
Waktu menunjukan pukul 21:00, Amrita melepas jarum infus yang ada dipergelangan tangannya. Ia berusaha untuk turun dari hospital bed. Dengan santainya, Amrita mengambil tas kecilnya lalu ke luar dari rumah sakit. Ia bersembunyi saat melihat suaminya dan Dokter Aher sedang berjalan ke arahnya.
Amrita berjalan menuju lantai satu lalu ke luar dari rumah sakit. Ia berdiri dipinggiran jalan sembari memainkan ponselnya untuk memesan grab motor. Tak membutuhkan waktu lama, grab motor pun datang dan berhenti tepat di depan Amrita.
"Sesuai alamat ya Pa" kata Amrita lalu duduk di atas motor. Motor melaju dengan kecepatan sedang menuju perumahan hertasning. Dalam perjalanan, ponsel Amrita terus berdering. Amrita tak menjawab panggilan telepon dari suaminya. Ia memblokir nomor suaminya lalu memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Aku tak perlu mengajak Om untuk pulang. Toh Kak Anaya sudah kembali" gumam Amrita. Amrita menghirup udara malam yang begitu dingin. Tak membutuhkan waktu lama, Amrita pun sampai di perumahan. Amrita mengeluarkan uang 20 ribu memberikannya pada Bapa Grab.
Amrita membuka pintu rumah. Ia menaiki anak tangga menuju kamarnya. Sesampainya di dalam, Amrita mengambil bingkai foto pernikahannya yang ia letakan di atas nakas memasukannya ke dalam tas miliknya. Ia meletakan kunci motor dan kartu ATM serta selembar kertas di atas nakas kemudian turun ke lantai satu.
Amrita mengunci pintu, ia duduk di kursih menunggu grab. Grab berhenti di depan rumahnya. Amrita memakai helem lalu duduk di atas motor. Motor perlahan melaju menuju Pondok Mega yang berada di Hartako Jaya Perintis KM 09. Dalam perjalanan, Amrita kembali melamun. Ia masih mengingat kalimat yang dilontarkan Anaya untuknya.
"Om Aziz mengakuiku sebagai sepupunya. Sangat lucu" batin Amrita.
---------------
Rumah Sakit Awal Bros
Aziz mengusap wajahnya dengan kasar saat ia melihat cctv. "Kamu mengajakku pulang tapi kamu juga yang kabur dari rumah sakit" umpat Aziz mengacak rambutnya dengan kasar.
Aziz mengambil kunci mobilnya, berjalan menuju parkiran mobil. "Aku akan menberimu pelajaran istri nakal! Berani sekali kamu kabur dari rumah sakit dalam keadaan sakit" ujar Aziz geram.
Aziz menyalakan mesin mobilnya berjalan ke luar menuju jalan raya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak membutuhkan waktu lama, ia pun sampai di perumahan. Aziz ke luar dari mobil, ia berjalan sedikit berlari menuju pintu. Mengambil kunci pintu lalu membukanya. Aziz berlari menaiki anak tangga menuju kamar mereka. Ia mengusap wajahnya dengan kasar saat mendapati kunci motor dan kartu ATM di atas nakas.
"Maafkan aku Om, aku pergi tanpa pamit. Jujur, aku kecewa pada Om. Om mengakuiku sebagai sepupu Om bukan sebagai istri. Maafkan aku yang tidak bisa membahagiakan Om. Semoga Om bahagia bersama Kak Anaya" tulisan tangan yang Amrita tinggalkan untuk suaminya.
"Akk!! Jadi Anaya dibalik dari semua ini!" umpat Aziz. Aziz mengambil ponselnya mencoba menghubungi Anaya.
"Apa yang kamu katakan pada istriku!!" hardik Aziz saat Anaya menjawab panggilannya.
"Maafkan aku Aziz. Aku hanya mengerjai istrimu, aku tidak punya niat lain" kata Anaya diseberang telepon.
__ADS_1
"Apa yang kamu tahu tentangnya Anaya!" bentak Aziz. Ia memutuskan panggilan telepon. Aziz membuang ponselnya di sembarang tempat.
"Apa dia ke rumah ibu?" gumam Aziz, ia berlari menuruni anak tangga. Aziz masuk ke dalam mobil menuju rumah ibunya. Hampir 40 menit perjalanan, ia pun sampai di rumah ibunya.
"Ibu!" teriak Aziz. Ia berlari masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, ada Tante Eka, Pa Sofyan dan Fakri yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Ibu, apa Amrita ke sini?" tanya Aziz dengan napas tak karuan.
