
Sudah satu jam Aziz menunggu di mobil namun keluarganya tak kunjung keluar dari Mall. Untuk mengurangi kejenuhannya, Aziz memejamkan mata dan menikmati alunan music kesukaannya.
"Kenapa mereka belum keluar juga" gumam Aziz.
Dua jam telah berlalu lagi-lagi Tante Eka, Pa Sofya, Fakri dan Amrita tak kunjung keluar dari Mall. Aziz keluar dari mobil dan masuk ke dalam Mall. Ia mengedarkan pandangannya kesana kemari mencari cari keluarganya.
"Ke mana mereka?" batin Aziz.
"Aziz..." panggil Pa Sofyan.
"Papa, sudah selesai ya Pa?" tanya Aziz tersenyum.
"Sudah apaan, mereka baru saja memilih pakaian" jawab Pa Sofyan tersenyum.
"Apa! Baru memilih pakaian! Papa, sepertinya penglihatanku mulai buram deh Pa" ujar Aziz. Pria itu nampak pusing. Bukan karena diperas keluarganya tapi pusing karena kelamaan menunggu.
"Ya sudah, kamu pulang duluan saja. Nanti kami pulang naik grab" kata Pa Sofyan tersenyum lalu meninggalkan putranya.
Di Ramayana, Tante Eka dan Amrita sedang melihat lihat pakaian yang cocok untuk mereka. Sedangkan Di Matahari, Pa Sofyan dan Fakri juga sedang melihat-lihat.
"Sayang, bagaimana dengan yang ini dan ini?" tanya Tante Eka sembari memperlihatkan dua gamis dengan model yang berbeda dan warna yang berbeda.
"Lebih bagus yang Army Bu, warnanya bagus dan modelnya juga bagus" balas Amrita tersenyum.
"Oke, Ibu mau yang Army saja" kata Tante Eka tersenyum lebar.
Sementara di Matahari, Fakri mendengus kesal karena papanya membeli baju yang pantas digunakan oleh anak muda. "Papa! Baju itu cocoknya untuk aku! Papa sudah tua, ngak cocok Pa!" ketus Fakri.
"Papa masih muda kok, jadi fine fine saja kalau Papa beli baju ini!" ketus Pa Sofyan tak mau kalah.
"Terserah Papa deh, aku malas berdebat. Sudah tua, ngakunya anak ABG" gumam Fakri hampir tak terdengar.
----
Pukul sebelas malam, Aziz terlihat mondar mandir di dalam rumah. Menunggu istri, orang tua dan adiknya. Sekali kali ia melirik jam dinding, di sana, waktu sudah menunjukan pukul sebelas, lewat dua belas menit.
"Sebanyak apa sih yang mereka beli! Kenapa belum pulang juga. Apa Papa dan Ibu lupa kalau aku takut sendirian di rumah sebesar ini!" umpat Aziz dengan nada kesal.
__ADS_1
Beberapa menit setelahnya, terlihat sebuah mobil berhenti di depan rumah. Dengan cepat, Aziz berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. "Mereka tidak boleh tahu kalau aku menunggu mereka" gumam Aziz lalu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Pa Sofyan, Tante Eka, Fakri dan juga Amrita. Mereka berempat turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sembari membawa barang belanjaan mereka.
"Ayo kita tidur, ini sudah larut" ujar Tante Eka berjalan masuk ke kamarnya yang disusul oleh suaminya.
"Iya, Bu. Selamat tidur Ibu, Papa, Amrita" balas Fakri tersenyum sambil memegang paper bag miliknya dan masuk ke dalam kamar.
"Lebih baik aku masuk ke kamar, Mas Aziz pasti sudah tidur" gumam Amrita lalu naik ke lantai dua.
Amrita meraih handle pintu lalu memutarnya dengan pelan. Dilihatnya lampu kamar terlihat redup. Ia pun masuk dan kembali menutup pintu dengan pelan. "Pasti Mas Aziz sudah tidur" batin Amrita.
Aziz yang sejak tadi berpura-pura tidur memilih diam dan sekali kali melirik istrinya yang berjalan mengendap endap. "Dasar nakal, bisa-bisanya dia berjalan seperti seorang penyusup" batin Aziz.
