.


Pantai Losari


Aziz memakirkan mobilnya di tempat parkir. Mereka keluar dari mobil menunggu Taxi yang ditumpangi oleh keluarga Pa Adis dan Pa Sam. Lima menit mereka menunggu, namun Taxi belum juga datang.


"Sayang, ayo kita jalan-jalan. Orang tua kalian pasti menelepon jika mereka sudah sampai" ujar Aziz menggenggam tangan sikembar.


"Ayo..." sorak Akila menggenggam tangan Amrita.


Aziz dan sikembar berjalan di depan, sedangkan Amrita dan Putri Akila memilih jalan di belakang. Melihat Aziz menggenggam erat tangan Zain dan Zian, Amrita merasa sedih, karena sampai detik ini juga, ia belum juga hamil.


"Ya Allah, izinkan kami menjadi orang tua untuk anak-anak kami" batin Amrita.


Mereka berlima memilih duduk dibagian yang ada tulisan "MAKASSAR CITTY", dimana ada orang yang sedang berpakaian badut, robot-robot, dan ada yang sedang berfoto. Salah satu pria yang bekerja sebagai fotografer menghampiri mereka, menawarkan diri untuk menjadi fotografer mereka dengan bayaran lima puluh ribu tiga kali foto.


"Tidak Om, kami tidak mau foto" balas Zain pada sang fotografer.


Fotografer pun pergi, tinggalah Aziz, Amrita dan anak-anak. Aziz menatap ketiga anak kecil itu bergantian. "Kenapa kalian tidak mau?" tanya Aziz.


"Om kan punya ponsel, ya kita pakai ponsel saja" balas Akila tersenyum.


"Benar sekali. Dengan ponsel, kita tidak perlu mengeluarkan uang" sambung Zian girang


"Anak pintar. Oh ya, apa kalian suka Gulali?" tanya Aziz.


"Gulali" gumam sikembar dan Akila. "Gulali itu apa, Om?" tanya Zian.


"Gulali itu permen yang rasanya enak sekali" balas Amrita lalu beranjak dari duduknya.


Amrita, Aziz dan anak-anak kembali berkeliling mencari penjual Gulali. Seulas senyum terukir di wajah Amrita saat ia melihat Gulali. "Pa, Gulali empat ya" kata Amrita pada penjual Gulali.

__ADS_1


"Tante, apa Om tidak suka Gulali? Kenapa hanya empat, bukannya kita berlima" tanya Akila.


"Iya, Paman tidak suka Gulali" balas Amrita.


"Ini Gulalinya Mbak" ujar penjual Gulali sembari menyerahkan empat Gulali.


Aziz menyerahkan uang merah satu lembar. "Ambil saja kembaliannya, Pa" kata Aziz tersenyum.


Aziz dan anak-anak kembali ke tempat duduk mereka. Terdengar ponsel Aziz berdering, Aziz pun menjawab panggilan dari nomor yang ia kenal. "Dimana Pa?" tanya Aziz.


"Kami dibagian Makassar Citty" balas Pa Sam.


"Kami juga di Makassar Citty" ujar Aziz sambil melihat disekeliling. Aziz melambaikan tangan saat melihat Pa Sam.


Pa Sam, Pa Adis, Miranti dan Lisa berjalan menghampiri Amrita dan Aziz. Mereka duduk bersama sambil menikmati pemandangan Pantai Losari. Hampir dua jam mereka berada di Pantai Losari, mereka pun memilih pulang ke rumah karena anak-anak sudah mengantuk.


Perumahan Citraland Hertasning


Pa Adis dan Pa Sam membawa anak mereka masuk ke dalam kamar, yang diikuti oleh istri mereka masing-masing.


"Selamat tidur sikembar" ujar Akila sebelum masuk ke dalam kamar.


"Selamat tidur Putri" balas Zain dan Zian lalu masuk ke dalam kamar.


Di lantai dua, Aziz dan Amrita masuk ke dalam kamar. Keduanya duduk ditepi ranjang tanpa saling menatap. Amrit melirik Aziz yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Mas, apa Mas ingin punya anak?" tanya Amrita.


Aziz menatap istrinya. "Darimana dia tahu" batin Aziz.


"Mas, jika Mas ingin punya anak. Ayo kita lakukan lagi" ujar Amrita.


"Sejak kapan Amrita meminta lebih dulu. Apa dia kerasukan setan saat di Losari" batin Aziz.


"Mas..." seru Amrita, yang benar saja Aziz menatapnya tanpa menjawab mau atau tidak mau.

__ADS_1


__ADS_2