Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 11


__ADS_3

"Sakia..." teriak Papa Aher dari tangga. Papa Aher menghampiri kedua putrinya dan berdiri diantara keduanya. "Minta maaf pada kakak mu!" titah Papa Aher meninggikan suaranya


"Nggak! Kia nggak mau minta maaf pada Kak Sabila"


Sakia menggeleng melangkah mundur. Air matanya terus bercucuran membanjiri pipinya. Hatinya terasa sakit saat pria yang dia panggil Papa bersikap tidak adil padanya. Dan Mamanya, wanita paruh baya itu selalu diam. Boleh di kata, kata parah tetangga, Mama Mahdania sangat ditakuti Papa Aher. Lalu kenapa wanita itu hanya menangis dan menangis? Entahlah.


"Papa, jangan marahi adik ku. Mungkin dia masih marah karena masalah dua minggu yang lalu" ujar Sabila meneteskan air mata. Licik, itulah kata yang pantas untuk Sabila.


"Dasar wanita bermuka dua!" teriak Sakia melangkah maju dan ingin melayangkan tamparan lagi di pipi Kakaknya, namun niatnya ia urungkan saat melihat Mamanya menangis.


"Harusnya kau senang karena menikah dengan Fattan!" bentak Papa Aher.


"Hahahahaha" Sakia tertawa lepas. "Papa, Kia nggak ingin menjadi anak durhaka. Tapi sikap Papa akan membuat Kia menjadi anak durhaka. Apa Papa tahu alasan Kia menampar Kak Sabila? Nggak kan Pa, Ma. Kalian nggak tahu dan kalian nggak tanya kenapa Kia menamparnya. Apa kalian tahu, putri kesayangan Papa semalam datang di rumahku dan dia memeluk suamiku" ungkap Sakia dengan netra mata yang kembali berkaca-kaca.


"Kia yakin, Papa pun tahu perbuatan seperti itu baik apa nggak. Kia pamit pulang, Pa, Ma. Tolong Papa dan Mama jaga kesehatan" kata Sakia lalu keluar dari rumah Mama dan Papanya.


Sepeninggal Sakia, Papa Aher menatap Sabila. "Apa benar yang dikatakan adik mu?" tanya Papa Aher mengepal tangannya.


"Nggak, Pa. Sabila nggak ke rumah mereka. Semalam Sabila jalan sama teman-teman Sabila" elak Sabila berbohong.


Plak...!!


Plak...!!


"Itu tamparan karena kamu telah berbohong. Dan karena kamu telah lancang memeluk suami adikmu!" hardik Mama Mahdania.


"Apa kau pikir Mama nggak tahu apa yang kamu lakukan semalam! Hah!!" bentak Mama Mahdania.


Sabila menangis memegang pipinya yang merah dan terasa perih. "Aku benci kalian!!" teriak Sabila berlalu ke kamarnya.


"Dan kamu, selama ini aku selalu diam karena menghargai mu sebagai kepala keluarga tapi semakin hari kamu semakin bersikap nggak adil pada kedua putri kita!!" seru Mama Mahdania. Bulir bening wanita itu tak henti-hentinya menetes.


Papa Aher diam tak bergeming, pria itu merasa bersalah pada putri bungsunya, Sakia.


...--...

__ADS_1


Sakia menangis di dalam kamar mandi. Bukan lagi sikap Papanya yang membuatnya terluka tapi sikap Kakaknya yang baru Sakia sadari. "Kenapa Kak Sabila seperti itu padaku?" batin Sakia di sela-sela tangisnya.


"Dek, kamu kenapa?" Fattan mengetuk pintu kamar mandi berulang kali.


Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)


"Kakak nggak kerja?" tanya Sakia melewati suaminya lalu berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya yang sembab.


"Sekarang hari minggu" jawab Fattan berdiri di samping istrinya.


"Kia lupa" ujar Sakia menatap suaminya. Fattan menarik tangan Sakia dan memeluknya dengan erat.


"Kakak tahu Kia nggak baik-baik saja. Kenapa Kia ke rumah Mama dan Papa tanpa mengajak Kak Fattan. Apa Kia pikir Kakak masih mencintai Sabila? Demi Allah, Dek. Kak Fattan nggak mencintai Sabila. Kak Fattan baru menyadari perasaan Kakak. Kia tahu, Kak Fattan senang saat Sabila pergi dan Kak Fattan senang saat Kia mau menggantikan Sabila" ungkap Fattan dengan tulus.


