
Alif pamit setelah mengucapkan kata maaf pada Sakia. Sakia dan Alif tidak pacaran, keduanya hanya berteman tapi Alif selalu menganggap Sakia adalah pacarnya. Bahkan Alif mengatakan pada Sakia, bahwa dia akan datang melamar Sakia dalam waktu dekat. Namun siapa sangka, saat ia mengutarakan niat baiknya pada Papa Fakri dan Mama Hanin, kedua pasangan itu memberinya jawaban yang yang tak terduga.
Alif memarkirkan mobilnya di depan Perumahan Hertasning blok A19. Pria itu keluar dari mobil dan langsung menekan bel rumah berulang kali. Tak lama menunggu, seseorang dari dalam rumah membukakan pintu. Dan orang itu adalah Fattan.
"Alif, ayo masuk" ajak Fattan mempersilahkan adik sepupunya masuk.
Alif masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengucap salam. Langkahnya terhenti di ruang tamu karena di ruang keluarga ada Papa Aziz yang sedang menyaksikan siaran langsung di chanel Indosiar.
"Di sini saja. Aku perlunya sama Kak Fattan" kata Alif lalu duduk di sofa.
Fattan mengerutkan keningnya dan iapun duduk di sofa bersama Alif. "Ada keperluan apa?" tanya Fattan penasaran.
"Mengenai Kia" balas Alif dengan serius. "Kia adalah wanita sering aku ceritakan pada Kak Fattan. Kakak tahu sendiri kan bagaimana besarnya rasa sayang dan cintaku padanya. Aku merelakan dia demi Kak Fattan. Jadi jangan kecewakan aku. Aku akan merebutnya kembali bila Kakak menyakiti hati apalagi fisiknya"
"Aku pulang dulu" kata Alif beranjak dari duduknya. Mengucap salam lalu melangkahkan kaki menuju pintu.
"Kenapa kau membiarkan dia menikah denganku bilang memang kau mencintainya?" tanya Fattan.
Alif menghentikan langkahnya, tersenyum dan berbalik menatap Fattan. "Tanpa aku jawab, kakak pun tahu jawabannya" kata Alif lalu pergi.
Setelah kepergian Alif, Fattan mengusap wajahnya dengan kasar. Ada satu hal yang membuatnya merasa cemas, kalimat Alif yang berkata akan merebut Sakia darinya.
"Kenapa aku merasa kalimat tadi adalah ancaman. Bukankah aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada Kia. Lalu kenapa aku merasa cemas dan merasa takut Alif merebut Sakia dariku" batin Fattan.
"Akkhh! Ada apa denganku!!" teriak Fattan bergeges ke lantai dua melewati Papa Aziz.
...--...
__ADS_1
Di lain tempat, Sakia sedang siaran langsung di group Makassar dagang. Wanita itu mempromosikan baju gamis terbaru yang ia jual. Hampir satu jam Sakia melakukan siaran langsung. Setelah melakukan siaran langsung, Sakia melirik jam dinding.
"Sudah jam setengah sebelas" gumam Sakia. Lalu melirik Nurin dan Nada yang sibuk mengepak barang untuk dikirim ke pembeli.
"Dek, ini yang di packing yang keep kemarin ya?" tanya Sakia mengambil tempat diantara Nurin dan Nada.
"Iya, Kak. Ini gamis yang kemarin di keep saat Kakak siaran langsung. Bukti transfer nya sudah mereka kirim" jelas Nurin.
"Kak Kia, kemarin ada yang DM (Direct Message) aku. Katanya sih dia seorang desainer dan tertarik dengan hasil desain Kakak yang aku share di Instagram" ujar Nada sambil mengepak barang.
"Hahahahaha" Sakia tertawa. "Mana ada desainer yang suka desainku, Dek" sambungnya tersenyum.
"Mana lagi yang di packing biar Kak Kia bantu" ujar Sakia.
"Tuh, kami sudah pisa-pisakan jadi tinggal di packing saja" balas Nada sambil menunjuk barang yang belum di packing.
Setelah mengepak barang yang mau di kirim di berbagai alamat, Sakia, Nurin dan Nada duduk di sofa. Hampir seratus barang yang mereka packing. Barang itu akan di kirim di dalam kota, luar daerah dan ada yang diluar Kota Makassar.
