Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 47


__ADS_3

Pukul empat sore, Aziz bergegas pulang mendahului istrinya. Ia membenarkan perkataan Aher di siang tadi. Maka dari itu, Aziz berniat untuk mengambil alih peran istrinya di sore ini. Apalagi kalau bukan memasak. Seperti biasa, Pa Berti akan selalu memperhatikan Aziz.


"Buru-buru ya Dok?" tanya Pa Berti berbasa basi.


"Hehehehe, iya Pa. Ada sesuatu yang harus saya kerjakan" balas Aziz tersenyum.


"Hati-hati ya Pa. Jangan lupa romantis" kata Pa Berti tersenyum getir.


Aziz hanya bisa tersenyum sembari mengeleng gelengkan kepala. Ia berjalan lalu masuk ke dala mobil. Mobil perlahan bergerak meninggalkan area rumah sakit. Dalam perjalanan, Aziz memikirkan bahan makanan yang ada di rumah.


"Tadi Amrita hanya menggoreng ikan dan telur. Itu berarti persediaan sayur sudah tidak ada" gumam Aziz. Aziz menepikan mobilnya saat ia melihat penjual sayur dipinggir jalan. Beberapa detik kemudian, ia pun turun menghampiri penjual sayur tersebut.


"Permisi Bu, ini sayur kangkungnya berapa ya?" tanya Aziz ramah sembari memegang sayur kangkung.


"Lima ribu tiga ikat, Nak" balas seorang Ibu yang sudah tua. Umur ibu itu sekitar lima puluh tahun.


"Saya beli tiga ikat kangkung, tiga ribu wortel, dua ribu kentang dan sayur kol Nya satu" kata Aziz lalu mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu rupiah.


"Ini Nak" balas sang ibu sembari menyerahkan satu kresek merah yang berisi sayur yang dibeli oleh Aziz.


"Ini uangnya Bu, kembaliannya untuk ibu saja" kata Aziz tersenyum ramah lalu masuk ke dalam mobil.


Perumahan Citraland Hertasning


Aziz memakirkan mobilnya digarasi rumah. Dengan singgap ia keluar dan mengambil sayuran yang ia beli, membawanya masuk ke dalam rumah lalu meletakkannya di dapur. Aziz berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar. Sesampainya di kamar, ia memilih mandi karena waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Lima belas menit kemudian, Aziz keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumahan.


"Saatnya memasak..." sorak Aziz berlari kecil menuruni anak tangga. Ia ingin memberikan kejutan untuk istrinya. Semoga saja Amrita senang dan tidak meninggalkannya, itulah yang ada dipikiran Aziz. Jika pria lain mengajak istrinya ke restoran mahal atau memberinya perhiasan atau bunga, maka Aziz berbeda dari yang lain. Hanya memasak yang ada dipikirannya.

__ADS_1


"Sayur kangkung saja. Ini tidak ribet di masak" gumamnya sembari melihat-lihat sayur yang ia beli lalu mengeluarkan sayur kangkung dari kresek merah. Mencucinya dan mulai memotong motongnya. Hampir empat puluh menit Aziz berkutak di dapur memasak sayur kangkung, menggoreng ikan, tempe dan tak lupa memasak nasi.


"Semoga Amrita menyukainya" gumam Aziz sembari menyajikan makanan yang sudah matang. Aziz berlari keluar rumah saat mendengar bunyi motor berhenti tepat digarasi rumah. Seulas senyum terukir diwajah tampannya saat ia melihat istri nakalnya sedang tersenyum kearahnya.


"Mas baru pulang atau dari tadi?" tanya Amrita menghampiri Aziz.


"Dari tadi" balas Aziz menuntun istrinya masuk.


"Ada apa, Mas? Apa Mas baru gajian, tumben Mas seperti ini" tanya Amrita merasa aneh dengan perlakuan suaminya.


Aziz terkekeh. "Dua hari lagi baru Mas gajian"


"Sekarang kamu mandi karena ini sudah sore. Kamu pasti lelah jadi Mas sudah memasak untuk kita makan" jelas Aziz.


"Apa! Mas memasak?" tanya Amrita membulatkan mata tak percaya. "Oh tidak, sepertinya ada yang tidak beres" gumamnya pelan. Pikiran aneh mulai timbul dibenaknya.