Untuk pertama kalinya Sakia menangis dalam pelukan Fattan. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Bukan cinta yang membuatnya kuat tapi masalah demi masalah yang membuatnya kuat. Dan haruskah dia bahagia saat mendengar ungkapan hati suaminya?


"Kak Fattan, Kia nggak mau tinggal di sini. Kia mau tinggal di butik" ujar Sakia sesenggukan.


Fattan melerai pelukannya kemudian memegang kedua bahu istrinya. "Apa ada yang menyakitimu?" tanya Fattan.


"Ya. Ada yang menyakitiku. Sikap Kakak, dan sikap Kak Sabila. Kalian berdua, pasangan yang bermuka dua" ungkap Sakia terisak.


Fattan meneteskan air mata. Rasa cinta yang mulai disadarinya membuat pria itu tidak tega menyaksikan wanita yang dicintainya menangis. "Maafkan Kakak, Sakia" ujar Fattan dan kembali memeluk istrinya.


"Jika kamu ingin kita pindah, maka ayo kita bersiap-siap. Kita tinggal di butik atau kita cari kontrakan yang dekat dengan butik" kata Fattan.


Untuk pertama kalinya ada yang menuruti keinginan Sakia tanpa banyak bertanya. Tapi bukan berarti dia mulai jatuh cinta pada suaminya. "Kita hubungi Papa dulu" kata Sakia.


Fattan melerai pelukannya lalu menyeka air mata istrinya. "Papa akan mengerti" kata Fattan menuntun istrinya duduk di bibir tempat tidur.


...---...


Pukul 15:02 PM


Sakia dan Fattan baru selesai membersihkan ruko yang dibantu oleh Nurin dan Nada. Kedua pasangan itu menyewa ruko minimalis dua lantai yang berada di depan Butik Sakia Fashion. Terdapat dua kamar di lantai dua dan ada sofa serta televisi juga ada balkon. Di samping ruko ada tangga yang langsung terhubung ke lantai dua.

__ADS_1


Fattan, Sakia, Nurin dan Nada duduk di sofa yang ada di ruko. "Alhamdulilah" Sakia mengucap syukur sambil menyandarkan kepalanya di sofa.


"Nurin, Nada, makasih ya, Dek. Maaf, Kak Kia merepotkan kalian lagi" kata Sakia merasa haru dengan sikap Nurin dan Nada yang selalu siap siaga saat tenaga mereka dibutuhkan.


"Sama-sama Kak Kia" balas Nurin tersenyum.


"Kalian istirahat dulu di sini. Dan ini dompet nanti pesan saja makanan atau kue yang mau kalian makan. Kak Fattan mau mandi dulu" kata Fattan sambil menyerahkan dompetnya pada Sakia.


"Iya, Kak" balas Sakia.


Setelah Fattan ke kamar, Nada dan Nurin mendekati Sakia. "Kakak, kan di lantai satu nggak dihuni tuh, bagaimana kalau kita pindah di sini saja. Lagian dilantai satu luas sekali daripada di butik" kata Nada menyarankan.


"Boleh, nanti besok baru kita bicarakan dengan Kak Alif" balas Sakia tersenyum.


...---...


Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Sakia berdiri di balkon memandang ke bawah. Menatap mobil dan motor yang berlalu lalang di jalan raya.


"Alhamdulilah ya Allah. Sekalipun aku nggak punya gelar sarjana tapi aku bisa menghasilkan uang halal. Terima kasih ya Allah. Terima kasih untuk rezeki yang engkau berikan padaku dan pada tiga pegawai ku" batin Sakia.


"Kia" panggil Fattan. Pria itu menghampiri istrinya di balkon. "Apa kau bahagia?" tanya Fattan.


"Alhamdulilah, Kak" balas Sakia tersenyum.


"Aku senang melihatmu tersenyum, istriku. Aku janji, aku akan mencari tahu alasan Sabila melakukan ini padamu" batin Fattan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Note: Jangan pernah berpikir kalau saya sombong karena tidak membalas komentar para pembaca. Jujur saja, saat kuliah di semester 4, satu anggota tubuh saya nggak bisa digerakkin. Saya kira stroke ternyata bukan, melainkan karena radiasi hp. Sejak saat itu, saya mulai membatasi waktu memegang ponsel. Itulah kenapa, saya hanya membaca komentar dan fokus mengetik. Jikapun ada yang saya balas, maka itu berarti saya nggak mengetik 🙏


Pesan saya, jangan gunakan ponsel sampai panas. Takutnya akan berdampak buruk bagi kesehatan 🤗


__ADS_2