
Masih Flashback
Hanin terisak di tangga. Wanita itu begitu mencintai Fakri. Hanya Fakri yang dapat membuatnya jatuh hati selama mereka bertemu hingga saling jatuh cinta. "Kenapa Kakek begitu tegah padaku. Apa aku tidak berhak bahagia" batin Hanin disela sela tangisnya.
Sementara di lantai satu. Fakri tersenyum menatap Hanin. Lalu ke luar dari rumah dan pulang ke rumah. Fakri tak tahu harus bagaimana, jika dia membawa lari Hanin maka itu sama saja dengan dia tidak menghargai keluarga kekasihnya.
Flashback Off
"Ya sudah. Cepat kemasi barang-barang mu" kata Aziz.
Fakri tersenyum bahagia. Pria itu berlari masuk ke dalam rumah. Beberapa belas menit kemudian, dia keluar membawa pakaian satu ransel besar. "Ibu, Papa, Mbak Ima, aku pergi dulu ya. Doakan aku agar bisa move on dari Hanin" kata Fakri lalu menyalami tangan Papa, Ibu dan Mbak Ima.
"Hati-hati ya. Jangan galau terus" kata Tante Eka.
Fakri membuka bagasi mobil kemudian meletakkan ranselnya di bagasi. Lalu membuka pintu mobil bagian depan. Pria itu menoleh be belakang, terlihat Fadila dan Fattan tengah tidur. "Apa semalam mereka tidak tidur? Ini masih pagi dan mereka berdua sudah seperti orang yang kecapean" gumam Fakri.
Aziz menekan klakson mobil sebelum meninggalkan rumah orang tuanya. Mengendarai mobilnya menuju jalan raya. Dalam perjalan ke kampung, Aziz terus fokus menyetir sementara Fakri tertidur seperti keponakannya.
...--...
Setelah beberapa jam diperjalanan. Kini mereka sampai di kampung. Kampung yang sangat indah. Tidak ada sawah, yang ada hanya gunung yang menjulang tinggi. Bahkan rumah di kampung itu tidak cukup seratus rumah.
Aziz membangunkan Fakri, Fattan dan Fadila namun ketiganya tidak bergerak sedikit pun. Aziz hanya bisa menghembuskan napas pelan lalu turun dari mobil dan membuka pintu mobil bagian belakang.
"Sayang, ayo bangun Nak. Kalian tidur dari pagi sampai sore loh. Apa nggak lapar" kata Aziz mengelus pipi putrinya.
Fadila menggeliat, begitu juga Fattan. Sementara di depan Fakri masih hanyut dalam tidurnya. "Papa. Apa kita sudah sampai?" tanya Fadila serak.
"Iya Sayang" balas Aziz tersenyum.
Terlihat seorang wanita paruh baya keluar dari rumah menghampiri Aziz. "Tante nggak tahu kalau kalian sudah sampai" kata Tante Ismi, sepupu Pak Sofyan.
__ADS_1
"Belum lama sampai, Tante" kata Aziz tersenyum.
"Nenek" panggil Fattan menatap Tante Ismi.
"Iya. Ayo turun. Ada Kakek di dalam menunggu kalian" kata Tante Ismi menuntun Fattan ke luar dari mobil.
Aziz, Fadila dan Fattan mengikuti Tante Ismi ke dalam rumah. Mereka meninggalkan Fakri yang enggan untuk bangun. Selang beberapa menit, Fakri mengerjap, ia tidak mendapati siapa-siapa di mobil.
"Ya Allah. Tegah sekali mereka. Bisa-bisanya mereka tidak membangunkan aku!" gumam Fakri mendengus kesal. Fakri membuka pintu mobil lalu turun dan kembali menutup pintu mobil. Kemudian bergegas ke rumah Tante dan Omnya.
"Assalamualaikum" ucap Fakri dan langsung masuk ke dalam rumah. Pria itu mengambil tempat di samping Fattan.
"Waalaikumsalam" balas semuanya bersamaan.
"Kalian tegah bangat sih. Masa aku dibiarin tidur sendirian di mobil" ketus Fakri.
"Kamu yang nggak mau bangun. Dibangunin tapi malah ngorok" kata Aziz menatap aneh adiknya.
"Iya Tante" balas Aziz. "Fadila, Fattan, kalian tunggu di sini ya. Papa mau ambil koper dulu" kata Aziz. "Fakri, ayo ikut kakak ke mobil" ajak Aziz seraya beranjak dari kursi.
...---...