Tante Eka menautkan kedua alisnya saat mendengar pertanyaan putra sulungnya. "Maksud kamu?" tanya Tante Eka dengan bingung.
Belum sempat Aziz menjawab, Fakri lebih dulu menjawab pertanyaan kakaknya. "Amrita tidak ke sini" kata Fakri. Pa Sofyan mengepal tangannya, ia beranjak dari sofa menghampiri putranya yang tengah berdiri.
Plak!!
Pa Sofyan mendaratkan tamparan di pipi Aziz. "Papa mengajarimu untuk menjadi pria yang bertanggung jawab dan menghargai wanita. Apa kamu pikir papa tidak tahu Amrita pingsan siang tadi!" hardik Pa Sofyan.
"Apa!!" Tante Eka membulatkan mata. Ia berjalan menghampiri putranya yang kini menunduk.
Plak!!
"Ke luar kamu dari rumah ibu. Cari istrimu sampai dapat, jika kamu tidak menemukannya maka jangan pulang ke rumah atau ke rumahmu" ancam Tante Eka.
Aziz ke luar dari rumah ibunya. Tamparan dari kedua orang tuanya tidak sebanding dengan rasa sakit yang ia berikan pada istrinya. Istri mana yang tidak tersakiti jika tidak dianggap sebagai istri.
"Amrita, kamu di mana sekarang?" batin Aziz. Ia melajukan mobilnya menuju Pondok MB.
Di rumah, tinggalah Fakri dan kedua orang tuanya. Fakri membuka aplikasi watshap, melihat lihat story Watshap dari teman kontaknya.
"Ma, aku pamit ke luar sebentar" pamit Fakri. Ia mengambil kunci motornya lalu ke luar dari rumah.
"Aku yakin, Amrita pasti di Pondok Mega. Latar yang ada di story Hanin sepertinya itu kamar Amrita" batin Fakri dalam perjalanan menuju kompleks hartako jaya.
__ADS_1
Pondok Mega
Fakri menghubungi Hanin, selang beberapa detik, Hanin pun menjawab panggilan telepon dari Fakri.
"Kamu di mana?" tanya Hanin saat menjawab panggilan Fakri.
"Aku di bawah. Aku tahu kamu di Pondok Mega. Cepat buka pintu, aku mau naik ke atas" titah Fakri.
Hanin yang berada di dalam kamar Amrita hanya bisa menghela napas kasar dan pasrah. Ia turun membukakan pintu utama untuk Fakri "Ayo masuk" ajak Hanin yang diikuti oleh Fakri.
Fakri dan Hanin naik ke lantai dua lalu masuk ke dalam kamar Amrita. Fakri menatap sayu Amrita. Ia merasa kasihan melihat Amrita yang terbaring lemas di atas tempat tidur.
"Hanin, Amrita sakit apa?" tanya Fakri.
"Dia kecapean dan saat turun dari grab, dia jatuh pingsan di bawah" kata Hanin.
"Maafkan aku Amrita. Aku tidak ingin kamu kenapa napa" gumam Fakri menatap sayu Amrita.
"Hanin, aku minta pendapatmu. Ibu sudah tahu Amrita kabur dari rumah dan ibu sudah tahu Amrita jatuh pingsan di siang tadi. Aku berniat menghubungi ibu agar Amrita bisa dibawah ke rumah sakit atau di rawat di rumah" kata Fakri.
Hanin mengangguk. "Aku setuju, ini demi keselamatan Amrita" balas Hanin setuju.
Fakri mulai menghubungi ibunya. Tak membutuhkan waktu lama, Tante Eka pun menjawab panggilan dari putranya. "Ibu, aku akan mengirim alamat. Ibu dan Papa kesini secepatnya. Amrita sedang di infus di kamar kosnya" ujar Fakri.
"Ibu dan Papa kesitu sekarang" balas Tante Eka lalu memutuskan panggilan.
---------------
Pa Sofyan memarkir kan mobilnya di depan Pondok Mega. Keduanya ke luar dari mobil dengan jalan tergesa gesa menuju kamar menantu mereka. Sesampainya di dalam kamar, Tante Eka meneteskan air mata saat melihat ruangan kecil yang menjadi tempat berteduh menantunya selama ia masih berstatus siswa.
"Ya Allah, semenderita inikah menantuku" gumam Pa Sofyan. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya.
__ADS_1