Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 12


__ADS_3

Seperti rutinitas pagi pada umumnya, mandi, sarapan dan kembali beraktivitas. Itulah yang dilakukan Fattan dan Sakia. Di ruko minimalis dua lantai yang mereka sewa, keduanya sedang sarapan pagi. Sakia masih dengan sikapnya dan Fattan masih dengan usahanya mengejar cinta istrinya.


"Dek, jangan terlalu paksa tenaga. Kalau lelah, Kia bisa pulang istirahat di ruko. Kakak bekerja juga untuk Kia bukan untuk orang lain" kata Fattan mengingatkan.


"Iya, Kak" balas Sakia singkat.


Setelah sarapan, Fattan mengambil tas kerjanya dan juga kunci mobil yang ia letakkan di sofa. "Kakak berangkat dulu" pamit Fattan mengelus kepala istrinya yang kebetulan tidak mengenakan jilbab.


"Iya, hati-hati Kak" balas Sakia tersenyum kemudian mencium tangan suaminya.


Setelah Fattan pergi, Sakia duduk di sofa seraya meraih ponselnya di atas meja dan menghidupkan layar ponselnya. Matanya membulat saat membaca status yang Sabila posting di Aplikasi Facebook.


"Nggak tahu malu, sudah tahu tunangan kakaknya tapi masih mau direbut"


Itulah isi status dalam unggahan Sabila. Wanita yang mulai mencari sensasi, yang alasan kejahatannya masih misteri. Dan tujuannya kabur juga karena apa, semuanya masih tanda tanya dan hanya dia seorang yang tahu alasan sebenarnya.


"Ya Allah Kak Sabila!" Sakia menggeram, meremas ponselnya dengan kuat. "Sepertinya sikapku yang selalu mengalah adalah sebuah kesalahan besar" gumam Sakia.


Sakia menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskan nya pelan. Berusaha serileks mungkin agar pikirannya tenang. Wanita itu ingin mendatangi rumah Mamanya dan kembali melabrak Kakaknya tapi rasanya percuma saja. Papa Aher pasti akan membela Sabila, itulah yang ada di pikiran Sakia.


Drt drt drt...


Ponsel Sakia berdering, terpampang nomor yang tidak dikenal di layar ponsel. Sakia mengerutkan kening menatap panggilan masuk.


"Nomor siapa ini?" gumam Sakia bertanya-tanya. "Assalamualaikum" sapahnya setelah menggeser gambar hijau.


"Iya benar"


"Apa? Bunga? Saya nggak pesan bunga, Pak. Bapak salah alamat kali"


"Ya sudah. Tunggu sebentar ya, Pak"


Tut tut tut... panggilan telepon terputus.


Dengan malas Sakia masuk ke kamar mengambil jilbab lalu turun ke lantai satu lewat tangga samping ruko. Wanita itu menghampiri kurir yang mengantar bunga. Entah dari siapa, yang pasti bunga itu untuk Sakia Putri Ahmadenar.

__ADS_1


"Pak, coba Bapak cek lagi alamatnya. Sempat Bapak salah orang" kata Fadila pada kurir.


"Nggak mungkin toh Mbak. Kan nomor yang saya hubungi berdering dan nama orang yang angkat juga sama dengan nama penerima bunga ini"


"Iya juga sih. Hehehehe" cengir Sakia. Sakia menerima bunga yang dikirim untuknya lalu naik ke lantai dua. Sesampainya di lantai dua, wanita itu meletakkan bunga di atas meja. Bunga yang dikirim untuknya dari orang misterius.


"Siapa sih yang iseng kirimin aku bunga" gumam Sakia.


...--...


Alif memarkirkan mobilnya di depan butik. Pria mandiri itu ke luar dari mobil dan masuk ke dalam butik menghampiri teman bisnisnya. Di dalam butik, sudah ada Nurin, Nada dan Sakia yang sedang packing pesanan costumer.


"Assalamualaikum" ucap Alif tersenyum lebar.


"Waalaikumsalam kakak tampan. Tumben style nya beda. Lagi naksir seseorang ya" ledek Nada terkekeh. Bagaimana tidak, Alif datang dengan style yang cukup memukau. Pria itu mengenakan baju kaos distro lengan pendek warna putih dan celana cino panjang warna crem serta topi baseball resclusive warna putih.


"Kak Alif, kenalin dong" rengek Nurin.


"Aku juga sebenarnya penasaran" timpal Sakia tersenyum lebar.


Alif terkekeh. "Kalian bertiga bisa saja. Hati ini masih untuk orang yang lalu" kata Alif mengukir senyum.


"Dia yang ingkar dia juga yang sedih!" batin Sakia dengan kesal.


"Kia, jangan cemberut dong. Nanti cantiknya hilang" kata Alif menggoda.


