Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 88


__ADS_3

Tak ingin mengganggu waktu istrahat keluarganya, Amrita memilih memboyong mesin ketiknya ke lantai dua. Suara ketikan mesin ketik begitu berisik di lantai dua. Amrita, Ibu dua anak itu sedang menyalin laporan yang sore tadi dia dan teman-temannya kerjakan. Sementara di lantai satu, suami dan kedua anaknya sudah tertidur pulas.


Jarum jam terus berputar. Dan kini jarum pendek menunjuk angka satu, dan jarum panjang menunjuk angka tiga. Menandakan waktu sudah larut. Yaitu pukul satu, lewat dua puluh menit, atau dua puluh menit lewat dari satu jam.


"Sayang, kenapa kamu belum tidur?" tanya Aziz yang tiba-tiba datang menghampiri istrinya.


"Maafkan aku, Mas. Banyak pantulan tadi. Dan ini mau dikumpul besok. Mana nggak boleh ada tipex lagi. Jadi harus teliti saat mengetik" jelas Amrita.


"Apa masih banyak?" tanya Aziz duduk bersila disamping istrinya yang sedang melantai.


"Masih enam lembar" balas Amrita. "Mas kenapa ke sini? Bagaimana jika Fattan dan Fadila menangis nggak lihat Mas disamping mereka" sambungnya sambil mengatur kertas pada mesin ketik.


"Mana yang mau diketik? Biar aku yang lanjut ketik" ujar Aziz.


"Nggak usah, Mas. Biar aku saja. Tugasku tak seberat tanggung jawab Mas di rumah sakit" tolak Amrita.


"Ya sudah. Bangunin aku jika kamu butuh bantuan" balas Aziz lalu mengelus kepala istrinya. Dan kembali ke lantai satu menghampiri kedua anaknya. Dilihatnya Fattan berdiri di depan pintu kamar mencari-cari Mama dan papanya.


"Sayang, ada apa? Ayo tidur lagi. Ini masih malam, belum pagi" jelas Aziz menuntun putranya kembali ke tempat tidur.


"Papa, peluk..." pintah Fattan dengan mata terpejam.


Aziz menutupi tubuh putranya dengan selimut, lalu berbaring disamping Fattan. Tak lupa memeluknya sesuai permintaan putranya. Pikiran pria dewasa itu masih terarah pada istrinya yang sedang berkelut dengan mesin ketik dan laporan. Ingin membantu, namun istrinya menolak dibantu.


"Maafkan aku, Mas. Bukannya aku tidak mau kamu membantuku, tapi aku kasihan padamu. Kamu lelah bekerja, dan saat pulang harus memasak. Sudah terlambat untuk aku menyerah, kini tinggal aku jalani proses menggapai cita-citaku. Semoga Allah mempermudah semuanya agar aku bisa menjadi istri yang baik untukmu, dan Mama yang baik untuk anak-anak" batin Amrita.


Pukul dua malam, semua pantulan sudah diketik. Tinggal dikumpul besok siang. Amrita merapikan laporan dan mesin ketiknya lalu turun ke lantai satu menghampiri suami dan kedua anaknya. Seulas senyum tersungging melihat posisi tidur ketiganya. Aziz tidur dibibir ranjang, Fadila bagian tengah dan Fattan yang tadinya di tengah menjadi disamping. Agar putranya tidak jatuh, Amrita tidur disamping putranya.


"Mama ayo tidur" ajak Fattan yang menyadari mamanya baru datang.


"Iya, Sayang. Ayo kita tidur" balas Amrita, mengecup puncak kepala putranya kemudian ikut menutup mata.

__ADS_1


--


Pukul 05:00 AM


"Hiks, hiks, hiks... Mama... Papa..." Fadila menangis memanggil Mama papanya.


Samar-samar Fattan mendengar tangisan saudara kembarnya. Ia pun membuka mata dan menatap disekeliling. Dilihatnya Mama dan papanya sedang shalat subuh. Anak kecil itu mengelus kepala adiknya dan mendekatkan mulutnya telinga sang adik.


"Hiks, hiks, hiks... Mama... Papa..." Fadila kembali menangis memanggil Mama papanya.


"..........." bisik Fattan.


