Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 123. Tamat


__ADS_3

Amrita pulang ke rumah setelah tiga hari di rumah sakit. Selama tiga hari itu, Aziz meminta Amrita untuk melakukan pemeriksaan dan hasilnya Amrita baik-baik saja. Tidak ada penyakit yang serius yang perlu dikhawatirkan. Dan Mbak Ima, wanita itu mulai bekerja di rumah Aziz.


Pukul 17:11 PM


Amrita berbaring di sofa bed. Pandangannya tertuju di jendela. Wanita itu diam membisu sekalipun kedua anaknya mengajaknya berbicara.


"Mama, Mama kenapa?" tanya Fadila mendekap wajah mamanya yang sedari tadi diam tak bergeming. Membuat Fattan dan Fadila bingung dan juga cemas.


"Mama. Apa Mama sakit lagi?" tanya Fattan yang juga mendekati Mama Amrita.


Amrita mengukir senyum lalu mencium kedua anaknya. "Maafkan Mama yang belum bisa menjadi Mama yang baik untuk kalian" ujarnya.


"Mama. Fattan dan Fadila sayang Mama. Mama itu cantik dan Mama itu baik. Kami sayang Mama" ujar Fadila memeluk erat Mamanya.


"Mama. Jangan sakit lagi ya. Kalau Mama sakit siapa yang akan jaga kami" timpal Fattan lalu memeluk Mama dan Adiknya.


Hampir satu jam Amrita dan anaknya menunggu Aziz pulang. Tak lama menunggu, terdengar bunyi motor berhenti di depan rumah.


"Itu pasti Papa" ucap Fadila dengan girang.


"Mama, ayo kita pura-pura tidur" ajak Fattan yang dibalas senyum renyah oleh Amrita dan Fadila.


"Assalamualaikum" ucap Aziz sambil membuka pintu rumah. Lalu menutupnya kembali.


"Waalaikumsalam" balas Mbak Ima yang sementara mengambil air minum di kulkas.


"Mbak. Amrita dan anak-anak di mana?" tanya Aziz.


"Di lantai dua, Nak" balas Mbak Ima.


Aziz menaiki anak tangga menuju lantai dua. Seulas senyum tersungging di bibir manisnya menyaksikan pemandangan indah yang dianggapnya serius. Namun nyatanya itu adalah jebakan untuknya.


"Mereka tidur tanpa mengambil selimut. Apa mereka tidak kedinginan" gumam Aziz menghampiri keluarga kecilnya. Lebih baik aku mandi dulu setelah itu aku gabung dengan mereka" gumamnya.


"Bah..." Fadila dan Fattan mengagetkan Papanya saat Aziz hendak melangkah ke kamar.


"Hahahahahaha. Papa pasti kaget kan" tuding Fattan tertawa lepas.


"Wajah Papa pucat" ledek Fadila.


Lagi-lagi Amrita kembali diam namun dengan cepat ia mengukir senyum agar suami dan anaknya tidak cemas. Toh kata dokter Amrita baik-baik saja lalu apa yang harus dia takutkan.


Aziz tertawa renyah. Pria itu tidak menyangka akan dijahili oleh kedua anaknya. "Kalian bertiga awas ya. Tunggu Papa selesai mandi, Papa pastikan kalian bertiga akan Papa beri hukuman" ancam Aziz sekedar bercanda gurau.

__ADS_1


"Mas, setelah mandi kita pesan obat ya" teriak Amrita sebelum suaminya masuk ke kamar.


"Iya" balas Aziz.


Fadila dan Fattan bersorak girang. Begitu juga Amrita. Sudah hampir dua minggu mereka tidak makan brownies amanda. Dan malam ini, mereka akan makan brownies yang sering disebut obat. Obat yang paling ampuh mengatasi mata buram versi Amrita.


"Fattan, Fadila, Mama mau pake masker. Kalian tunggu di sini Mama mau ambil masker di kamar" jelas Amrita.


"Iya, Ma" balas Fattan dan Fadila.


Amrita beranjak dari sofa bed. Lalu berjalan menuju kamar. Di dalam kamar, Aziz sedang melepas pakaiannya sebelum masuk ke kamar mandi.


Cek--lek... (Pintu terbuka)


Amrita masuk dan kembali menutup pintu. Takutnya Fattan dan Fadila tiba-tiba membuka pintu. Bisa bahaya jika mereka melihat Aziz tidak mengenakan apa-apa.


"Mas, cepat mandi dan jangan lama-lama. Ini sudah jam sembilan" ucap Amrita berjalan ke arahnya.


"Iya Sayang. Aku mandi nggak lama kok. Oh ya, kamu mau ngapain?" tanya Aziz menutup juniornya dengan tangan.


Amrita tersenyum. "Aku mau ambil masker yang di nakas. Mas aja yang kepedaan dan nafsu" ledek Amrita melewati suaminya.


"Sayang. Bagaimana ini?" tanya Aziz yang pura-pura panik.


Amrita mengambil maskernya lalu menatap bingung suaminya. "Maksudnya, Mas?" tanya Amrita tak paham.


"Hahahahaha" tawa Amrita pecah. "Makanya, jangan terlalu nafsu" ledeknya.


"Sayang. Apa kau tidak sayang padaku?" tanya Aziz cemberut.


Amrita kembali tertawa. "Bagaimana mungkin kita melakukannya sedangkan kamu belum mandi. Masih bau obat kimia" jelas Amrita.


