
Fattan dan Fadila tengah berdiri di depan pintu rumah menunggu orang tua mereka ke luar. Sementara di dalam rumah, Aziz bersiap-siap mengenakan sepatunya. Dan Amrita, Mama muda itu sedang merapikan proposalnya yang sudah selesai di print.
"Om..." panggil Fadila melihat Aher ke luar dari pintu rumah.
Aher menoleh ke arah suara. Dilihatnya Fadila dan Fattan tersenyum menatapnya. Ia pun menghampiri si kembar. "Waow, mau ke mana Sayang?" tanya Aher berjongkok.
"Belajar" balas Fattan.
"Oww, mau ikut Mama belajar ya?" tanya Aher, dibalas anggukan oleh Fattan dan Fadila. Fattan mengenakan celana cino panjang. Baju kemeja putih dilapisi rompi berwarna senada dengan warna celana yang ia kenakan. Sementara Fadila mengenakan celana leging panjang dan baju dres anak sinsin warna biru.
"Kayak orang dewasa. Pake acara ngajak orang bercerita" gumam Amrita melihat kedua anaknya bercakap cakap dengan Aher.
"Fattan, Fadila, Om pergi kerja dulu ya Sayang" pamit Aher. "Salim dulu" sambungnya sambil mengulurkan tangannya, yang dibalas salim oleh Fattan dan Fadila.
"Amrita... aku tinggalin Fattan dan Fadila ya..." ujar Aher sedikit meninggikan suaranya.
"Iya, Om..." sahut Amrita dari dalam.
Amrita ke luar dari rumah membuka bagasi mobil lalu meletakkan paperbag yang berisi proposal dan beberapa jurnal. Lalu menutupnya kembali. "Ayo sayang" panggil Amrita membuka pintu mobil.
Fattan dan Fadila menghampiri Mama mereka. Keduanya dituntun naik ke dalam mobil. Untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan, Amrita mengenakan seat belt anak pada kedua anaknya. "Gunakan ini saat melakukan perjalanan. Ini demi keamanan dan keselamatan Fattan dan Fadila" ujarnya pada sikembar.
Usai mengenakan seat belt pada anaknya, Amrita memilih masuk ke dalam mobil lalu menutupnya. Samar-samar, Ibu anak dua itu mendengar putrinya menyebut Papa. "Oww, Papa. Fadila mau kita tunggu Papa ya?" tanyanya tersenyum.
"Papa" panggil Fadila lagi.
"Papa di sini Sayang" balas Aziz yang tiba-tiba membuka pintu mobil bagian kemudi.
Fadila tersenyum dan mulai diam. Anak kecil itu melirik kakaknya yang sedari tadi menutup mata. "Ka-kak" panggil Fadila.
Fattan membuka matanya. Ia menatap adiknya yang kini tersenyum. Entah apa maksudnya, tiba-tiba Fattan mengedipkan matanya berulang kali. Setelah Fattan mengedipkan mata, terlihat Fadila ikut memejamkan mata.
Rumah Sakit Awal Bros
Aziz memakirkan mobilnya di depan rumah sakit tempat dia bekerja. "Sayang, kamu yang semangat ya. Aku titip anak-anak sama kamu" ujar Aziz sebelum turun dari mobil.
"Iya, Mas. Mas juga semangat kerjanya" balas Amrita lalu menyalami tangan suaminya.
__ADS_1
Aziz menoleh ke belakang, dilihatnya sikembar tengah tidur di pagi hari. Ia pun memilih turun tanpa membangunkan anaknya. Setelah Aziz turun, Amrita berpindah tempat duduk. Wanita itu kembali mengambil alih kemudi.
"Hati-hati" ujar Aziz.
"Iya, Mas" balas Amrita. Lalu menyalakan mesin mobil dan mulai melanjutkan perjalanannya menuju kampus tercinta.
Kampus di kota M
Amrita memasuki area kampus, ia memakirkan mobilnya di parkiran mobil Fakultas Mipa. Dari kejauhan, terlihat Hanin dan Fakri berjalan menghampiri Amrita. "Mereka masih tidur" ujar Amrita pada kedua sahabatnya.
"Mama" panggil Fattan dan Fadila bersamaan. Kembar dua itu tiba-tiba membuka mata.
"Anak Mama sudah bangun ya. Sekarang kalian ikut Tante dan Om ya. Mama mau belajar dulu" ujar Amrita tersenyum.