"Iya" timpal Nurin.
"Aku juga lelah, tapi penurut ku minta diisi" ujar Nada cemberut.
Sakia dan Nurin tertawa. "Ayo kita makan" ajak Sakia. Sakia dan kedua karyawannya pun pergi di rumah makan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari butik. rumah makan Padang, adalah rumah makan yang banyak dikunjungi masyarakat setempat.
...---...
Hari menjelang sore, Sakia dan kedua pegawainya kembali ke rumah masing-masing. Dan kini, Sakia sudah berada di depan perumahan blok A19. Di depan pintu, ada Fattan yang sedang berdiri menatap istrinya.
__ADS_1
"Assalamualaikum" Sakia mengucap salam lalu mencium tangan suaminya. Sementara tangan kirinya memegang pesanan Papa Aziz.
"Waalaikumsalam" balas Fattan.
"Kakak tunggu siapa? Kok berdiri di depan pintu?" tanya Sakia.
"Iya juga ya, kenapa aku berdiri di sini. Kenapa aku keluar saat mendengar bunyi motornya" batin Fattan.
"Tadi Kakak dari depan, pas mau tutup pintu, Kia datang jadi Kak Fattan tunggu Kia sekalian" jelas Fattan berbohong.
"Owww" hanya itu respon dari Sakia. Wanita itu melangkahkan kaki menuju ruang tengah. Ruangan kesayangan Papa Aziz. Ruangan yang dipenuhi kenangan indah bersama almarhum Mama Amrita.
"Papa, ini pesanan Papa. Cappucino dan brownies original" ujar Sakia tersenyum seraya meletakkan kue brownies dan Cappucino di atas meja.
"Terima kasih anak mantu kesayangan Papa" ucap Papa Aziz tersenyum.
"Sama-sama, Papa" balas Sakia. Sakia naik ke lantai dua setelah meletakkan pesanan Papa mertuanya. Wanita itu berniat mandi kemudian memasak.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian. Sakia turun ke lantai satu menuju dapur. Wanita itu mengeluarkan sayur dan ikan dari kulkas. Kemudian merendam ikan di baskom kecil. Lalu mencuci sayur yang akan dimasak. Beberapa puluh menit kemudian, makanan sudah tersaji di atas meja. Untuk rasa makanan jangan ditanyakan lagi, sudah pasti Sakia ahlinya. Hasil dari kerja keras saat wanita itu masih mengejar cinta Fattan tempo dulu.
"Hahahaha" Sakia terkekeh. "Lucu sekali. Dulu aku bersikukuh untuk bisa memasak. Dengan begitu, aku bisa memasak makanan yang enak untuk Kak Fattan, Kak Fadila dan Papa Aziz. Dan sekarang aku memasak untuk mereka, tapi ada yang hilang, yaitu rasa cintaku. Jika dulu aku memasak dengan perasaan cinta maka sekarang aku memasak hanya karena tugasku sebagai seorang istri" sambungnya menatap makanan yang tersaji.
Tanpa Sakia sadari, Fattan mendengar semuanya. Pria itu cepat-cepat ke ruang keluarga sebelum Sakia menyadari keberadaannya. Di sofa, Fattan duduk di samping Papanya. Sekali kali Fattan melirik Papanya yang sibuk mengunyah brownies sambil membaca buku.
"Kamu kenapa? Dari pagi tadi kamu seperti cacing. Apa susahnya bilang cinta ke istri kalau memang cinta" tegur Papa Aziz yang mulai kesal melihat kebodohan putranya.
"Pa, Papa tahu sendiri kalau aku sukanya sama Sabila, bukan Sakia" elak Fattan.
__ADS_1
"Terserah kamu saja. Papa malas ladenin kamu yang bodohnya nggak ketulungan" ujar Papa Aziz. Pria paruh baya itu mengambil kue, cappucino dan buku cetaknya lalu berpindah ke kolam renang.
"Cinta sama Kak Sabila tapi nggak cari Kak Sabila saat Kak Sabila lari. Aneh tapi nyata" Sakia menyindir suaminya lalu menapakkan kaki di tangga menuju lantai dua.