"Siapa yang cemberut" elak Sakia. Jelas-jelas wajahnya terlihat kusut tapi masih saja dia mengelak.


...--...


Rumah Sakit di Kota M


Fattan sibuk di UGD bersama beberapa rekan kerjanya. Sejak pagi banyak pasien yang di bawa masuk di UGD dengan keluhan yang berbeda beda. Ada pasien yang keracunan makanan, ada yang kecelakaan, ada yang dari rujukan dari kota lain dan ada pasien yang sesak napas dan masih ada keluhan yang lain. Untung saja ada beberapa dokter muda yang baru ditugaskan di UGD jadi pasien bisa langsung ditangani.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu dari salah satu pasien yang ditangani oleh Fattan.

__ADS_1


"Ibu tenang ya, Buk. Anak Ibu sudah kami tangani. Dan Alhamdulilah, kondisinya sudah membaik" kata Fattan tersenyum.


"Terima kasih banyak, dokter" kata sang Ibu.


"Itu sudah tugas saya, Buk. Saya permisi dulu" kata Fattan.


Kesibukkan membuat Fattan dan dokter yang shift pagi tak menyadari akan waktu yang sudah sore dan sudah saatnya mereka pulang. Fattan melirik jam tangannya, waktu sudah menunjukan pukul lima sore, sudah saatnya dia pulang dan beristirahat. Berhubung dokter yang shift malam sudah datang maka Fattan memilih pulang ke ke ruko.


Di perjalanan pulang. Fattan terlihat tidak bersemangat. Pria itu bingung dan tidak tahu cara menyenangkan hati wanita. Dia dan Sabila tidak pacaran dan langsung lamar begitu saja. Tahu cara berciuman pun karena Sabila yang selalu main nyosor jika mereka bertemu. Itulah salah satu perbedaan Sakia dan Sabila. Sakia menjaga diri, sedangkan Sabila kebalikan dari Sakia.


Fattan menepikan mobilnya dipinggiran jalan. Pria itu ke luar untuk membeli terang bulan dan minuman dingin. Setelah membeli terang bulan dan minuman dingin, Fattan kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanannya.


...---...


"Assalamualaikum" Fattan mengucap salam sambil mengetuk pintu.


Sakia yang sementara mengaji, wanita itu bergegas membuka pintu untuk suaminya. "Waalaikumsalam" balas Sakia lalu mengambil tas dan kue yang di bawa suaminya


"Kakak, ini punya siapa?" tanya Sakia seraya meletakkan terang bulan dan minuman dingin di atas meja.


"Untuk kita" balas Fattan sambil mendudukkan bokongnya di sofa dan memejamkan mata.


Sakia menatap suaminya yang terlihat letih. "Kasihan Kak Fattan, dia pasti lelah" batin Sakia. Wanita itu duduk di samping suaminya. "Kakak, belakangi Kia" titah Sakia.


Fattan membuka matanya, menatap istrinya dengan bingung. "Untuk?" tanya Fattan.


"Jangan banyak tanya. Cepat belakangi Kia" titah Sakia.


Fattan pun menurut. Pria itu membenarkan posisi duduknya dan membelakangi istrinya. Beberapa puluh detik setelahnya, ia mengukir senyum saat istrinya memijat kedua bahunya.


"Ya Allah, betapa bodohnya aku. Aku menyia-nyiakan cinta seorang wanita yang begitu tulus padaku" batin Fattan.


Cukup lama Sakia memijat bahu suaminya. "Maafkan aku Kak Fattan. Maafkan sikapku yang egois ini" batin Sakia.


"Kia" panggil Fattan berbalik menghadap istrinya, namun Sakia memilih menundukkan pandangannya menghindari tatapan suaminya. Memang perasaan cinta sudah tidak ada untuk suaminya tapi rasa sayang sebagai kakak beradik itu masih ada.

__ADS_1


"Kakak nggak akan meminta hak Kakak selama Kia masih belum membuka hati untuk Kakak. Kak Fattan nggak mau, Kia melakukannya karena terpaksa. Sudah cukup Kakak melakukan kesalahan di masa lalu. Sudah cukup Kak Fattan melukai hati Kia. Kak Fattan nggak mau menambah luka itu lagi" ungkap Fattan dengan serius.


"Kak Fattan, sekalipun Kia nggak mencintai Kakak lagi. Tapi Kia adalah istri sah Kak Fattan. Menerima Kakak sebagai suami Kia maka itu tandanya Kia siap dengan semua kewajiban yang harus Kia jalani, bahkan urusan ranjang sekalipun. Nggak ada kata terpaksa lagi. Tak ada cinta bukan berarti kewajiban harus diabaikan" jelas Sakia.


__ADS_2