
"Dokter Safira telah meninggal" balas Pak Berti.
"Innalilahi wa Innalilahi rajiun" ucap Aziz saat mendengar kabar duka Safira.
...ΩΩΩ...
Aziz dan rekan dokter lainnya sedang berada di Taman makam pahlawan Panaikang. Mereka mengantar jenaza Dokter Safira ditempat peristrahatan terakhirnya. Dokter cantik itu ditemukan tewas dirumahnya. Dan berdasarkan informasi, mayat Dokter cantik itu sudah berhari hari di rumah dan baru diketahui setelah tetangga korban mencium bau busuk di rumah Dokter cantik itu.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi" batin Aziz menatap mayat Safira yang hendak dimasukkan ke dalam liang lahat.
Setelah proses pemakaman usai. Aziz dan Aher kembali ke mobil. Aher diizinkan ke luar karena kejadiaan naas yang menimpah rekan kerjanya. Dengan syarat, setelah pemakaman pria itu harus kembali ke rumah. Aher yang memang penurut, ia pun menyetujui syarat yang diberikan Mama papanya tanpa berpikir kabur.
"Aziz, menurutmu siapa yang melakukan ini pada Safira?" tanya Aher berpikir keras.
"Aku juga tidak tahu. Yang aku tahu Safira tidak memiliki kekasih" balas Aziz yang juga berpikir keras.
"Apa jangan-jangan Safira memiliki musuh. Kamu kan tahu sendiri, Safira paling suka mengganggu hubungan orang lain. Bisa jadi dia menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain" ujar Aher dengan serius.
"Ngak baik berburuk sangka pada orang. Apalagi pada rekan kerja sendiri" ucap Aziz menyentil jidat sahabatnya.
"Hehehe" kekeh Aher. "Aziz, aku pulang dulu ya. Hari ini aku mau ke butik bersama calon istriku. Mau mencoba pakaian pengantin" sambung Aher tersenyum.
Aziz terkekeh. "Apa kamu sudah melihat wajah calon pengantinmu?" tanya Aziz.
"Belum. Anehnya lagi, aku merasa gugup akan bertemu dengannya. Apa ini yang dinamakan cinta tanpa bertemu. Hahahahaha" balas Aher lalu tertawa lepas. "Astagfirullah. Aku lupa kalau kita dipemakaman" gumam Aher tersenyum malu saat rekan dokter lainnya menoleh menatapnya.
"Hahahahaha. Aku yakin, kau pasti menyukainya. Sekarang kamu pulang karena calon istrimu sudah menunggumu" ujar Aziz tersenyum. Aziz berkata begitu karena ia melihat Madania telah meninggalkan area pemakaman.
Aziz ke luar dari mobil sahabatnya. Sedangkan Aher mulai mengendarai mobilnya menuju rumah. Dalam perjalanan, ponsel Aher berdering. Tertera tulisan Papa di layar ponsel. Dengan segera, Aher menjawab panggilan dari papanya.
"Assalamualaikum, Nak. Kamu langsung ke butik ya. Calon istrimu sudah ke sana" kata Pa Zainal.
"Waalaikumsalam. Baik, Pa" balas Aher. Lalu menuju alamat yang dikirim oleh papanya.
Sementara di tempat pemakaman, Aziz dan rekan kerja lainnya kembali ke rumah sakit. Bahkan ada yang pulang ke rumah. Mereka yang pulang ke rumah adalah dokter yang bertugas di sore hari.
__ADS_1
Rumah Sakit Awal Bross
Aziz sedang memeriksa kondisi pasien di ruang rawat inap. Setelah selesai, pria itu kembali ke ruangannya. Sesampainya di ruangannya, Aziz masuk ke dalam kamar mandi membasuh wajahnya.
"Apa ini ada kaitannya dengan Amrita? Terakhir kali aku mendengar kabar Safira saat Amrita diikuti empat anak begal itu" batin Aziz menatap wajahnya di cermin.
"Aku harus memeriksa ponsel Amrita dan mengecek pesan dan panggilan masuk serta panggilan keluar. Aku takut kematian Safira ada hubungannya dengan istriku" gumamnya lagi.
Fakultas Mipa
Amrita dan teman-temannya baru saja keluar dari laboratorium Fisika Dasar. Dia dan teman-temanya langsung membuka baju lab dan mencari rumah makan terdekat. Rumah makan cobe-cobe, itulah pilihan mereka. Mereka sekelompok memilih jalan kaki karena rumah makan cobe-cobe berada di depan kampus.
