Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 22


__ADS_3

Fattan menghentikan mobilnya di depan rumah yang menjulang tinggi. Rumah tingkat dua bermodel klasik. Didominasi dengan warna cet putih. Ruang tamu cukup luas terlebih lagi ruang keluarga. Di lantai satu terdapat dua kamar dan di lantai dua terdapat tiga kamar, tiap-tiap kamar memiliki balkon. Di ruang keluarga yang dilantai dua juga memiliki balkon yang cukup luas. Di lantai satu bagian belakang, terdapat kolam renang.


"Pelan-pelan" kata Fattan menuntun istrinya turun dari mobil dengan mata yang tertutup.


"Kakak, hadiahnya apa sih?" tanya Sakia penasaran.


"Nanti juga kamu akan tahu" jawab Fattan. Ia menuntun istri ke depan rumah. "Buka matamu" titah Fattan.


Sakia membuka matanya, berulang kali mengerjap untuk memastikan apa yang ada dihadapannya. "Mana hadiahnya?" tanya Sakia dengan bingung.


"Ini hadiahnya" balas Fattan sambil menunjuk rumah baru mereka. Bukan, tapi hadiah untuk istrinya.


"Itu" Sakia menunjuk rumah yang ada di hadapannya lalu menoleh menatap suaminya.


Fattan mengangguk dan tersenyum. "Itu hadiah untuk Kia. Karena itu hadiah maka Kia boleh mengusir Kakak dari rumah ini bila Kia nggak mau Kakak tinggal dengan Kia" jelas Fattan tersenyum renyah.


Netra mata Sakia kembali berkaca-kaca. "Kakak" panggilnya terisak.


"Jangan menangis. Wanita tangguh nggak boleh cengeng" kata Fattan sambil menyeka air mata istrinya.


Fattan menuntun Sakia ke dalam rumah. Sakia takjub melihat desain ruang tamu dan ruang keluarga. Wanita itu membuka satu persatu kamar tidur, lalu ke dapur dan tak lupa ke kolam renang. Kemudian ke lantai dua melihat kamar yang akan mereka tempati. Kamarnya sangat luas. Ruang ganti terpisah dengan ruang tidur namun masih berada di ruangan yang saja. Hanya saja ada pintu geser yang menyambungkan kamar tidur dan ruang ganti. Kamar mandi yang di dalam kamar mereka sangat luas, bahkan terdapat sofa di dalamnya.


"Kakak, ini kamar mandi atau apa? Kenapa ada sofa nya?" tanya Sakia dengan bingung.


"Kamar mandi, Sayang. Kakak terinspirasi dari salah satu penginapan yang ada di Bali. Sama seperti ini kamar mandinya, ada sofa di dalamnya" jelas Fattan.


"Jadi, kalau Kia lagi marah, Kia bisa tidur di dalam. Hahahaha" sambung Fattan terkekeh.


"Hahahahaha" tawa Sakia pecah. "Kakak ada benarnya juga" ujarnya membenarkan.

__ADS_1


Setelah melihat rumah baru atau hadiah ulang tahun Sakia, Fattan mengajak Sakia pulang ke ruko. Namun sebelum ke ruko, mereka singgah makan di rumah makan yang dipinggiran jalan.


Rumah Makan Asoka


Di rumah makan inilah Fattan dan Sakia berada. Rumah makan Asoka menyediakan beberapa menu, berupa ayam lalapan, ayam krispi, ayam geprek, nasi goreng biasa, nasi goreng pedas dan masih banyak menu makanan lainnya.


"Dek, mau makan apa?" tanya Fattan setelah mereka duduk di kursi.


"Kia mau nasi goreng ampela" jawab Sakia.


Fattan menemui pelayan yang bekerja di RM Asoka kemudian memesan dua nasi goreng ampela dan es teh dua. Setelah memesan makanan, Fattan kembali menemui Sakia, istrinya.


"Dek" panggil Fattan.