Setelah makan malam, Aziz dan Om serta Tantenya duduk di depan rumah. Sementara Fakri, Fadila dan Fattan, mereka bertiga duduk di ruang TV bersama Aina, putri bungsu Tante Ismi yang seumuran Fattan dan Fadila.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau sudah menerima kenyataan pahit itu sepenuhnya?" tanya Pak Naldin, suami Tante Ismi.
"Alhamdulilah. Aku sudah mengikhlaskan kepergian istriku. Allah tahu, lukaku bisa disembuhkan dengan senyum kedua anakku. Om, Tante, berpisah karena maut itu ternyata sakit ya. Jujur saja, sebulan setelah kepergian istriku, aku masih merasa terpukul. Namun anak-anakku membuatku kembali bangkit" ungkap Aziz.
"Datangnya ajal memang tidak ada yang tahu. Namun tanda-tanda datangnya ajal itu ada. Tapi terkadang kita lupa memahaminya karena sibuknya dengan urusan dunia. Dan penyesalan itu akan ada saat kita sudah berada di akhirat. Istrimu termasuk wanita beruntung. Dia meninggal dalam keadaan baik-baik saja. Tanpa diberi rasa sakit di dunia. Kamu dokter, sudah banyak pasien yang kamu lihat sekarat di hospital bed. Mereka mengalami sakit lalu meninggal. Dan istrimu, dia baik-baik saja. Dia masih tertawa dengan kalian. Tidur bersama kalian, bahkan dia masih sempat shalat" jelas Pak Naldin.
"Bila telah digariskan waktunya, kapanpun, dan dimana pun, kematian akan tetap akan datang. Jadi jangan lagi kamu hanyut dalam kesedihan. Bila kamu patah semangat, pandanglah kedua anakmu. Lihat mereka. Apakah mereka ceria atau mereka sedih sepanjang waktu. Bila mereka bahagia, kau tanamkan ini dalam dirimu. Mereka yang masih kecil saja bisa mengatasi rasa sakit itu. Apalagi aku yang sudah jelas-jelas dewasa. Harusnya aku menjadi penguat untuk mereka, bukan sebaliknya. Dan bila kamu melihat mereka sedih. Kau harus berusaha membuat mereka tersenyum" timpal Tante Ismi mengingatkan.
__ADS_1
"Iya Tante, Om" balas Aziz.
"Tante istrahat dulu ya" kata Tante Ismi yang mulai mengantuk.
"Om juga mau istrahat" kata Pak Naldin.
Setelah Pak Naldin dan Tante Ismi masuk ke dalam kamar. Fadila dan Fattan menghampiri Papa Aziz di depan rumah. Mereka duduk bersama sambil memandangi langit yang dipenuhi bintang-bintang yang berkilau.
"Papa. Mama apa Mama sudah tidur?" tanya Fattan menatap langit.
"Bisa jadi. Apa kamu tahu tentang Mama?" kata Fattan dan kembali bertanya.
"Banyak. Dan aku rasa Mama belum tidur. Biasanya Mama akan tidur kalau aku dan Fadila tertidur. Apa di surga juga Mama akan tidur bila kami sudah tidur?" tanya Fattan lagi.
"Mama belum tidur. Mama masih tersenyum menatap kita" jelas Aziz.
"Papa. Mama memesan obat pakai apa? Bukankah Mama tidak membawa ponsel" tanya Fadila dengan bingung.
"Di sana itu banyak obat. Tidak perlu dipesan. Dia sudah disiapkan sebanyak mungkin. Kalau mau makan ya tinggal ambil saja" jelas Aziz.
"Kakak.." panggil Fakri yang tiba-tiba menghampiri kakaknya.
"Ada apa?" tanya Aziz menautkan keningnya.
"Hanin baru saja meneleponku dan katanya, Kakek tua itu sudah merestui hubungan kami. Aku harus pulang untuk menemui mereka. Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini. Kakak, akhirnya Allah mengabulkan doaku. Kita pulang besok ya, Kak. Aku mohon" jelas Fakri memohon.
"Kamu bawah pulang mobil kakak. Jika pernikahanmu jadi, maka kau harus datang mnjemput kami di sini. Kalau nggak jadi nggak usah datang. Kakak nyaman tinggal di kampung" jelas Aziz.
"Bagaimana dengan kalian berdua, apa kalian mau kita tinggal di kampung?" tanya Aziz pada kedua anaknya.
"Selama Papa bahagia maka kami pun akan bahagia" balas Fattan menatap serius Papanya.
__ADS_1