"Jangan lupa cuci kaki dan gosok gigi" ujar Aziz sebelum istrinya merangkak ke tempat tidur.
Jleb!! Amrita menghentikan langkahnya. Lalu tersenyum saat suaminya menekan sakral lampu. "Kenapa Mas belum tidur?" tanya Amrita mengalihkan pembicaraan.
"Mas hanya mau memastikan penyakitmu, sudah sembuh apa belum. Dan ternyata jauh dari kata sembuh" balas Aziz.
"Iya, Mas. Aku akan cuci kaki dan sikat gigi" ucap Amrita yang begitu paham dengan ekspresi wajah suaminya.
Amrita beranjak ke kamar mandi, selang beberapa menit, ia keluar lalu naik ke atas tempat tidur. "Sudah tidur ya, Mas?" tanya Amrita.
"Sudah" balas Aziz.
"Katanya sudah tidur tapi masih menjawab pertanyaan" gumam Amrita dengan pelan.
"Mas, aku pinjam lengannya ya Mas. Agar penglihatanku tidak buram lagi" ujar Amrita sedikit berbisik.
--
Pagi hari
Aziz dan Amrita sedang dalam perjalanan pulang ke perumahan. Bukannya tidak mau tinggal berlama-lama di rumah ibunya, tapi ada laporan milik Amrita yang mau di kumpul dan laporan itu ada di perumahan.
"Mas, kenapa sih Mbak Safira masih mengejarmu sekalipun kau sudah menikah. Apa dulu Mas dan Mbak Safira pernah membuat janji?" tanya Amrita.
__ADS_1
"Mas juga tidak tahu kenapa. Untuk janji, Mas tidak pernah membuat janji dengannya" balas Aziz.
Aziz memakirkan mobilnya di bagasi, lalu dia dan istrinya turun dan masuk ke dalam rumah. Aziz menuju dapur sedangkan Amrita menuju kamar. Di dapur, Aziz sedang membuat kopi. Sedangkan di kamar, Amrita kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Pukul delapan pagi, Aziz yang berada di ruang tengah mengerutkan keningnya. "Kenapa dia belum keluar dari kamar? Apa dia sudah ke kampus" gumam Aziz sembari melipat surat kabar yang ia baca.
Sambil bernyanyi, Aziz menampakan kaki di tangga dan masuk ke dalam kamar. Seulas senyum tersungging di bibir manisnya saat mendapati istrinya tertidur pulas.
"Sayang, apa kau tidak punya jadwal kuliah pagi ini?" tanya Aziz seraya duduk di bibir tempat tidur.
"Ada Mas tapi aku masih mengantuk" balas Amrita meringkuk memeluk guling.
Aziz menghela napas pelan lalu beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Cukup lama Aziz berada di kamar mandi, saat ia keluar, Amrita masih di posisi awal.
"Astagfirullah, apa dia akan terus tidur dan melupakan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa" gumam Aziz.
Drt drt drt... ponsel Amrita berdering. Aziz mendekat lalu menjawab panggilan dari Hanin. "Assalamualaikum, Dek"
"Waalaikumsalam, Kak. Ada Amrita ya?"
"Ada, tapi dia masih tidur. Mau kakak bangunkan dia?"
"Ya Allah, beruntung sekali anak itu. Oh ya, ngak perlu dibangunin kak. Aku menguhubunginya hanya mau menyampaikan berita gembira. Hari ini semua dosen sedang rapat di rektorat jadi tidak ada dosen yang masuk mengajar"
"Ya sudah. Kakak matiin teleponnya ya"
"Iye Kak. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Aziz meletakan ponsel istrinya lalu mulai bersiap-siap. Setelah selesai, ia menghampiri istrinya. "Sayang, uang jajanmu ada di atas nakas. Mas ke rumah sakit dulu" bisik Aziz lalu mencium puncak kepala istrinya.
---
Perumahan Spindleswood Mansion
"Rencanaku kali ini harus berhasil. Aku harus membuat Aziz dan istrinya bertengkar" gumam Safira.
__ADS_1