Tangis Fadila terhenti. Ia mengerjap membuka mata. Melihat ke arah di mana Mama dan papanya sedang shalat. Hatinya merasa tenang. Tanpa tangis, ia kembali memejamkan mata dan kembali tidur.


Usai shalat subuh, Amrita memilih ke dapur menyiapkan makanan untuk suami dan kedua anaknya. Sementara Aziz mengaji disamping anaknya. Fattan mengerjap, begitupun dengan Fadila.


"Papa..." panggil Fattan dan Fadila bersamaan.


Aziz tersenyum. Meletakkan Al-qur'an kecilnya di atas nakas. "Sudah bangun Sayang. Ayo kita olahraga. Jalan-jalan di kompleks" ajak Aziz.


"Olahraga pagi ya Sayang" sapa Mahdania.


"Hehehehe" kekeh Fattan dan Fadila. Kedua anak menggemaskan itu mengenakan baju piyama saat olahraga.


"Iya Tante dan Om manja" balas Aziz meniru gaya bicara anak kecil.


"Hahahaha. Ayo kita jalan pagi sama-sama" ajak Aher.


Hampir tiga puluh menit mereka jalan pagi di area perumahan. Hanya jalan saja, bukan lari-lari. Setelah peluh mulai keluar, mereka kembali pulang dan masuk ke dalam rumah masing-masing.


"Mama..." teriak Fadila saat melihat mamanya hendak masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Anak Mama jalan pagi ya?" tanya Amrita mengajak anaknya berbicara.


"Iya" balas Fadila.


"Ya sudah. Sekarang Fattan dan Fadila ikut Mama. Kalian harus mandi pagi agar harum" ajak Amrita. Ia menuntun kedua anaknya ke kamar mandi.


"Mas... aku sudah buatkan kopi tapi lupa mengambilnya. Nanti Mas ambil sendiri ya... kopinya ada di atas meja dapur..." teriak Amrita saat dirinya sudah berada di dalam kamar.


"Iya..." sahut Aziz.


Usai memandikan sikembar dan mengenakan pakaian pada keduanya, Amrita membawa anaknya diruang keluarga. Mengambil mainan anaknya dan memintanya untuk bermain. Fattan dan Fadila pun bermain berdua tanpa mengganggu Papa mereka yang sedang sibuk membaca buku di sofa.


Terdengar motor berhenti di depan rumah. Bel rumah tiba-tiba berdentang di pagi hari. Aziz yang sementara membaca buku, pria itu meletakkan bukunya menghampiri pintu rumah.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Assalamualaikum" ucap Tante Eka dan Pa Sofyan bersamaan lalu menerobos masuk ke dalam.


"Waalaikumsalam" balas Aziz sambil menutup pintu. Kemudian menghampiri Ibu dan papanya.


"Gantengnya Nenek udah harum ya. Sudah makan apa belum?" tanya Tante Eka yang ikut melantai bersama Fattan dan Fadila.


"Belum makan. Masih kenyang" balas Fattan dengan gaya bicara khas anak balita.


"Fadila udah makan apa belum?" tanya Pak Sofyan.


"Belum. Fadila tunggu Kakek suapin" balas Fadila sambil memainkan boneka berbienya.


"Ya sudah. Fadila dan Fattan tunggu di sini ya. Kakek mau ambil makanan dulu" ujar Pak Sofyan tersenyum.


Amrita keluar dari kamar. Ia baru saja selesai mandi dan mengganti pakaian. "Papa, biar aku saja yang ambilkan mereka makanan. Papa tunggu di sini saja" ujar Amrita tersenyum.

__ADS_1


Amrita ke dapur mengambilkan makan untuk putri dan putranya. Ia kembali membawa makanan dan segelas susu. "Papa, biar aku saja yang suapin mereka. Papa dan Ibu sarapan dulu. Aku sudah siapkan makanan, kue, teh dan kopi di meja makan" ujar Amrita.


"Papa mau kopi dan kue. Papa yakin sekali, kue buatan kamu pasti enak" balas Pak Sofyan. Pria paruh baya itu melangkah ke dapur mengambil kopi dan kue lalu membawanya di ruang keluarga. Menikmati kue dan kopi sembari menyaksikan siaran Indosiar.


__ADS_2