
Amrita terlihat mondar mandir di lantai satu. Ia masih memikirkan perkataan suaminya yang tadi. Untuk menghilangkan prasangkanya yang tidak-tidak, Amrita memilih ke luar dari perumahan lalu duduk di pos Satpam bersama para satpam.
"Lagi galau ya mbak?" tanya seorang Satpam yang bernama Adis.
"Memangnya saya terlihat seperti orang yang sedang galau? Amrita balik bertanya.
"Sangat jelas. Saya yakin, Mbak pasti galau tinggal di rumah sebesar ini tapi hanya berdua. Sabar ya Mbak, mungkin Allah sedang menguji Mbak dan Mas hingga Allah masih menundah untuk menitipkan kepercayaan kepada kalian" jelas Pa Adis.
"Mbak harus banyak berdoa. Saya saja, 10 tahun menikah baru diberi anak" timpal Pa Sam, yang juga berprofesi sebagai satpam.
"Mbak yang sabar ya. Allah pasti akan memberikan kalian anak" ujar Pa Adis.
"Bagaimana bisa aku tahu ujian apa yang diberikan Allah padaku. Melakukannya saja belum" batin Amrita.
"Pa, saya masuk ke dalam rumah dulu ya. Assalamualaikum" kata Amrita lalu pergi meninggalkan pos satpam.
Di dalam rumah, Amrita merebahkan tubuhnya di sofa. Memandang ke atas sembari memejamkan matanya sejenak. Karena merasa bosan, Amrita mengambil ponselnya di dalam kamar. Menghidupkan layar ponsel untuk melihat-lihat pakaian di aplikasi Shope.
"Bagus sekali baju ini" gumam Amrita pelan saat melihat baju kebaya couple.
RS Awal Bross
Di rumah sakit, Aziz dan Aher sedang beristrahat diruangan Dokter Aher. Sesekali terdengar tawa keduanya. Entah apa yang membuat Aziz dan Aher tertawa. Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan pintu ruangan.
"Masuk" sahut Aher dari dalam.
Cek-lek... seseorang membuka pintu. Di depan pintu, ada Anaya yang sedang berdiri dengan senyum manisnya.
"Maaf, aku kesini tanpa menghubungi kalian" kata Anaya mengambil tempat disamping Aziz.
"Apa yang membuatmu ke sini?" tanya Aher.
"Aku mau antar ini untuk kalian berdua. Aku harap kalian bisa datang" jawab Anaya sembari meletakkan dua undangan pernikahan untuk Aziz dan Aher.
__ADS_1
"Subhanallah, jadi apa yang dikatakan Rikal itu benar" ujar Aziz tak percaya. Ada rasa legah saat ia melihat undangan pernikahan dari mantan kekasihnya.
"Rikal? Rikal yang pernah kamu kenalkan padaku dulu?" tanya Aher pada Aziz.
Aziz menggangguk. "Ya, itulah calon suaminya" balasnya santai.
"Subhanallah. Akhirnya sahabat wanitaku ini akan menikah dengan pria yang aku kenal. Kamu jangan cemas, aku pasti akan datang" kata Aher tersenyum manis pada Anaya bergantian dengan Aziz.
"Aku pamit pulang. Oh ya Aziz, jangan datang seorang diri" kata Anaya tersenyum lalu ke luar dari ruangan Aher.
Pukul 04:00, Aziz bergegas pulang dari rumah sakit. Ia melanjukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Perumahan. Tak membutuhkan waktu lama, Aziz pun sampai di Perumahan. Dengan langkah cepat Aziz berjalan masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum. Amrita, aku sudah pulang. Kamu di mana?"
Satu menit telah berlalu namun Amrita tak kunjung menghampiri suaminya yang tengah duduk di sofa yang ada dilantai satu. Aziz mengambil ponselnya, mencoba menghubungi istri nakalnya.
"Bukannya itu nada dering ponsel Amrita" gumam Aziz saat mendengar nada dering ponsel istrinya yang terdengar tidak jauh dari duduknya.
