Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 46


__ADS_3

"Oeek... oeek..." tangisan bayi laki-laki terdengar dari dalam ruang persalinan.


Tante Anita yakin, itu pasti cucunya. Tante Anita dan keluarga Zakri mengucap basmalah saat mendengar tangisan bayi laki-laki yang tak lain adalah bayi dari pasangan Nada dan Ferri. Mereka bisa tahu karena Nada dan Ferri pernah melakukan USG untuk mengetahui perkembangan dan jenis kelamin anak mereka.


"Mama, aku punya adik baru" lapor Sukma bahagia.


"Iya, Sayang" sahut Tante Anita.


"Oek... oek..." tangisan bayi perempuan terdengar dari ruang persalinan.


Belum lama mereka semua mengulas senyum karena kehadiran keluarga baru di rumah tangga Ferri dan Nada, senyum bahagia itu kembali terukir dan bahkan terukir sempurna saat tangisan bayi perempuan terdengar.


"Itu pasti cucuku" gumam Tante Hanin. Wanita cantik itu tersenyum bahagia dan tak sabar melihat cucunya.


Tak lama, dua bayi dibawa keluar oleh dua Bidan. Selang beberapa menit, Nurin dan Nada juga dibawa ke ruang perawatan bersamaan dengan Alif dan Ferri yang pucat pasif. Tante Anita mengerutkan kening saat melihat putranya yang nampak pucat. Begitu juga dengan Tante Hanin yang juga bingung melihat wajah pucat putranya. Baik Tante Hanin maupun Tante Anita mengikuti Ibu Bidan yang membawa cucu mereka. Sementara Fakri dan Papa Aziz, juga Sakia dan Fattan mengikuti dua wanita yang baru selesai melahirkan.


Ruang VVIP


Usai membesuk Nada dan melihat anak Nurin dan Nada, Sakia kembali ke kamar Nurin dan bergabung dengan keluarganya yang lain. Di dalam ruang perawatan Nurin, terlihat Alif menangis memeluk Mama Hanin. Melihat Alif menangis, Sakia mendekat pada suaminya, dan berbisik pelan di telinga sang suami.


"Kenapa Alif menangis?" tanyanya berbisik.


"Kakak juga nggak tahu" jawab Fattan. Pria itu sejak tadi berada di dalam namun dia sendiri bingung dengan sikap Alif yang tiba-tiba menangis seraya memeluk Tante Hanin.


Sementara Alif, pria itu masih memeluk erat Mama Hanin. "Ma, maafkan aku" ucapnya pelan.


"Maaf untuk apa? Mama nggak ngerti" tanya Mama Hanin sambil menepuk bahu putranya.


"Maaf untuk segalanya. Mama berjuang melawan sakit saat melahirkan aku, dan aku, aku belum bisa membahagiakan Mama" jelas Alif.


Hanin melonggarkan pelukan putranya. "Mama punya impian, yaitu mendapatkan menantu yang baik. Dan Kamu sudah membahagiakan Mama dengan memberi Mama menantu yang baik dan cucu yang cantik" jelas Mama Hanin.

__ADS_1


"Amrita, kini aku mendapatkan menantu yang baiknya sepertimu. Aku rindu padamu, sahabatku" batin Tante Hanin, netra matanya berkaca-kaca, membuat semua yang ada di dalam ruangan saling tatap.


"Mama kenapa?" tanya Nurin yang masih terbaring di hospital bed.


"Kebaikanmu dan baktimu pada suami mengingatkan Mama pada sahabat Mama dan Papa. Yang tak lain adalah istri Om Aziz" jelas Tante Hanin.


Mendengar jawaban Mama mertuanya, Nurin melirik Papa Fakri dan Om Aziz yang menyeka bulir bening dari kedua sudut mata masing-masing.


"Sepertinya sosok almarhum Mama mertua Kak Sakia sangat dirindukan oleh keluarga besar Zakri. Ya Allah, jadikan aku dan Kak Sakia, menantu yang baik dalam keluarga Zakri. Jadikan kami sebagai pengobat rindu bagi mereka yang merindukan almarhum" batin Nurin.


