
Hai kakak. Kalian bisa membaca ulang episode 70. Ada beberapa ratus kata yang saya tambahkan di sana 😊
Happy reading
----
Aziz baru saja tiba di rumah, di dalam rumah nampak tak seperti biasanya. Jika biasanya lampu selalu menyala maka kali ini lampu terlihat redup. Bahkan seperti lampu yang di rumah hantu, berkedip kedip.
"Aku ucap salam apa ngak usah ya. Kalau ucap salam, takutnya hantu yang jawab. Tapi ngak baik jika ngak ucap salam" gumam Aziz berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum" Aziz mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" sahut seseorang di tangga. Berdiri mengenakan pakaian cream namun terlihat putih.
"Ka-kau siapa? Di mana istriku?" tanya Aziz dengan dingin. Peluh mulai bercucuran, sekali kali ia menelan salivanya.
"Istrimu sedang di kamar, dia menunggumu di sana. Hahahahahaha. Aku menguncinya agar kau tidak bermalam jumat dengannya. Hahaha"
"Dari mana kau tahu kalau kami---"
"Tentu saja aku tahu, Aziz... jika kau ingin bermalam jumat dengan istrimu maka izinkan aku menciummu dan melihat apa yang akan kalian lakukan malam ini. Hik hik hik hik..."
"Mau melihat? Bukankah kau selalu melihat manusia melakukannya" ucap Aziz dengan gugup.
"Hahahahaha. Aku lupa"
"Tunggu" gumam Aziz pelan. "Masa iya hantu bisa menginjak tangga" sambungnya membulatkan mata. "Jangan bilang dia, Amrita" gumamnya.
"Amrita... cepat nyalakan lampunya atau aku makan semua obatmu!" teriak Aziz dan mengancam istrinya.
"Hahahaha" tawa Amrita pecah lalu menekan sakral lampu yang berada di dinding bagian tangga, tepat disampingnya.
"Astagfirullah. Amrita..." Aziz memegang dadanya yang sedari tadi berdetak cepat.
"Mas, aku tidak bermaksud menjahilimu. Lampunya saja yang berkedip-kedip. Coba Mas lihat lampu yang di dapur, sejak tadi berkedip-kedip. Hanya lampu di ruang tengah saja yang normal" ungkap Amrita sembari menuruni anak tangga.
__ADS_1
"Alasanmu saja!" ketus Aziz.
"Hehehehe" kekeh Amrita. "Cepat mandi, Mas. Tubuhmu bau obat di rumah sakit"
"Iya. Ini obatmu, aku mau mandi dulu" ujar Aziz sembari menyerahkan kue brownis untuk istrinya.
"Terima kasih suamiku. Kau memang yang terbaik, yang terindah, yang penakut hantu dan--"
"Dan apa lagi?" sambung Aziz dengan sorot mata tajam.
"Hahahahah. Aku mencintaimu" balas Amrita lalu mengecup pipi suaminya.
Aziz menyunggikan senyum, namun hanya sekilas. "Jangan lupa sebelum tidur" ujarnya berlalu menaiki tangga. Sepanjang jalan, Aziz terus tersenyum.
---
Aziz menghampiri istrinya yang sedang santai menyaksikan siaran televisi. Pandangannya terhenti pada kotak brownis yang masih utuh. "Sayang, kenapa kamu tidak makan obatmu?" tanya Aziz mengambil tempat di sisi kanan istrinya.
"Tunggu kamu, Mas. Biar terlihat romantis gitu. Tadi aku cari di geogle, dan aku menemukan ini. Mereka menyarankan untuk memulai dari hal-hal kecil" jelas Amrita.
"Kau pandai sekali" balas Amrita tersenyum. "Sekarang Mas ambil leptop nanti aku yang memesan minuman. Mas mau rasa apa?" tanya Amrita.
"Kalau bisa cari yang ada Ice tea" balas Aziz. Lalu ke kamar mengambil leptopnya.
Amrita menghidupkan layar ponselnya dan mulai mencari beberapa menu minuman dingin ala restoran. Ice tea dan malk tea, dua minuman yang ia pesan untuk menjadi pasangan brownis original.
Aziz menuruni anak tangga sambil membawa leptop. Kemudian meletakkan leptop di meja dan dia mulai membenarkan sofa bed agar dia dan istrinya bisa menikmati brownis, ice tea ditemani Drama Korea yang bagus-bagus.
