
Perumahan Hertasning
Malam hari
Aziz mendengus kesal saat ia memikirkan apa yang dibisikan istrinya. "Kenapa harus itu sih yang aku pikirkan! Kenapa juga Amrita mengatakan itu disaat dia berencana pergi. Apa dia pikir aku bukan laki-laki normal!!" ketus Aziz.
Ia beranjak dari tempat tidur. Berjalan menuju lemari pakaian istrinya. Aziz membuka lemari istrinya lalu mengambil baju milik sang istri. "Semoga dengan baju ini rasa rinduku dapat terobati" gumamnya pelan.
Aziz kembali ke tempat tidur, ia mengenakan baju kaos istrinya. Berharap, dengan memakai baju kaos istrinya maka rindunya akan terobati dan apa yang dibisikkan istrinya bisa ia lupakan untuk sementara.
"Hahahaha. Kenapa aku bisa seperti ini" gumamnya pelan lalu memejamkan mata.
Pagi hari
Gunung Bulusaraung
Amrita dan teman-temannya sedang duduk di puncak gunung Bulusaraung. Mereka sangat bahagia saat menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung Bulusaraung.
"Amrita, tolong foto aku dan Hanin" pintah Fakri sembari menyerahkan Canonnya pada Amrita.
Amrita tersenyum, ia mengambil Canon dari tangan Fakri lalu memotret Hanin dan Fakri.
"Wah, bagus sekali pemandangannya" ujar Hanin saat melihat hasil foto yang diambil Amrita.
"Dek, ayo kita kembali ke tenda. Panggil teman-teman yang lain" kata Haidir pada Amrita, Hanin dan Fakri.
"Baik kak, nanti kami panggil teman-teman yang lain" balas Fakri.
Amrita dan Hanin serta Fakri. Ketiganya memanggil teman-teman mereka untuk kembali ke pos sembilan.
-----------
Aziz mengerjap, membuka matanya pelan-pelan. Ia tersenyum saat menyadari baju yang ia pakai. "Ternyata baju Amrita sangat ampuh mengurangi rasa rinduku" gumamnya pelan.
"Andai Amrita tahu kalau aku sudah jatuh cinta padanya. Aku yakin, dia pasti akan menertawakan ku. Aku harus menyembunyikan perasaanku sampai Amrita jatuh cinta padaku. Tapi apa iya Amrita akan jatuh cinta padaku" ujar Fakri. Ia berdebat dengan pikirannya sendiri.
Karena pagi ini Aziz dinas jam 09 pagi, maka dengan terpaksa ia harus beranjak dari tempat tidur. Karena tanggung jawab, ia harus melawan rasa malasnya.
"Inilah resikonya jika istri tidak ada. Semuanya harus dilakukan sendiri. Menyiapkan air hangat untuk mandi, menyiapkan sarapan pagi bahkan menyiapkan pakaian kerja sendiri" ujarnya kesal sembari mengoles selei pada roti tawar.
__ADS_1
--------------
Di tempat lain, di kediaman Pa Sofyan. Afika dan Tante Eka serta Pa Sofyan. Mereka sedang bersiap siap ke rumah sakit Unhas untuk menjenguk saudara mereka yang tertabrak mobil.
"Ibu, sepertinya papa tidak bisa ikut karena hari ini ada rapat di sekolah" ujar Pa Sofyan.
"Tidak apa-apa Pa. Nanti ibu dan Afika saja yang ke sana" balas Tante Eka.
"Iya Paman, nanti aku dan tante saja yang ke sana" timpal Afika. Sofyan tersenyum mengangguk. Ia ke luar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil.
Perumahan Hertasning
Saat ada istrinya, Aziz akan mandi pagi terlebih dahulu lalu selanjutnya sarapan pagi. Namun saat istrinya tidak ada, Aziz memulai sarapan pagi terlebih dahulu baru dia mandi.
"Andai ada Amrita, aku tidak perlu menyiapkan air hangat untuk mandi dan aku tidak perlu menyiapkan pakaian kerja" gumam Aziz. Ia berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aziz keluar dari dalam kamar mandi setelah 20 menit berada di dalam. Ia mengenakan baju kameja putih dan celana biru jins.
Aziz terkekeh melihat wajahnya di depan cermin. "Ternyata aku tampan juga" gumamnya.
"Astagfirullah, Astagfirullah. Setan apa yang merasukiku. Kenap aku bisa seperti perempuan yang suka memuji kecantikannya di depan cermin" ujar Aziz mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aduh! Kenapa aku bisa jadi pelupa seperti ini..." umpat Aziz memukul jidatnya. Ia lupa mengambil baju jasnya yang ia cuci semalam dan sudah ia setrika. Dengan terpaksa Aziz kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju jasnya.