......🍁🍁......


Esok harinya, Sakia dan Fattan ke rumah sakit. Fattan bekerja, sementara Sakia ingin membesuk Nada dan Nurin. Di dalam ruang perawatan Nurin, Nurin sedang menyusui putrinya yang diberi nama Mutmaina Zahra Zakri.


Cek-lek... (Pintu ruangan terbuka)


Sakia masuk dan tak lupa menutup pintu. Wanita dengan perut yang membesar itu berjalan mendekati Nurin dan putrinya.


"Makasih, Kak" balas Nurin mengulas senyum.


"Dari tadi datang?" tanya Alif yang tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


"Belum lama. Bagaimana keadaan Nada dan bayinya?" tanya Sakia.


"Alhamdulilah, Nada dan putranya baik-baik saja" jawab Nurin.


Sakia mangguk-mangguk. "Aku besuk Nada dulu. Sampai jumpa keponakan Tante" ucap Sakia sambil mengelus pipi kembung putri Mutmaina.


"Iya, Tante. Jangan lupa kembali ke sini ya" sahut Nurin berbicara layaknya anak kecil.


Sakia tersenyum lalu mengambil satu tupperware yang berisi makanan. Makanan untuk Nada, Ibu muda yang memiliki seorang putra bernama Asraf Alfatih Sihab. "Aku ke ruangan Nada dulu. Assalamualaikum"

__ADS_1


Berhubung ruang perawatan Nurin dan Nada berseblahan, maka Sakia tidak perlu jalan jauh. Wanita hanya membuka pintu ruang rawat Nurin, melangkah ke depan lalu membuka pintu ruang perawatan Nada.


"Assalamu'alaikum" ucap Sakia saat masuk ke dalam ruang rawat dimana Nada dirawat. Di dalam ruang perawatan, ada Tante Anita, Sukma, Ferri dan keluarga besar Ferri-Baik keluarga dari Mama, maupun dari Almarhum Papa Ferri.


"Waalaikumsalam" jawab mereka semua.


"Bumil, makin kinclong aja, Nak" canda Tante Misna, keluarga dari Mama Anita.


"Biasa, Tante" balas Sakia tersenyum. Wanita cantik itu mendekati Nada. "Dek, ini makanan yang patut kamu coba. Katanya sih bagus untuk wanita yang baru lahiran" jelas Sakia.


"Makasih Kak Kia" ucap Nada.


Belum cukup sepuluh menit Sakia berada di dalam ruang rawat dimana Nada di rawat, keluarga Ferri satu persatu mulai datang membesuk Nada dan melihat penerus keluarga mereka. Mereka semua bahagia mendengar kabar kelahiran Asraf Alfatih Sihab, cucu satu-satunya yang berjenis kelamin pria setelah Ferri.


"Nada, baby boy, semuanya, Kia pamit ke ruangan Nurin dulu ya" pamit Sakia berusaha mengulas senyum. Bukannya Sakia tidak betah tapi wanita itu malu. Karena ada beberapa dari mereka yang Sakia tidak kenal.


"Iya, Kak" ucap Nada.


"Iya, Sayang" ucap Tante Anita.


"Tante, di situ perempuan apa laki-laki?" tanya Sukma menunjuk perut buncit Sakia, sebelum wanita itu meraih gagang pintu.


Sakia mengulas senyum. "Tante juga Nggak tahu. Sukma mau laki-laki apa perempuan?" Sakia balik bertanya.


"Mau yang laki-laki, hanya saja Allah hanya memberi satu, karena satunya lagi perempuan" jawab Sukma sambil tersenyum. "Tante dapat dua" sambungnya berlari kecil memeluk lutut Sakia.


"Kamu hamil anak kembar?" tanya Tante Anita.


"Nggak kok Tante. Dokter juga nggak bilang kalau aku hamil anak kembar" jawab Sakia.


"Kenapa Abang Fadli berkata ada dua bayi di dalam rahimku, dan sekarang Sukma juga berkata seperti itu" batin Sakia.

__ADS_1


__ADS_2