Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 2


__ADS_3

Sepulang dari rumah Om Aher, Fattan merenung di dalam kamarnya. Memikirkan perkataan Sakia Putri, membuatnya merasa aneh pada dirinya sendiri. Pria itu juga bingung pada dirinya. Bahkan Fattan senang mendengar kabar bahwa Sabila pergi dan tidak mau menikah dengannya. Dan Fattan lebih bahagia lagi saat kedua keluarganya berkata akan meminta Sakia menggantikan Sabila.


"Ada apa denganku? Kenapa aku bahagia saat Sakia diminta menjadi calon istriku. Nggak mungkin aku jatuh cinta padanya. Nggak mungkin" gumam Fattan.


Fattan duduk di tepi ranjang mengirim pesan pada Sakia namun sang penerima pesan tidak membalas satupun pesan darinya.


"Bukankah Alif memiliki wanita yang dia idamkan. Lalu kenapa Sakia berkata kalau Alif akan melamarnya. Apa jangan-jangan wanita yang selama ini Alif kagumi adalah Sakia. Ya Allah, itu berarti aku merebut calon istri dari adikku sendiri" gumam Fattan.


"Lebih baik aku tanyakan langsung pada Sakia. Jika benar Sakia adalah wanita yang selama ini diidamkan oleh Alif maka aku akan meminta Papa untuk membatalkan pernikahan ini" sambungnya lalu mengirim pesan pada Sakia.


"Sepertinya Sakia memblokir nomorku" gumam Fattan.


...----...


Suara adzan Magrib membangunkan Sakia Putri dari tidurnya. Matanya masih berat dibuka. Mata sendunya masih memancarkan kesedihan mendalam. Namun wanita itu berusaha untuk tetap bangun. Sakia bangun dan berdiri di depan cermin yang besar. Memandangi dirinya yang masih dengan balutan gamis army yang dia kenakan pagi hari saat ke Butik.


"Ternyata aku nggak mimpi" gumam Sakia setelah melihat wajahnya di cermin.


Sakia masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Cukup lama wanita itu berada di dalam. Setelah keluar, ia langsung mengenakan baju gamis yang sering dia gunakan di rumah. Kemudian bersiap-bersiap untuk menjalankan shalat magrib. Usai shalat Magrib, Sakia duduk di balkon kamar. Kebetulan wanita itu tidur di kamar lantai dua.


Sakia berdiri di balkon, kedua tangannya bersandar di pagar besi balkon. Pandangannya tertuju pada satu rumah yang berhadapan dengan rumah mereka. Yang tak lain adalah rumah Om Aziz.

__ADS_1


"Dulu, aku bermimpi menjadi putri kedua dalam rumah kalian. Merawat Kak Fattan dan merawat Om Aziz. Menyiapkan kalian makanan di pagi, siang dan malam hari. Namun impian itu telah sirna bersamaan dengan penolakan yang berulang kali. Aku seperti wanita yang tidak punya harga diri. Mengejar cinta yang tak harus aku kejar" gumam Sakia.


"Lucu sekali. Bahkan menurutku ini sangat lucu. Pria yang dengan terang terangan berkata bahwa aku, Sakia Putri Ahmadenar tidak akan pernah menjadi istri dari Fattan Furqan Zakri. Karena Fattan Furqan akan menjadi Kakak ipar Sakia Putri dan tidak akan pernah berubah menjadi suami Sakia Putri. Lantas kenapa pria dengan suara lantang itu hanya duduk menunduk dan diam ditengah-tengah keluarga berkumpul" gumam Sakia mengepal tangannya.


"Cintaku padamu sudah tak ada lagi. Dan kini, drama pagi tadi membuatku membencimu, Kak Fattan. Diam mu membuatku membencimu. Bahkan, jikapun kita menjadi menikah, maka aku tidak akan bisa menjadi istri yang baik padamu. Terserah dunia berkata apa tentangku, tentang gamis ku dan hijabku"


Tok tok tok...


"Sakia... ayo makan, Nak" suara Mahdania terdengar dibalik pintu kamar putrinya.