Hanin menggendong Fadila sementara Fakri menggendong Fattan. Keduanya membawa Fattan dan Fadila dikerumunan orang-orang dewasa yang sejak tadi menanti kedatangan Fattan dan Fadila. "Assalamualaikum Tante dan Om" ucap Hanin pada teman-temannya.
"Waalaikumsalam" balas mereka bersamaan.
"Manis sekali anaknya Amrita. Gemes deh" ucap Safna tersenyum.
"Iya. Nanti, kalau aku udah nikah, aku mau anak yang manisnya seperti Fadila dan Fattan" ujar Affi dengan candaan.
"Fi, kalau kamu mau anakmu seperti Fadila dan Fattan maka menikahlah denganku" ujar Ade dengan serius namun dianggap candaan oleh teman-temannya.
"Mending kamu nikah sama Ade" sambung Maya. "Baik dan--" Maya menatap Ade dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Dia juga tampan kok" sambungnya tersenyum.
"Kak, Nuki... Maya mengangumi pria lain..." gurau Safna yang disambut kekehan oleh teman-temannya. Fattan dan Fadila pun ikut tertawa. Entah apa yang anak kecil itu tertawakan.
Tanpa mereka sadari, saat Safna bergurau, Kak Nuki lewat di samping mereka bersama asisten yang lain. Namun, mereka yang sedang asyik bercanda itu tidak menyadari kehadiran Kak Nuki. "Lihat saja nanti" batin Kak Nuki.
--
Pukul sebelas pagi, Amrita keluar dari ruangan pembimbing satu, yang bernama Ibu Eni. Seulas senyum terukir di wajah cantiknya. Ibu anak dua itu nampak begitu bahagia.
"Alhamdulilah. Terima kasih ya Allah. Berkat pertolongan darimu pengurusan hamba diperlancar. Semoga ini awal yang baik ya Allah. Aamiin" batin Amrita.
"Amrita..." panggil Hanin. Amrita berlari kecil menghampiri teman-temannya.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa sudah ada tanda-tanda aman?" tanya Fakri.
"Apa sudah Acc (Setujui)?" timpal Ade.
"Jangan senyum-senyum saja!" ketus Maya.
"Alhamdulilah teman-teman. Acc(Setujui)
setelah diperbaiki" balas Amrita tersenyum bahagia.
"Alhamdulilah..." balas mereka bersamaan.
"Fattan dan Fadila bahagia ya?" tanya Hanin melihat sikembar ikut tertawa.
"Hehehehe" kekeh Fadila.
"Hanin, tolong jagain anakku sebentar. Aku mau telepon Mas Aziz dulu" pinta Amrita.
Amrita sedikit menjauh dari teman-temanya. Lalu mengirim pesan pada suaminya lewat aplikasi watshap. Selang beberapa puluh detik, pesan balasan pun masuk dari Aziz. Amrita tersenyum sambil melakukan panggilan video call.
"Assalamualaikum, Mas" ucap Amrita.
"Waalaikumsalam. Mana anak-anak?" jawab Aziz, lalu bertanya.
"Mentang-mentang udah punya anak. Anaknya yang pertama ditanyain!" ketus Amrita. Aziz terkekeh mendengarnya.
"Iya. Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Aziz. Jika Amrita sudah kesal maka yang harus ditanyakan adalah perasaannya. Jika dia jawab baik maka percakapan bisa lanjut. Jika jawabnya tidak maka panggilan harus diakhiri.
"Karena hari ini suasana hatiku sedang baik maka aku jawab baik" balas Amrita. "Tuh anak-anak. Lagi bersama teman-temanku" sambungnya mengarahkan kamera pada teman-temannya.
"Apa ada kabar baik?" tanya Aziz menatap wajah cantik istrinya.
Amrita mengangguk cepat. "Alhamdulilah Mas. Proposalku tinggal diperbaiki setelah itu di Acc(Setujui)" ungkapnya sumringah.
"Alhamdulilah" balas Aziz tersenyum bahagia. "Oh ya Sayang. Nanti sore nggak usah jemput aku ya. Aku pulangnya bersama tetangga kita" sambungnya terkekeh.
"Iya, Mas. Sayang dulu dong" pinta Amrita.
__ADS_1
"Aku malu, ada Aher di sini" balas Aziz berbisik.
"Di depanku malu tapi dibelakangku menghasilkan dua anak" ledek Aher yang dibalas tatapan tajam oleh Aziz. Sementara Amrita tertawa mendengarnya.