Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 10


__ADS_3

"Sakia... kamu salah paham, Dek" Sabila berlari mengejar Sakia. Sakia mengucih pintu dari dalam kamar dan membiarkan Fattan dan Sabila mengetuk pintu.


Di dalam kamar, Sakia tidak menangis ataupun marah. Dia terlihat santai saja dan bahkan dia duduk di balkon sambil menatap jauh ke rumah mereka. Rumah di mana ia dibesarkan. Rindu, sudah jelas dia rindu para penghuni rumah itu.


"Besok saja baru aku beri pelajaran pada Kak Sabila. Memberinya pelajaran malam-malam akan membuat Mama sulit tidur" gumam Sakia.


"Sudak cukup aku diam dan menerima semua akibat dari kelakuannya. Aku malas melihat wanita yang berpikir pendek. Otaknya di mana coba, bisa-bisanya dia memeluk Kak Fattan di rumah ini. Kalau mereka saling mencintai kenapa harus membuat sensasi yang melibatkan diriku" sambung Sakia menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran Fattan dan Sabila.


Sakia membuka pintu kamar setelah mendengar adzan magrib. Setelah pintu terbuka, terlihat Fattan masuk ke dalam kamar meraih tangan Sakia. Sakia yang sementara hendak melangkah ke kamar mandi, wanita itu menghentikan langkahnya.


"Dek, yang tadi itu hanya salah paham. Kakak dan Sabila nggak balikan dan kami nggak ngapa-ngapain" jelas Fattan.


"Apa berpelukan bukan namanya ngapa-ngapain? Apa harus cium-cium dulu dan khilaf dulu baru bilang ngapa-ngapain?" tanya Sakia mengerutkan keningnya.


"Kia menegur Kak Fattan dan Kak Sabila bukan karena Kia cemburu atau marah. Kia hanya nggak mau ada orang berbuat hal miris di rumah ini. Sangat miris kelakuan suami jaman sekarang. Ngakunya shalat lima waktu tapi kelakuannya berbanding terbalik" kata Sakia.


Fattan terdiam menunduk menatap lantai. Pria itu menyadari kesalahannya. "Tapi tadi Sabila merasa pusing jadi langsung memeluk Kak Fattan" jelas Fattan menunduk.


Sakia tertawa lepas. Seketika dia diam dan menatap tajam suaminya. "Alasan yang seperti itu sudah nggak mempan bagiku. Alasan itu adalah musik yang sering kali aku dengar. Apa Kakak lupa apa yang Kakak dan Kak Sabila lakukan dulu saat Mama dan Papa nggak ada di rumah? Berciuman dengan alasan makanan pedas? Sangat menjijikan" sindir Sakia.


Degh!!


Fattan terdiam dan semakin menunduk. Apa yang dikatakan Sakia itu benar. Tidak ada yang salah. Dulu, saat Mama Mahdania dan Papa Aher bermalam di rumah Kakek Zainal, Fattan datang membawa nasi goreng pedas untuk Sabila dan Sakia. Saat Fattan hendak pulang, Sabila menahannya dan memintanya, menemaninya makan. Karena calon istri yang minta maka Fattan pun menuruti. Dan hal yang tidak terduga justru terjadi di depan Sakia. Sabila, kakak kandung Sakia mencium bibir Fattan cukup lama. Saat Sakia menegur, alasan Sabila hanya satu, nasi gorengnya kepedasan. Alasan yang konyol sekali.


"Kak Fattan, nggak seharusnya aku mengungkit masa lalu Kakak. Hanya saja, Kakak dan Kak Sabila yang menekan ku mengungkitnya" kata Sakia.

__ADS_1


"Kia" panggil Fattan dengan pelan lalu mengangkat kepalanya. "Maafkan Kakak. Kakak tahu Kakak salah. Hukum Kakak agar Kia bisa bahagia dan nggak terluka lagi"


Sakia terkekeh. "Jika memang Kakak ingin Kia bahagia maka jangan batasi pergaulan Kia. Biarkan Kia berteman dengan siapapun. Mau dia laki-laki ataupun perempuan" jelas Sakia.


