Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 28


__ADS_3

Seperti rencananya semalam, Nada, gadis cantik dan lucu itu memperhatikan Sakia. Seperti dugaannya, dia bisa menebak bahwa wanita yang dia panggil Kakak telah hilang keperawanannya.


"Semalam mereka melakukannya" batin Nada senyam-senyum. Yang malam pertama Sakia dan Fattan tapi Nada yang bahagia.


"Dek, kok senyam senyum sih" tegur Sakia penasaran.


"Kak Kia, aku juga mau menikah tapi sama siapa? Aku jomblo selama ini. Nggak ada yang mau dekatin aku. Apa karena aku dekil?" kata Nada cemberut.


"Hahahaha" tawa Sakia pecah. "Adik kecilku ini udah kebelet nikah ya" sambungnya terkekeh.


"Sama aku saja, Nad. Mumpung aku juga jomblo" seorang laki-laki tiba-tiba masuk ke dalam butik dan langsung duduk bersila di sofa.


Nada dan Sakia menatap pria yang baru saja masuk. Kening keduanya berkerut dan berusaha mengingat nama pria yang langsung duduk bersila di sofa tanpa dipersilahkan duduk. Nada membulatkan mata saat mengingat namanya.


"Kak Ferri! Sejak kapan Kakak tiba di Indonesia?" tanya Nada.


"Ferri, ini kau? Kau semakin tampan" puji Sakia. Sakia dan Nada mendekati Ferri, menatap lekat wajah pria yang dua tahun lebih berkelana di Belanda.


"Aku tiba tadi subuh. Di mana Alif dan Nurin?" Ferri mengedarkan pandangannya mencari Alif dan Nurin.


Nada dan Sakia duduk di sofa. "Nurin dan Kak Alif di restoran. Mereka berdua ditugaskan menjaga restoran" jawab Nada. "Kakak, mana oleh-oleh?" tanya Nada tersenyum.


"Ada di dalam mobil. Nanti baru Kakak ambil" balas Ferri. Lalu menatap Sakia.


"Kia, aku dengar kau sudah menikah. Di mana suamimu?" tanyanya.


Sakia tersenyum. "Iya, Fer. Aku sudah menikah dan suamiku lagi kerja" jawab Sakia.


Restoran Sedekah


Alif terus memperhatikan Nurin yang sibuk mengantar makanan pada pelanggan restoran. Berbagai cara Alif lakukan untuk meyakinkan Nurin, tapi Nurin masih saja ragu dengan keseriusan Alif. Haruskah Alif menyerah saja atau mengambil jalan pintas? Mendatangi orang tua Nurin di kampung dan langsung melamar Nurin pada orang tuanya. Itulah yang dipikirkan Alif.


"Lebih baik aku ke kampung Nurin. Toh ada Nada yang bisa memberitahuku alamat mereka" batin Alif.


Alif beranjak dari duduknya, mengambil kunci mobil di atas meja lalu berjalan keluar tanpa pamit pada Nurin maupun pada pegawai yang lain. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Aku lupa pamit lagi" gumam Alif. Alif mengambil ponselnya lalu mengirim pesan di group restoran sedekah. Setelah mengirim pesan, Alif mengemudikan mobilnya menuju butik. Tekadnya sudah bulat, yaitu menemui Nada, meminta alamat tempat tinggal Nurin di kampung.


Beberapa belas menit kemudian, Alif memarkirkan mobilnya di depan butik. Pria itu menatap mobil sedan yang terparkir di depan butik. "Plat mobilnya seperti nggak asing" gumam Alif.


"Assalamualaikum" Alif masuk ke dalam butik setelah mengucap salam. Matanya membulat melihat sahabatnya duduk bersila di sofa.


"Waalaikumsalam" balas Ferri, Sakia dan Nada.


"Ferri, ini kau? Sejak kapan kau di Indonesia?" pertanyaan beruntun dilontarkan oleh Alif. Pria itu mengambil tempat di samping Ferri.


"Jam 05:02 AM aku tiba di Bandara Hasanuddin" jawab Ferri.


Alif mengangguk angguk. Lalu menatap Nada yang senyam-senyum. Entah apa lagi yang dipikirkan Nada hingga ia kembali tersenyum. "Nad, aku minta alamat kampung dan rumah kalian" kata Alif.


"Nurin sudah memberi Kakak lampu hijau?" tanya Nada antusias.