"Amrita, apa kamu sudah baca info Makassar pagi ini?" tanya Hanin.
"Belum. Memangnya ada info apa?" tanya Amrita.
"Ada seorang Dokter wanita yang ditemukan tewas di rumahnya. Bahkan mayatnya sudah busuk. Dan polisi masih mencari tahu penyebab kematiannya" timpal Ade menjelaskan.
"Inalillahi wainailaihi rojiun. Semoga Dokter itu husnul khotimah. Aamiin" balas Amrita yang turut memprihatin atas kejadian yang menimpa dokter cantik yang sempat berurusan dengannya.
"Safira, Dokter Safira" gumam Amrita yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Iya, Dokter Safira. Katanya sih Dokter Safira kerja di Rumah Sakit tempat suami kamu bekerja" timpal Affi dengan nada bersemangat.
"Kamu kenapa Amrita? Apa kamu kenal Dokter Safira?" tanya Safna saat melihat Amrita tak seperti biasanya.
"Ya Allah, jangan bilang Kak Johan yang melakukan itu" batin Amrita. "Jika benar Kak Johan yang melakukannya maka aku juga akan dipanggil polisi. Mana aku lagi hamil" sambungnya dalam hati.
Safna dan teman-temannya yang lain saling tatap. Mereka bingung melihat Amrita melamun di jalan. "Amrita, kamu kenapa?" tanya Hanin.
Amrita tersadar dari lamunannya. Lalu tersenyum lebar. "Tidak ada apa-apa. Ayo kita masuk" ajak Amrita.
Hanin memesan makanan untuk mereka berenam. Setelah itu ia memberi kode pada Safna dan Affi untuk mengambil kue ulang tahun yang mereka siapkan. Kue ulang tahun itu dititip di rumah makan cobe-cobe. Affi paham lalu berdiri mengambil kue ulang tahun, sementara Safna mengerjai Amrita hingga gadis itu berdiri dan pamit ke kamar mandi. Saat Amrita kembali dari kamar mandi, Fakri menyalakan korek api lalu membakar lilin yang disembunyikan dibelakang Hanin.
🎶🎶
__ADS_1
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun untuk Amrita
Selamat ulang tahun.
Dari teman-teman yang baik dan sejati,
Dari teman-teman lama dan baru,
Mungkin keberuntungan pergi denganmu,
Dan berbahagia juga.
🎶🎶
Amrita merasa merasa terharu hingga ia menetaskan air mata. "Aku kira kalian lupa" ujarnya sesegukan.
"Jangan menangis. Aku tahu kamu tidak akan mau meniup lilinnya jadi biar aku yang tiup" kata Hanin lalu meniup lilin yang ada.
Sejak Amrita mengenal Fakri dan Hanin, ia sering merayakan ulang tahunnya bersama kedua sahabatnya dan seniornya, serta anak jalanan lainnya. Dan setiap kali ulang tahun, Amrita tidak pernah mau meniup lilin.
"Barakallahu fii umrik, semoga berkah di umur yang sekarang ini. Milad Mubarak" ucap Affi.
"Meet milad! Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan ditambah kekuatan untuk dapat bisa mengerjakan laporan praktikum" ucap Safna tersenyum.
"Barakallahu fii umrik yaa. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dalam segala urusan dunia maupun urusan akhirat" ucap Ade.
"Barakallahu fii umrik. Semoga selalu diberikan kesehatan, selalu diberikan keberkahan, umur yang panjang, dan sukses terus, aamiin" ucap Fakri tersenyum.
"Happy Milad, sayangku. Semoga kamu tetap menjaga imanmu, takwamu, dan agamamu. Doa terbaik untukmu dan untuk keponakanku. Semoga Allah senantiasa menjaga kalian berdua. Aamiin" ucap Hanin tersenyum.
...ΩΩΩ...
__ADS_1
Pukul lima sore, Amrita tiba di rumah. Di dalam rumah, terlihat Aziz sedang menunggu istrinya. Aziz sengaja menunggu istrinya karena ada sesuatu yang mau ia tanyakan pada istrinya tanpa harus menyinggung perasaan istrinya. Menanyakan tentang Safira. Apa yang dia dan Safira bahas sebelum kematian Safira.