
Kediaman Pak Sofyan
Tante Eka mondar mandir di ruang tengah. Sedangkan suami dan putranya duduk di sofa memandangi Tante Eka yang bagaikan ulat bulu itu. "Ibu paling tidak suka wanita yang seperti itu!" gumam Tante Eka dengan geram.
"Bu, Aziz sudah memberinya peringatan jadi Ibu tenang saja. Kepala Papa pusing nih lihat Ibu mondar mandir sejak tadi" ujar Pa Sofyan yang sedari tadi ekor matanya mengikuti tiap gerakan istrinya.
"Iya, kepalaku juga terasa pusing!" timpal Fakri kesal dan cemberut.
Tante Eka terkekeh lalu duduk diantara suami dan putranya. Fakri yang merasa diberi jarak dengan papanya semakin cemberut. Pria itu ingin duduk di samping papanya bukan disamping ibunya.
"Ibu, bisa ngak sih Ibu duduk di sana. Aku mau duduk didekat Papa" rengek Fakri.
"Manja sekali anak Ibu ini" ujar Tante Eka sembari mencubit pipi putra bungsunya.
--
Sementara di rumah sakit, Aziz sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Sedangkan Amrita duduk santai di dalam ruangan suaminya. Seulas senyum terus menerus tersungging di bibir manisya. Sungguh, foto pernikahan yang terpajang di samping meja kerja Aziz mampu membuat Amrita senyam senyum sendiri.
"Baru berdua ya, belum bertiga" gumam Amrita dengan pandangan yang masih tertuju pada bingkai foto.
"Pernikahan kami sudah berbulan bulan, kok aku belum hamil-hamil juga. Apa aku harus memeriksa kandunganku" gumamnya lagi.
--
Waktu begitu cepat cepat berlalu, kini sudah pukul sepuluh lewat dua belas menit. Sudah saatnya Amrita ke kampus. Hari ini tidak ada jadwal mata kuliah tapi hari ini mereka ada janji dengan Asisten Laboratorium untuk diskusi laporan di pukul dua belas siang nanti.
"Assalamualaikum, Mas. Aku ke kampus dulu ya. Jangan lupa makan sekalipun banyak pekerjaan. Perut kenyang maka pasien akan aman"
Itulah kalimat yang Amrita tulis di lembar kertas binder dan meletakannya di atas meja suaminya. Amrita keluar dari ruangan suaminya dan menelusuri lorong rumah sakit. Senyumnya kembali tersungging saat satpam yang bernama Pak Berti menyapanya.
"Mau pulang ya Mbak?" tanya Pak Berti.
"Tidak Pak, saya mau ke kampus" balas Amrita tersenyum.
"Owalah, hati-hati ya Mbak" ujar Pak Berti lagi.
__ADS_1
"Siap Pak. Assalamualaikum" balas Amrita lalu salam.
"Waalaikumsalam" jawab Pak Berti.
Amrita keluar dari rumah sakit lalu masuk ke dalam mobil suaminya. Menghidupkan mesin dan mengendarai mobil suaminya menuju kampus tercintanya.
...ΩΩΩ...
Amrita keluar dari mobil dan langsung mencari teman-temannya. Ia melihat teman-temanya berkumpul di bawah pohon sembari membaca laporan masing-masing. Dengan segera Amrita menghampiri teman kelompoknya.
"Assalamualaikum" Amrita mengucap salam lalu duduk diantara Hanin dan Fakri.
"Waalaikumsalam" balas semua teman kelompoknya bersamaan.
"Kau ya Amrita. Kau memang cocok menjadi menantu Ibu!" ketus Fakri. Ia ingin duduk disamping Hanin agar bisa menyenggol lengan Hanin tapi Amrita sangat tidak mau tahu dan tidak mengerti perasaan Fakri.
"Hehehehe" Amrita dan Hanin terkekeh bersamaan. Keduanya membiarkan Fakri mendengus kesal.
Amrita mengambil laporannya dan mulai mempelajari isi laporannya. Selang beberapa puluh menit, terdengar suara pria sedang mengucapkan salam. Amrita dan semua teman-temanya mendongak. Dan mendapati Kak Ardi tersenyum manis menatap mereka.
"Waalaikumsalam" balas mereka bersamaan. Lalu membuat bundaran.
"Aamiin" balas Amrita dan teman-temannya bersamaan.