Sakia bergegas membuka pintu kamar untuk Mamanya. Menatap Mamanya tanpa ekspresi. Bukan benci, tapi wanita itu masih marah. Setelah membuka pintu, Sakia kembali ke balkon yang diikuti oleh Mama Mahdania. "Ada apa, Ma?" tanya Sakia.


"Ayo kita makan. Mama masak makanan kesukaan kamu" kata Mahdania memegang pundak putri bungsunya.


"Sakia. Papa itu menyayangi kamu, Nak" ungkap Mahdania.


"Nggak" Sakia menggeleng.


"Hanya Oma dan Opa yang menyayangiku. Kalian di rumah ini hanya menyayangi Kak Sabila yang pintar itu. Buktinya, kalian membiarkan Kak Sabila pergi dan dengan mudahnya kalian memintaku menggantikan Kak Sabila. Seakan-akan Kia adalah peran pengganti dalam cerita yang diperankan oleh Kak Sabila. Unik ya, Ma. Ternyata pernikahan paksa itu masih ada. Kia kira sistem itu sudah tidak ada hingga Kia menerima rasa sakit, dimana harus menyaksikan orang yang Kia cintai menamatkan cincin tunangan pada suadara Kia sendiri" sambungnya tanpa ekspresi.


"Sakia" panggil Papa Aher yang sedari tadi mendengar unek-unek putri bungsunya.

__ADS_1


Sakia tidak menoleh. Dia tahu itu suara Papanya. Mendapatkan respon yang tidak biasanya, membuat Aher bersalah. Pria paruh baya itu mendekati putrinya.


"Maafkan Papa. Maafkan Papa yang membuatmu merasa sendiri. Maafkan Papa yang selalu sibuk dengan urusan Kakakmu hingga lupa bertanya apa yang putri bungsunya inginkan" ungkap Aher dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca. Pria manja itu masih saja seperti dulu.


"Kalian tahu kan di mana Kak Sabila?" tanya Sakia.


"Dia ke Jakarta bersama teman-temannya. Dan katanya akan melanjutkan study nya di sana" jelas Mahdania.


"Kenapa Papa nggak memanggilnya pulang. Bukankah dia bisa lanjut setelah menikah" ujar Sabila.


"Sakia. Kamu tahu sendiri bagaimana Kakak kamu. Nggak semudah itu membujuknya pulang, Nak" jelas Aher.


"Apakah aku durhaka bila bersikap seperti ini. Dulu, Papa juga tahu kalau aku menyukai Kak Fattan tapi Papa membiarkan aku terluka dengan menerima Kak Fattan sebagai calon Kakak Ipar ku. Bahkan Kak Sabila juga mengetahui rasaku sebesar apa terhadap Kak Fattan, tapi Kak Sabila juga tidak memikirkan perasaanku" batin Sakia memejamkan mata sejenak.


"Sudah lah. Ini semua bukan salah siapa-siap. Akulah yang bersalah. Aku mencintai makhluk ciptaan Allah dengan rasa yang berlebihan. Mungkin inilah takdir yang digariskan untukku. Menikah dengan pria yang tidak lagi aku cintai" ucap Sakia dalam benaknya.


Sabila berbalik menatap Mama dan Papanya. Menatap dua wajah yang pertama kali dia lihat saat masih kecil. Saat mata mungilnya bisa melihat semua benda yang ada di dunia. Dua tangan yang menggendongnya dan dua tangan yang mengajarinya berjalan.


"Jika dengan menyetujui permintaan Papa yang tadi, bisa membuka mata hati Papa tentang besarnya rasa sayangku pada Papa, maka Kia siap menggantikan Kak Sabila. Katakan pada keluarga Om Aziz kalau Kia mau menjadi istri Kak Fattan" kata Sakia.


Setelah mengatakan itu, Sakia menerawang jauh menatap satu persatu perumahan bertingkat yang berjejer dengan indah. Perumahan yang mereka tempati adalah perumahan dengan penjagaan yang sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa masuk di area perumahan. Tamu yang datang wajib melapor dan harus membawa KTP atau tandan pengenal lainnya. Jika tidak, maka jangan harap untuk bisa masuk di area perumahan Citraland.

__ADS_1


"Kuserahkan semuanya padamu, ya Allah. Engkau lebih tahu segalanya" batin Sakia.


__ADS_2