Fattan terdiam memikirkan permintaan istrinya, Sakia. Bagaimana mungkin dia membiarkan Sakia berteman dengan banyak laki-laki sedangkan satu laki-laki saja dapat menyalakan api cemburu dalam dirinya. Tak tahu harus jawab apa, Fattan memilih ke kamar mandi mengambil wudhu.


...---...


Saatnya makan malam, Sakia dan Fattan duduk berhadapan di meja makan. Suasana masih sama, tak ada suara dan hanya bunyi sendok yang terdengar. Setelah makan, Sakia mencuci piring kotor sementara Fattan mengelap meja.


"Kia, Kak Fattan mau bicara" kata Fattan.


"Iya" balas Sakia mengikuti langkah kaki suaminya dari belakang. Fattan naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar berhenti di balkon.


"Kakak mau bicara apa?" tanya Sakia mengambil tempat di kursi.


Sakia memalingkan pandangannya. Wanita itu tidak mau menatap manik mata suaminya. Terlebih lagi itu laki-laki yang pernah dia kejar. "Berarti, tapi dalam arti Kakak dan Adik. Nggak lebih dari itu. Sekarang Kia adalah istri Kakak dan Kakak adalah suami Kia. Cinta dengan tidaknya Kia tetap akan melakukan tugas Kia sebagai seorang istri dan menjaga nama baik Kakak" jelas Sakia.


"Kak Fattan, jangan memaksa diri untuk belajar mencintai. Jujur saja, Kia nggak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Memang benar, Kia ada atas dasar cinta, namun Kia hidup tanpa merasakan cinta. Di saat ada yang mengatakan cinta, cinta itu tiba-tiba berganti dengan alasan" ungkap Sakia. Tiba-tiba dia terkekeh mengingat janji manis Alif yang akan datang melamarnya, agar mereka bisa melangsungkan acara di waktu yang sama dengan Fattan dan Sabila.


"Ayo kita tidur" ajak Fattan. Pria itu tidak tahu harus berkata apa lagi. Sepertinya hati Sakia bukan lagi hati yang pada umumnya tapi batu yang keras.


"Ayo" balas Sakia dengan santai.


...---...

__ADS_1


Pukul tiga malam, Fattan terbangun dari tidurnya. Fattan menatap lekat wajah istrinya yang pulas. Deruh napas Sakia menandakan rasa lelahnya di siang hari saat wanita itu menyibukkan diri di butik dengan berbagai aktivitas. Tentu saja hal itu membuatnya lelah di malam hari.


"Aku yang mengambil kebahagiaanmu. Aku janji, aku akan memberimu kebahagiaan yang selama ini nggak kamu dapatkan" batin Fattan seraya mengelus rambut lurus istrinya.


"Aku harus berhati-hati pada Sabila. Aku rasa wanita itu memiliki rencana. Andai tadi Sakia nggak mengungkit masa lalu maka alasan Sabila tentunya akan masuk akal" batin Fattan.


...---...


Rumah nomor A20


Sakia mengetuk pintu rumah Mamanya berulang kali. Dia sengaja datang di pagi hari karena di waktu pagi Sabila pasti di rumah dan Mamanya tidak akan insomnia.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Sakia" Mama Mahdania memeluk erat Sakia. Sakia diam tak bergeming. Netra matanya mulai berkaca-kaca.


"Mama, Kia rindu Mama tapi Kia ke sini mau beri pelajaran pada anak kesayangan Mama dan Papa" jelas Sakia terisak. Terisak bukan karena takut pada Sabila tapi terisak karena melihat Mamanya menangis.


Mahdania melerai pelukannya. "Kia, apa kamu masih marah pada Kakakmu?" tanya Mama Mahdania dengan halus.


"Sakia adikku... bagaimana kabar mu, Dek?" tanya Sabila tanpa merasa bersalah.


Sakia tersenyum sinis. Ia maju tiga langkah ke depan dan berdiri di depan kakaknya.


Plak...!!!

__ADS_1


Plak...!!!


Dua tamparan mendarat di pipi mulus Sabila.


__ADS_2