"Benar juga katamu. Ya sudah, sekarang kamu tunggu aku di luar. Setelah mandi aku temui kalian. Malam ini kita berempat tidur di sini. Itu kan yang kamu mau? Tidur bersama anak-anak" ujar Aziz tersenyum.


"Iya, Mas. Cepat mandi biar kita maskeran" ucap Amrita meninggalkan suaminya.


Setelah mandi dan bersiap-siap, Aziz menemui anak dan istrinya di sofa bed. Pria itu keluar sambil membawa selimut tebal.


"Sayang, malam ini kita tidur di sini saja ya" ujar Aziz meletakkan selimut di atas sofa bed.


"Iya Mas" balas Amrita.


"Nanti Mama tidur di samping Papa ya. Dan kamu Fadila, kamu tidur di samping Mama. Jadi, aku dan Papa akan menjaga Fadila dan Mama" jelas Fattan mengambil tempat untuk ia berbaring.

__ADS_1


"Papa. Cepat pesan obatnya. Mata kami mulai buram nih" rengek Fadila.


Aziz menggelitik putrinya dan juga istrinya. Membuat Amrita dan Fadila tertawa lepas. "Mas, geli tahu" seru Amrita.


"Hahahaha. Papa... ampun.." pinta Fadila memberontak.


Aziz berhenti menggelitik istri dan putrinya. "Anak dan Mama sama saja. Sama-sama suka obat coklat" ucap Aziz lalu mengambil ponselnya.


Fadila mendekati Papanya untuk melihat cara memesan kue lewat online. Begitu juga dengan Fattan. "Owww, jadi seperti itu caranya memesan kue" gumam Fadila.


Amrita terdiam, ia kembali merasakan sesuatu yang aneh. "Ya Allah" sebut Amrita dalam hati.


Usai Aziz memesan kue brownies, Amrita mendekati suaminya. "Mas, izinkan aku tidur di pangkuanmu" ucap Amrita yang dibalas senyum oleh Aziz.


Tiga puluh menit kemudian, pesanan mereka pun diantarkan oleh kurir. Aziz memanggil Mbak Ima agar Mbak Ima menerima pesanan sekalian membayar tagihan brownies. Mbak Ima yang sementara berada di lantai satu, wanita itu menerima pesanan dan membayar tagihannya. Lalu membawa brownies ke lantai dua.


"Ini, Nak" kata Mbak Ima sambil menyerahkan kresek putih bertuliskan Amanda Brownies.


"Mbak, tolong simpan di kulkas. Kalau Mbak mau makan Mbak ambil saja. Aku mau ajak Mbak makan bersama tapi Amrita dan anak-anak sudah tidur" jelas Aziz.


"Iya, Nak. Nanti besok saja baru kita makan bersama" balas Mbak Ima lalu kembali ke lantai satu.


Aziz membenarkan posisi tidur istri dan kedua anaknya. Lalu menyelimuti mereka dengan selimut. Tak lupa mencium puncak kepala Amrita, Fadila dan Fattan. Merasa lelah seharian bekerja, pria itu ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Pukul tiga malam, Amrita bangun dan masuk ke dalam kamar mandi mengambil air wudhu. Wanita itu akan melakukan shalat malam. Setelah mengambil wudhu Amrita mengenakan mukena dan mengambil sajadah. Lalu melakukan shalat malam. Usai salam dan doa, Amrita mengambil Al-qur'an lalu mengaji. Lantunan ayat suci di larut malam terdengar begitu indah. Bulir bening berhasil keluar membanjiri pipinya. Menemani malam yang seakan berbeda. Setelah mengaji, Amrita membuka mukenanya dan kembali merebahkan tubuhnya di samping suaminya.


Pukul 04:15 AM


Fattan dan Fadila mengerjap setelah mendengar suara tangis. Keduanya mengucek mata mereka agar rasa kantuk menghilang. Dan keduanya kembali bingung melihat Papa Aziz menangis memeluk Mama Amrita.


"Amrita, bangun sayang. Jangan bercanda seperti ini. Nggak baik Sayang. Sayang, ayo bangun. Ini sudah mau shalat subuh. Buka matamu dan mari kita shalat berjamaah" ucap Aziz menggoyangkan tubuh istrinya. Bulir bening jatuh mengenai wajah istrinya yang nampak tersenyum.


"Sayang, buka matamu aku mohon..." pinta Aziz. Tangisnya semakin pecah.


"Papa, kenapa Papa menangis?" tanya Fadila yang tak mengerti dengan suasana yang ia lihat.


Aziz memeluk erat kedua anaknya. Kenyataan yang belum bisa ia terima, membuatnya hilang kesadaran. Berharap saat dia membuka mata, kenyataan pahit itu hanyalah mimpi buruk.


"Papa... bangun Papa. Mama... bangun Mama... kenapa kalian tidur. Mama... Papa..." ucap Fadila dan Fattan, kedua anak itu menggoyangkan tubuh Papanya dan juga Mamanya.


Mbak Ima yang baru saja sampai dilantai dua setelah mendengar Aziz menangis, wanita itu langsung menghampiri Amrita dan Aziz.


"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" ucap Mbak Ima. Tangis Mbak Ima pun pecah kemudian memeluk Fattan dan Fadila.

__ADS_1


...--------------- Sad Ending----------------...


Kematian datangnya tak terduga. Kadang kita meninggal karena kecelakaan, penyakit parah dan kadang tanpa sebab. Maka dari itu, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan pernah berkata uang ini untuk hari tua nanti. Karena kematian kadang tak menunggu kita tua.


__ADS_2