Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 91


__ADS_3

Pukul dua malam. Tangis Fadila terdengar nyaring namun semua orang dewasa tertidur pulas. Fattan, yang mendengar tangisan adiknya, anak kecil itu mengerjap dan bangun menenangkan adiknya. Fadila terus menangis menunjuk pintu rumah. Anak kecil itu seakan melihat sesuatu yang menyeramkan. Dan benar saja, ada bayangan putih yang berdiri di depan pintu.


"Nenek... Nenek... Nenek... tetang" ujar Fattan sambil menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh neneknya.


"Fattan, kenapa adikmu menangis Nak?" tanya Aziz keluar dari kamar. Sementara Tante Eka tak kunjung bangun dari tidurnya. Begitupun dengan Mbak Ima.


"Papa, tetang" ujar Fattan menunjuk pintu.


Degh!! Aziz yang juga termasuk pria penakut hampir saja berlari masuk ke dalam kamar. Namun ia juga tidak mungkin meninggalkan putri dan putranya.


"Fadila, ayo sini Sayang" ajak Aziz meraih tangan putrinya. Lalu menggendong Fadila dan Fattan bersamaan.


"Sekarang Fattan tidur disamping Mama, Fadila disamping Papa" kata Aziz menurunkan kedua anaknya di ranjang.


Fattan berbaring menghadap mamanya dan Fadila berbaring menghadap papanya. Terlihat Fattan dan Fadila tidur saling membelakangi. "Selamat tidur anak Papa" ujar Aziz mengelus kepala Fattan lalu berpindah memeluk Fadila.


--


Pukul lima subuh, Tante Eka menangis setelah membaca pesan dari iparnya, yaitu Zulfikar, suami Tante Eqi. Tante Eqi kembali jatuh sakit sehari sebelum dinyatakan meninggal oleh Dokter.


"Eqi... secepat itu Allah memanggilmu, Qi... Sekarang aku tidak punya saudara lagi" ujar Tante Eka disela sela tangisnya.


Mbak Ima, Pa Sofyan dan Fakri bangun saat mendengar suara tangis Tante Eka. Bukan hanya mereka bertiga, Aher dan Mahdania pun terbangun dari tidurnya lalu keluar dari kamar. Mereka mendekati Tante Eka dan duduk bersila menatap wanita paruh baya yang sedang berduka.


"Tante Eka kenapa?" tanya Aher dengan pelan.


Tangis Tante Eka semakin menjadi jadi. Aziz dan Amrita yang barusaja selesai shalat subuh menghampiri keluarganya yang kini diruang keluarga. "Ibu kenapa?" tanya Amrita.


"Tante Eqi, Nak. Tante Eqi meninggal semalam" balas Tante Eka sesegukan.


Degh!! Semua yang ada di ruang keluarga seketika mengucapkan kalimat istirja bersamaan.


إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ

__ADS_1


"Inna lillahi wa innaillahi rajiun"


Pa Sofyan mendekati istrinya dan memeluknya. Memberi ketenangan pada sang istri. "Ibu masih ada Papa, ada Aziz, Fakri, Amrita, dan kedua cucu kita. Bahkan Ibu masih punya Aher, Mahdania dan Mbak Ima. Mereka bertiga juga sudah menganggap kita sebagai keluarga. Jika kita bukan keluarga, maka kita tidak akan tidur di rumah yang sama" ujar Pak Sofyan seraya mengelus kepala istrinya.


"Benar apa kata Om Sofyan. Kami adalah keluarga Tante. Tante masih punya kami. Tante yang kuat, yang sabar dan ikhlas" timpal Aher menguatkan Tante Eka.


"Semoga Allah menerimah semua amal baik Tante Eqi. Dan semoga beliau meninggal dalam keadaan husnul Khatimah. Aamiin" sambung Mahdania mendoakan.


"Fakri, pesankan Ibu dan Papa tiket hari ini juga. Jika ada yang berangkat pagi ini maka beli yang pagi" titah Pak Sofyan.


"Papa... Mama..." panggil Fadila yang baru saja membuka mata.


Amrita dan Aziz yang sedari tadi terdiam, keduanya berlari masuk ke kamar menghampiri anak mereka. Lalu keluar dan bergabung dengan yang lain.


"Kalian mau tahu nggak sih. Semalam jam dua, Fadila menangis melihat bayangan di depan pintu. Fattan membangunkan Ibu tapi Ibu nggak bangun. Syukur aku dengar tangisan Fadila jadi aku keluar. Akupun takut saat melihat ke arah yang ditunjuk Fattan. Mana Fattan sebut setan lagi" ungkap Aziz.