"La... la la la la la..." Aziz menyanyi sembari menaiki anak tangga. Entah lagu apa yang akan ia nyanyikan.
Sesampainya di kamar, Aziz mengambil baju jasnya yang ia gantung dengan rapih di lemari pakaian. "Sya... la la la la la... aku sudah tidak sabar menunggu istriku pulang..." Aziz menyanyikan lagu yang ia cipta sendiri.
RR Awal Bros
Terlihat salah satu mobil putih yang baru saja terparkir di parkiran rumah sakit. Beberapa detik kemudian, terlihat seorang Dokter ke luar dari dalam. Ya, dokter itu adalah Aziz.
Dari kejauhan, lagi-lagi Pa Berti tersenyum melihatnya. Aziz yang menyadari senyum itu untuknya kembali menatap pakaian yang ia kenakan.
"Baju dan celanaku tidak terbalik. Lalu apa yang membuat Pa Berti tersenyum melihatku?" gumam Aziz. Ia terus melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah sakit.
"Assalamualaikum dok" Pa Berti memberi salam pada Aziz. Pa Berti adalah Satpam yang kemarin menyapa Aziz.
"Waalaikumsalam" balas Aziz tersenyum.
__ADS_1
"Lho, kenapa Dokter terlihat kusut hari ini?" tanya Pa Berti tersenyum.
"Pa, apa tampangku terlihat kusut?" Aziz balik bertanya.
Pa Berti mengangguk. "Iya, dokter terlihat kusut. Bahkan, baju jas yang dokter pakai tidak rapi" balas Pa Berti.
"Apa...!!" Aziz membulatkan mata tak percaya. Setahu dia, dia menyetrika bajunya hingga licin dan lembut. Bagaimana bisa Pa Berti berkata seperti itu.
"Bukannya aku menyetrika bajuku dengan baik dan licin" gumam Aziz yang didengar oleh Pa Berti.
"Hahahahaha. Pantas saja hari ini dokter nampak tidak bersemangat, ternyata istrinya lagi pergi toh" ujar Pa Berti disertai tawa. Baju jas adalah alasan yang Pa Berti gunakan untuk mengetahui alasan kenapa wajah Dokter Aziz terlihat kusut saat turun dari mobil.
"Begitu memang Pa jika istri lagi pergi. Semuanya kita yang mengerjakan. Mulai dari memasak, siapin air hangat untuk mandi, bahkan menyetrika baju sekali pun. Yang lebih parahnya lagi, jika di rumah tidak ada ART maka kita yang harus terjun langsung untuk menyapu rumah" jelas Pa Berti.
"Ya sudahla Pa, aku mau kerja dulu" kata Aziz. Ia tidak mau mendengar perkataan Pa Berti. Karena apa yang di katakan Pa Berti itu semuanya benar.
Seperti biasa, Aziz akan memeriksa kondisi pasiennya dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Setelah selesai, ia akan kembali ke ruangannya. Saat Aziz membuka pintu, ia mendengar Aher memanggilnya.
"Ada apa bro?" tanya Aziz saat Aher sudah berada di hadapannya.
"Tidak, aku hanya ingin melihat sahabatku" balas Aher dengan santai.
Aziz bergidik. "Kamu masih normal kan" ujar Aziz sembari membuka pintu ruangannya.
--------------
Waktu menunjukan pukul 22:00, Aziz baru tiba di rumah. Hari ini ia lembur karena ada sesuatu yang terjadi di rumah sakit. Itulah sebabnya ia tiba di rumah pukul 22:00.
Aziz membuka pintu rumah, ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Langkahnya terhenti di depan pintu saat ia melihat pintu kamarnya sedikit terbuka.
"Bukannya pagi tadi aku menutupnya rapat-rapat. Ya Allah, apa di rumah ini ada hantu?" gumam Aziz. Tiba-tiba lampu di ruang tamu dan ruang keluarga padam. Beberapa detik kemudian, terdengar suara wanita yang memanggil nama Aziz lalu menangis. Panggilan itu seperti hantu.
"A-----Ziz... A----ziz... A---ziz... Hiks hik hiks"
Aziz berkeringat dingin. Ia membaca surah Al-Fatihah lalu membaca ayat kursi. Saat bacaannya sudah selesai, tiba-tiba semua lampu menyala. Beberapa detik kemudian, ia mendengar istrinya tertawa terbahak-bahak.
"Selamat, bacaan Om sangat sempurna" kata Amrita menahan tawa.
"Amrita...! Jadi kamu yang menakutiku...!!" teriak Aziz. Ia mengejar istrinya yang tertawa di lantai 1.
__ADS_1