Alif menghela napas kasar. "Aku mau ambil jalan pintas. Terserah dia mau membenciku atau nggak. Aku mau lamar dia langsung di hadapan orang tua dan keluarganya" jelas Alif.


"Aku setuju" kata Nada dan Sakia yang penuh antusias.


"Kak Alif mau melamar Nurin tapi Nurin nggak yakin dengan cinta yang Kak Alif ungkapkan padanya. Dia takut dan ragu kalau Kak Alif hanya menjadikannya tempat pelarian setelah ditinggal nikah oleh Kak Kia" jelas Nada.


"Lif, jangan menyerah. Kamu harus merebut hati Nurin. Aku yakin kok, dia menyukai kamu hanya saja dia belum sepenuhnya yakin kalau kamu sudah move on" ujar Sakia.


"Aku heran deh sama wanita zaman sekarang. Kalau diajak pacaran, tentu kesetiaan pria masih diragukan. Tapi ini kan diajak nikah, ya berarti sudah serius dan tidak ada yang namanya main-main" ujar Ferri tak mengerti dengan pikiran para wanita.


"Iya. Maka dari itu aku ke sini mau minta alamat pada Nada" kata Alif.


Ferri mengangguk. Lalu menatap Nada. "Dek, bagaimana? Jadi nikah apa nggak?" tanya Ferri membuat Nada bingung. Sementara Sakia tersenyum.


"Siapa yang mau nikah?" tanya Nada dengan bingung.


"Kita berdua. Kalau mau, nanti Kakak ikut Kak Alif ke kampung. Alif lamar Nurin Kakak lamar kamu" jelas Ferri serius namun dianggap candaan oleh Nada.


"Hahahahaha" tawa Nada pecah. "Datang saja kalau mau datang" kata Nada dengan santai.

__ADS_1


......🍁🍁......


Di rumah hanya ada Fattan dan Sakia, dan seperti kata Fattan sebelumnya, dia akan membiarkan istrinya berpenampilan terbuka di rumah apabila wanita itu sudah jatuh cinta padanya. Dan ya, malam ini Sakia hanya mengenakan baju tunik di atas lutut dengan rambut yang dibiarkan terurai.


"Kia... di mana dalaman Kakak.." teriak Fattan yang sementara berada di walk in closet. Sakia yang sementara menghitung uang di ruang keluarga lantai dua, wanita itu bergegas menghampiri suaminya.


"Astaghfirullah, Kak. Dalaman ada di depan Kakak tuh" kata Sakia sambil menunjuk laci kecil tempat Sakia menyimpan dalaman suaminya.


"Hehehehe" cengir Fattan. Pria itu selalu saja lambat loading jika mencari sesuatu.


Sakia menggeleng pelan, ia mendapatkan ide untuk mempermudah suaminya dalam mencari sesuatu yang dia perlukan. Sakia ke kamar mencari sesuatu lalu kembali memegang spidol permanen.


"Benda apa yang sulit Kakak temukan?" tanya Sakia.


"Hanya dalaman" balas Fattan.


Sakia mengangguk paham. Lalu menulis underpants di tempat penyimpanan dalaman suaminya. "Kalau kakak mau cari dalaman lagi Kakak nggak perlu buka semua laci pakaian, Kakak tinggal cari bacaan underpants" jelas Sakia.


Fattan mengangguk. "Dek, kita buat bayi kecil lagi ya" ujar Fattan tersenyum.


"Sekarang?" tanya Sakia.


"Nanti, setelah kamu menghitung uang" balas Fattan.


Sakia mengangguk lalu kembali ke ruang keluarga dan kembali melanjutkan kegiatannya. Setelah menghitung uang, dia kembali ke kamar. Dimana Fattan sedang menunggunya. Malam ini, keduanya akan kembali melanjutkan kisah cinta yang semalam terhenti karena kelelahan.


......🍁🍁......


Esok harinya


Sakia meringis kesakitan di dalam kamar mandi. Dua malam berturut turut mereka melakukan hubungan suami istri tapi di bawah sana masih saja terasa sakit.


"Kakak, kenapa ini masih sakit?" tanya Sakia menunjuk gua hantunya.


"Itu karena dia belum terbiasa. Kalau udah sering nanti sakitnya bakalan hilang" kata Fattan.

__ADS_1


__ADS_2