Amrita menaiki anak tangga, langkahnya terhenti dipertengahan tangga, berbalik menatap suaminya yang tengah mengambil tempat di sofa. "Mas, apa aku tidak perlu memakai celana? Masa iya aku berkeliaran di dalam rumah hanya mengenakan baju"


Aziz menepuk jidatnya. "Astagfirullah Amrita... maksud Mas, kalau kamu sudah selesai bersiap-siap ya kamu turun ke bawah"


"Hehehehe. Aku paham, Mas. Aku mandi dulu ya... selamat menahan kesal..." kata Amrita berlari kecil menaiki anak tangga.


---


Meja makan, Aziz dan Amrita sedang makan malam. Setelah selesai makan, terdengar adzan di masjid. Aziz bergegas membantu Amrita mengangkat piring kotor. "Sayang, kamu sholat di rumah aku mau berjamaah di masjid" kata Aziz berlari menaiki anak tangga. Beberapa puluh detik kemudian, terlihat Aziz sudah rapi dengan baju kok dan peci di kepala.


Aziz menaiki motor istrinya menuju masjid terdekat, tak membutuhkan waktu lama, ia pun sampai. Dengan segera Aziz turun dari motor, berjalan menuju tempat mengambil air wudhu. Setelah selesai mengambil wudhu, Aziz masuk ke dalam masjid dan masuk dalam shaf. Sholat magrib pun di mulai. Dalam doa, Aziz memohon kepada Allah untuk menanamkan kasih sayang yang begitu besar dalam dirinya, agar dia bisa memberi kasih sayang itu pada wanita yang kini sudah menjadi istrinya.

__ADS_1


Di rumah, Amrita sedang mengaji. Melanjutkan bacaan mereka semalam. Suaranya begitu merdu, tak kalah bagusnya dengan suara wanita yang ada di youtube. Ia mengaji sambil menunggu waktu sholat isya. Beberapa menit kemudian, kumandan Adzan mulai bergema menandakan sholat isya sudah tiba, Amrita terus melanjutkan bacaannya sampai selesai. Ia berdiri dan mulai melaksanakan sholat isya. Seusai sholat Isya, Amrita memilih turun ke lantai satu untuk menunggu Aziz pulang.


"Kenapa kamu duduk di luar?" tanya Aziz yang baru saja memakirkan motornya.


"Tunggu kamu Mas" balas Amrita santai.


"Ya sudah, ayo masuk. Diluar sangat dingin, sebentar lagi bakalan hujan" kata Aziz menuntun Amrita masuk. Amrita hanya menurut tanpa melawan. Keduanya pun naik kr lantai dua dan masuk ke dalam kamar mereka. Aziz mengganti baju koko dengan baju tidur.


"Sayang, bagaimana tadi saat kamu di kampus?" tanya Aziz mengambil tempat di samping istrinya.


"Sangat menyenangkan. Semua temanku pada baik orangnya. Apa Mas mau tahu, guru Botani yang memberiku nilai seratus itu, ternyata dia belum menikah" jelas Amrita dengan mata berbinar.


"Dia tampan atau dia jelek?" tanya Aziz. Rasa takut mulai menghampirinya.


"Lumayan," balas Amrita santai lalu mengambil ponselnya.


Aziz terdiam sejenak, perkataan Aher mulai tergiang-ngiang dikepalanya. "Dosen itu tampan dan belum menikah. Ada kemungkinan Amrita akan jatuh cinta padanya. Terlebih lagi dia sangat baik pada Amrita" batin Aziz.


"Mas," panggil Amrita. Aziz masih tak bergeming, ia masih dengan pikirannya.


"Mas..." untuk yang ke dua kalinya, Aziz tersadar dari lamunanya.


"Iya sayang" balas Aziz.


"Coba lihat foto ini. Menurut Mas bagus tidak kalau aku jadikan profil di watshap ku?" tanya Amrita sembari memperlihatkan foto pria dan wanita. Di mana sang pria hendak melangkah pergi namun ditahan oleh sang wanita.


"Tidak boleh. Itu kan foto kamu dan seniormu. Mana wajah pria itu tidak terlihat lagi!" ketus Aziz. Ia tidak sudih jika Amrita memasang foto pria lain di profil watshapnya.

__ADS_1


Amrita menepuk jidatnya sendiri. "Ya Allah, Mas... ini foto kamu, bukan foto pria lain" kata Amrita menggeleng ngelengkan kepala. Aziz tersenyum canggung saat menyadari bahwa pria itu adalah dirinya sendiri.


__ADS_2