"Pantas saja. Jam empat subuh Mbak bangun nggak lihat Fattan dan Fadila" timpal Mbak Ima.


"Papa, ada penerbangan jam 07:25 pagi. Pesawat Lion Air. Pesawat yang lain ada tapi berangkatnya siang. Ada juga yang pagi tapi transit" jelas Fakri sambil melihat jadwal penerbangan di aplikasi Traveloka menggunakan ponsel papanya.


--


Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin


Tante Eka dan keluarganya kini berada di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Yang berangkat ke Jakarta hanya Tante Eka dan Pak Sofyan. Yang lainnya hanya sekedar mengantar. Pak Sofyan masuk ke dalam bandara melakukan check-in, setelah itu keluar diruang kedatangan dan duduk bersama keluarganya.


"Perhatian, para penumpang pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-871 tujuan Jakarta dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu lima. Terima kasih"


"Kami masuk dulu ya" pamit Pa Sofyan, tersenyum pada keluarganya.


"Fakri, Mbak Ima, jangan tidur di tempat lain. Kalian harus tinggal dengan Aziz selama kami belum pulang" sambung Pak Pak Sofyan mengingatkan. Bagaimana tidak, beberapa tahun lalu saat Pak Sofyan dan Tante Eka ke Jakarta, Fakri bermalam di beskem sementara Mbak Ima numpang tidur ditetangga rumah.


"Iya, Pa" balas Fakri dan Mbak Ima bersamaan.

__ADS_1


"Bye bye cucu Kakek" ucap Pa Sofyan, mencium Fattan dan Fadila.


Pak Sofyan menuntun istrinya masuk ke dalam bandara lalu naik ke lantai dua menuju pintu lima. Tante Eka terus diam, matanya terlihat sebam. Sementara di ruang kedatangan, Aziz dan yang lainnya masuk ke dalam mobil. Dalam perjalanan pulang, Fattan dan Fadila terus tertawa diajak main oleh Fakri.


Aziz menepikan mobilnya di depan kampus, dimana istri dan adiknya kuliah. "Fattan, Fadila, Mama dan Om mau belajar dulu ya" ujar Amrita pada kedua anaknya.


"Hiks, hisk, hiks..." Fadila menangis meminta ikut bersama Mama dan Omnya.


"Mas, bagaimana ini?" tanya Amrita melihat putrinya menangis. Jiwa keibuannya, membuatnya tak tega melihat anaknya menangis.


"Ya sudah. Mbak Ima, Mbak sama mereka saja. Mbak jaga Fattan dan Fadila selama Amrita pengurusan di kampus. Fakri, tolong bantu Amrita selama bisa diwakili" ujar Aziz pada Mbak Ima dan Fakri.


"Iya, Kak" balas Fakri.


"Iya, Nak Aziz" balas Mbak Ima.


Fakri dan Amrita kembali masuk ke dalam mobil. Sementara Aziz mencari ojek untuk ke rumah sakit. "Hati-hati ya, Mas" ujar Amrita tersenyum.


Setelah Aziz mendapatkan ojek, barulah Fakri menghidupkan mesin mobil dan mulai mengendarai mobil kakaknya menuju parkiran kampus. Di parkiran, Fattan dan Fadila begitu senang melihat banyak orang-orang yang duduk di depan kelas, parkiran, bahkan ada yang berlalu lalang kesana kemari.


"Amrita, itu anak mu?" tanya Bu Fauziah, salah satu Dosen di Fakultas Mipa.


"Iye, Bu" balas Amrita tersenyum.


"Subhanallah. Tampan dan cantik sekali anaknya, Sayang" puji Bu Fauziah. "Kembar ya?" tanyanya.


"Iye, Bu" balas Amrita lagi.


"Nenek" panggil Fadila meraih tangan Bu Fauziah.


"Iya, Sayang. Kamu cantik sekali. Gemes deh" balas Bu Fauziah mencubit pelan pipi cabby Fadila.


"Oh ya Amrita. Jika kamu sibuk, nanti bawah anak kamu ke ruangan Ibu. Mumpung hari ini Ibu mengajar jam satu siang jadi Ibu bisa menjaga mereka berdua" ujar Bu Fauziah tersenyum.

__ADS_1


"Baik, Bu. Terima kasih Bu" balas Amrita tersenyum.


__ADS_2