"Sayang, judul drama apa yang bagus?" tanya Aziz sembari menghidupkan leptopnya.
"Yang menurutmu bagus" balas Amrita tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel genggamnya.
Beberapa belas menit setelahnya, terdengar ponsel Amrita berdering. Amrita menjawab panggilan telepon dan mengambil uang di samping televisi lalu keluar untuk mengambil pesanannya.
"Ini uangnya Pak. Ambil saja kembaliannya" ucap Amrita pada seorang kakek yang membawa pesanan mereka.
__ADS_1
"Alhamdulilah. Terima kasih banyak ya Nak" ucap sang bapak dengan netra mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sama-sama Pak. Hati-hati di jalan, saya masuk dulu" kata Amrita tersenyum lalu masuk ke dalam rumah.
Amrita menghela napas pelan, dan meletakkan minuman dingin di atas meja samping leptop. "Mas, kasihan ya Papa yang tadi. Dia sudah tua tapi masih bekerja. Harusnya Papa yang sudah berumur begitu tidak bekerja lagi" ujar Amrita dengan sedih.
"Aku tidak melihatnya, karena kau yang menerima pesanan. Jika benar katamu, mulai dari sekarang kita harus menyisipkan uang untuk masa tua kita nanti. Kita tidak tahu, ajal datangnya kapan. Jika datangnya sebelum tua seperti Papa tadi ya uangnya bisa digunakan oleh anak-anak kita nanti" jelas Aziz.
"Anak-anak" gumam Amrita pelan lalu menatap suaminya. "Mas, kenapa aku belum hamil juga" sambungnya cemberut.
"Sabar dan jangan lupa berdoa disepanjang waktu. Kita tidak tahu doa mana yang akan dikabulkan Allah. Dan satu lagi, ingatkan dirimu bahwa pernikahan kita karena Allah. Dengan begitu, diberi rezeki dengan tidaknya kau bisa menerima kenyataan dan rumah tangga kita akan tetap harmonis. Kebanyakan perceraian dengan alasan tidak bisa memiliki anak adalah pernikahan yang bukan karena Allah. Yang ada dipikiran mereka hanya menikah untuk mendapatkan keturunan" jelas Aziz.
Amrita merasa terharu mendengarnya. Jika Aziz berucap begitu maka Amrita tidak perlu takut. Karena selama ini, Amrita takut jika dia tidak bisa memberi keturunan pada suaminya maka suaminya akan menceraikan dirinya.
"Iya, Mas" balas Amrita tersenyum.
Amrita dan Aziz mulai mengunyah kue brownis sambil menikmati Drama Korea yang aktornya sangat tampan dan cantik. Saat keduanya sedang hanyut dalam adegan romantis yang ada di dalam Drama. Bunyi bel rumah berdentang berulang kali. Amrita dan Aziz pun menghentikan ciuman mesra yang sudah sepuluh menit lamanya.
"Aku yakin, itu pasti Aher" gumam Aziz pelan.
"Sepertinya iya" sambung Amrita.
Aziz beranjak dari sofa bed lalu menghampiri pintu. Dan benar saja, Aher yang menekan bel rumah. Di depan pintu, Aher datang sembari membawa beberapa snek, minuman kaleng dan makanan berat yaitu ayam lalapan.
"Apa yang kau bawa?" tanya Aziz mengerutkan keningnya.
"Assalamualaikum" Aher mengucap salam sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya. Bahkan pria itu langsung masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam" balas Aziz dan Amrita bersamaan. Aziz menutup pintu menyusul sahabatnya.
Aher meletakkan tentengan yang ia bawa di atas meja. Ia mengalihkan pandangannya saat sorot matanya tanpa sengaja melihat adegan romantis di layar leptop. "Tolong ganti dramanya. Aku jomblo dan masih berduka sekarang" pintah Aher.
Aziz terkekeh, begitupun dengan Amrita. Namun dengan segera, Amrita mengganti drama sesuai permintaan Aher. "Om dari mana?" tanya Amrita.
"Aku baru dari restorant. Menguntit Madania yang sedang jalan berempat dengan dua orang pria dan satu wanita" balas Aher dengan sedih.
__ADS_1