Sakia yang sementara senyam-senyum sambil berbalas pesan dengan Nada dan Nurin, wanita itu mendongak menatap suaminya. "Ada apa, Kak?" tanya Sakia.


"Berbalas pesan dengan siapa?" tanya Fattan memelankan suaranya. Dia takut ada orang yang mendengarnya.


"Diabaikan lagi" gumam Fattan pelan.


Sakia mengakhiri kegiatannya lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Nggak baik cemberut di tempat umum" tegur Sakia.


"Hehehe" cengir Fattan. "Dek" panggil Fattan lalu melirik samping kiri, kanan, muka belakang. Karena posisinya mereka berada di meja bagian tengah.


"Iya" sahut Sakia.


"Dek, kalau ada sifat Kak Fattan yang nggak Kia suka, Kia tegur Kak Fattan ya. Jangan didiemin. Kak Fattan nggak akan tahu kesalahan Kakak kalau Kia hanya diam terus" ujar Fattan.


"Iya, Kakak. Nanti Kia tegur" balas Sakia.

__ADS_1


Pesanan mereka pun diantarkan oleh seorang pegawai RM Asoka. Fattan maupun Sakia saling tatap dan tersenyum lalu memulai makan malam bersama di RM Asoka. Setelah makan dan membayar tagihan makanan, keduanya memilih kembali ke ruko.


...🍁🍁...


Sakia maupun Fattan turun dari mobil lalu naik ke lantai dua ruko lewat tangga samping rumah. Sesampainya di lantai dua, Fattan maupun Sakia menyandarkan tubuh mereka di sofa.


"Lelah juga ya, Kak. Boleh dikata hanya duduk saja" ujar Sakia.


"Iya. Dek, Kakak mandi dulu ya. Rasanya lengket sekali" ujar Fattan.


"Hmm" hanya itu balasan Sakia. Wanita itu memilih memejamkan mata dan membiarkan suaminya masuk ke dalam kamar. Sesampainya Fattan di kamar, Sakia mengulas senyum indah di bibirnya.


"Bahagianya bisa jatuh cinta lagi. Aku nggak boleh ungkapin perasaanku. Biarkan saja aku pendam sendiri. Tapi-- kalau aku pendam kapan aku punya anak? Kak Fattan nggak mau sentuh aku kalau aku belum jatuh cinta padanya. Haiss!!" batin Sakia dengan kesal.


"Bila aku terus menyimpan perasaanku, maka impian ku untuk menjadi Ibu rumah tangga yang baik bagi anak-anak ku nggak akan tercapai. Karena pada dasarnya aku hanya ingin menjadi Ibu yang seutuhnya tanpa harus membagi waktu dengan pekerjaan dan merawat anak-anak serta suami" batin Sakia.


"Lagian aku sedang palang merah. Aku pastikan perasaanku dulu. Takutnya aku salah membenarkan perasaanku yang beberapa hari ini terasa berbeda" gumam saki, pelan.


"Berhubung Kak Fattan juga ulang tahun maka kado yang aku berikan nanti adalah kesiapan ku" batin Sakia dengan malu-malu.


"Mesum bangat sih otakku ini. Mana pikirannya ke sana lagi. Hahahaha" gumam Sakia terkekeh.


Setelah mandi, Fattan menemui Sakia di sofa. Dilihatnya Sakia sedang menerima panggilan masuk. Rasa cemburu lagi-lagi menghampirinya saat menyaksikan istrinya cekikan di telepon.


"Bahagia bangat sih, Dek" tegur Fattan mengambil tempat di bagian kepala istrinya. Mengangkat kepala istrinya dan menjadikan paha empuknya sebagai bantal untuk istrinya.


"Aku akhiri panggilannya ya. Soalnya ada Kak Fattan" kata Sakia pada Nada dan Nurin.


"Siapa yang menelepon denganmu?" tanya Fattan menyelidik.

__ADS_1


"Biasa, Nada dan Nurin" balas Sakia.


"Pasti sama Alif, tapi hanya Nada dan Nurin yang dia sebut!" cemberut Fattan dalam hati.


__ADS_2