"Motornya ada di garasi, ponselnya ada di sofa. Lalu dia di mana? Apa dia di kamar sebelah?" kata Aziz lalu ke luar dari kamar. Aziz berjalan menuju kamar yang dulu ditempati istrinya dan Amrita tidak ada di sana. Aziz terlihat panik, ia berlari menuruni anak tangga dan ke luar dari perumahan menuju pos satpam.
"Maaf Mas, Mas kenapa? Kenapa Mas terlihat panik?" tanya Pa Adis saat melihat Aziz panik.
"Apa kalian melihat istri saya?" tanya Aziz.
"Tadi pagi kami melihatnya, bahkan kami bercerita di sini. Setelah itu Mbak Amrita masuk ke dalam rumah dan sampai sekarang Mbak Amrita tidak ke luar rumah" jelas Pa Adis.
"Ya Allah, Amrita di mana" gumam Aziz mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya sudah Pa' saya masuk ke dalam rumah dulu" kata Aziz lalu berlari kecil menuju rumahnya. Sesampainya di dalam, tepatnya di depan pintu kamar, Aziz terlihat berkeringat dingin, entah apa yang ia lihat hingga ia seperti itu.
"Hantu...!!" teriak Aziz. Saat Aziz hendak lari, Amrita menarik kerak baju suaminya.
"Mas, ini aku, Amrita. Aku bukan hantu, aku sedang pakai bedak yang terbuat dari beras goreng dan kunyit" jelas Amrita.
__ADS_1
"Siapa yang memberimu resep itu. Sumpah demi Allah, kamu terlihat seperti hantu" kata Aziz sembari mengelus dadanya.
"Hahahahaha. Ini resep selalu aku pakai saat masih sekolah. Dan hasilnya benar-benar terbukti. Buktinya wajah aku putih dan mulus" jelas Amrita bangga.
"Sekarang Mas pergi mandi, aku mau mandi di kamar sebelah. Selesai mandi dan bersiap-siap, kita turun ke bawah. Aku sudah siapkan makanan kesukaan Mas" kata Amrita bergegas ke kamar yang pernah ia tempati dulu.
---
Seusai makan malam, Aziz dan Amrita memilih duduk santai di balkon kamar. Keduanya duduk menghadap jauh ke jalanan. Memandangi mobil yang berlalu lalang di malam hari. Hembusan angin membuat kedunya kedinginan hingga memilih masuk ke dalam kamar. Aziz merebahkan tubuhnya di kasur, begitupun dengan Amrita.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Aziz menatap manik mata Amrita.
"A-aku--" Amrita terlihat gagap. "A-aku su-su-sudah siap" balasnya.
Aziz tersenyum, hembusan napasnya bisa didengar oleh Amrita. "Apa kamu sudah siap?" tanya Aziz pelan.
Amrita mengangguk, membuat Aziz menyunggingkan senyum. Malam minggu, menjadi malam pertama mereka. Malam ini, Amrita sudah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
---
"Akkhhhh...!!" Amrita berteriak saat ia melihat jam dinding. Di dinding, terlihat arah jarum jam berada di angka sepuluh.
"Aku pasti mimpi. Sejak kapan aku bangun tidur di pukul sepuluh pagi" gumam Amrita pelan.
"Sayang, kamu sudah bangun" tanya Aziz dari depan pintu, berjalan menghampiri Amrita yang sedang membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Sepertinya aku mimpi buruk. Sejak kapan Mas Aziz memanggilku sayang" gumam Amrita pelan.
Aziz terkekeh mendengarnya. Ia mengambil tempat disamping Amrita. "Kamu tidak sedang bermimpi. Ini adalah kenyataan, kenyataan bahwa semalam kamu bersemangat dan kenyataan bahwa pagi ini aku memanggilmu dengan sebutan sayang" jelas Aziz.
"Mas yang bersemangat, bukan aku!" ketus Amrita.
"Ya sudah. Sekarang kamu bangun dan pergi mandi. Setelah itu temui aku di dapur. Karena ini sudah jam 10 pagi maka kamu harus makan nasi dan ikan. Aku sedang memanggang ikan kakap untuk kamu" ujar Aziz tersenyum.
__ADS_1