Diskusi dimulai. Mereka ditanya satu persatu mengenai isi laporan yang mereka tulis. Dan menjelaskan maksud dari apa yang mereka sebut, saat ditanya oleh Kak Ardi. Suara adzan yang berkumandan indah di sing itu mengakhiri diskusi mereka. Sekalipun waktunya singkat tapi jawaban yang mereka berikan sangat sesui dengan pertanyaan yang dilontarkan.
"Jangan di hapal ya, tapi dipahami. Ini baru diskusi untuk nilai laporan, belum dengan ujian aktif dan pasif" jelas Kak Ardi sebelum mengakhiri diskusi di siang itu.
"Baik Kak"
"Kita akhri diskusi siang ini. Assalamualaikum" ujar Kak Ardi lalu menutupnya dengan salam.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu" balas Amrita dan teman-temanya bersamaan.
--
__ADS_1
Rumah Sakit
Aziz sedang mengambil wudhu lalu mendirikan sholat dzuhur di mushola. Setelah selesai, ia kembali ke ruangannya dan mengambil topperware yang ia bawah pagi tadi. Seulas senyum tersungging saat mendapati pesan yang ditulis istrinya. Iapun mengambil dan membacanya.
"Aku harus makan sebelum kembali bekerja" gumam Aziz sembari membuka penutup tupperware.
Aziz memulai makan siang seorang diri di ruangannya. Hari ini, entah apa yang terjadi pada Safira, wanita itu tidak masuk kerja. Tidak ada Safira rasanya nyaman sekali berada dilingkungan rumah sakit.
"Kenapa masakan anak itu sangat lezat? Apa dia menggunakan jimat yang seperti cerita pada zaman dulu. Atau akunya yang lapar? Atau mulutku yang bermasalah. Jujur saja, masakannya sangat lezat di kunyah dan aromanya harum saat dicium" gumam Aziz lalu memulai makan siangnya.
Setelah makan siang, Aziz beristrahat sejenak lalu kembali bekerja. Hampir tiap hari, pasien datang berobat dan rasanya rumah sakit itu seperti Mall yang dipadati dengan pasien dan keluarga pasien.
RM. Arum Dalu
Amrita dan semua teman kelompoknya sedang menikmati menu makan siang di RM. Arum Dalu. Berasa seperti makan bersama keluarga. Sangat nikmat dan penuh tawa. Candaan dari beberapa temannya mampu membuat mereka semua tertawa lepas.
"Amrita. Jangan lupa minta resep obat pada suamimu. Aku tidak punya kenalan Farmasi ataupun tenaga medis lainnya. Aku berharap padamu" ujar Samna, teman sekelompok Amrita.
"Iya" balas Amrita dengan santai.
"Kita di sini sepuluh orang. Siapa yang punya kenalan seorang Farmasis atau tenaga medis lainnya?" tanya Amrita. Yang angkat tangan lima orang dan tidak angkat tangan lima orang.
"Oke, kita bagi saja. Aku bantu Samna dan yang lainnya bantu yang tidak punya kenalan tenaga medis" jelas Amrita.
"Kalau kebersamaan kita begini terus, aku yakin, kitalah mahasiswa dan mhasiswi yang akan lulus sebelum waktunya" jelas Ade tersenyum.
"Benar sekali. Oh ya, jangan ada yang egois ya. Kita berjuang bersama dan harus keluar dari kampus ini bersama. Kita harus saling membantu satu sama lain. Bukan hanya kita yang di sini saja. Kita juga harus membantu teman-teman yang lain yang membutuhkan bantuan" jelas Fakri.
"Siap ketua" balas yang lainnya bersamaan.
...ΩΩΩΩ...
Senja mulai dijemput malam, sinar lampu jalan kini terlihat indah dijalanan. Malam ini, langit begitu tidak bersahabat dengan bumi. Di bumi, orang-orang sedang menikmati waktu bersama di Pantai Losari, tapi karena curah hujan mulai menetes, hingga orang-orang berlari mencari tempat berteduh.
"Sayang, hujannya awet ya" ujar Aziz yang juga berteduh di dalam mobil yang terparkir di Pantai Losari.
__ADS_1
"Iya, Mas. Dingin-dingin begini enaknya tidur sambil peluk-peluk suami" balas Amrita sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Amrita, apa kau butuh obat lagi? Aku perhatikan dua hari belakangan ini kamu sering merayuku. Apa obatmu kurang, Sayang?" tanya Aziz serius. Jujur saja, Aziz merasa aneh dengan keberanian istrinya yang main nyosor seenaknya saja. Bukannya Aziz tidak suka hanya saja ia bingung.