
Tiga hari setelah hari kelahiran baby Mutmaina dan baby Asraf Alfatih, Nurin dan Nada diperbolehkan pulang oleh Dokter. Dan kini, dua Ibu muda itu telah berada di rumah Ibu mertua mereka masing-masing. Sementara di rumah pribadi Sakia dan Fattan, Sakia masih memikirkan kalimat yang dilontarkan oleh Sukma-tiga hari yang lalu.
"Lagian, jika benar aku hamil anak kembar, Dokter Nurma pasti memberitahuku" gumam Sakia sambil memperhatikan gerakan janinnya di dalam perut.
"Assalamualaikum. Apa kabar anak Mama Kia? Sehat-sehat di dalam ya, Nak. Mama dan Papa serta keluarga besar kita sangat menantikan kehadiranmu" ucap Sakia seraya mengelus perutnya. Janin yang ada di dalam rahim Sakia sangat aktif. Gerakannya tidak hanya disatu tempat, tapi hampir diseluruh area perutnya. Hal itu membuat Sakia tertawa karena ia bisa merasakan pergerakan janinnya.
"Bukannya sekarang jam 5 sore, kok Papa belum pulang juga" ucap Sakia mengajak anak yang dikandungnya berbicara.
"Mungkin macet, Ma" jawab Sakia yang berperan sebagai anak dalam rahimnya.
"Iya juga sih. Hehehe, pintar sekali anak Mama" ucap Sakia lagi, berperan sebagai dirinya sendiri.
"Yeah... Papa pulang..." sorak Sakia berusaha beranjak dari duduk. Wanita dengan perut besar itu berjalan menuju pintu utama saat mendengar mobil berhenti di depan rumahnya. Dan benar saja, di depan rumah, terlihat Fattan keluar dari mobil. Di tangan kanannya, ada kertas bening berisi pisang moleng dan gorengan.
"Assalamualaikum" ucap Fattan tersenyum menghampiri istrinya.
"Waalaikumsalam" sahut Sakia lalu meraih tangan suaminya dan menciumnya.
Fattan mencium puncak kepala istrinya, lalu berjongkok dan mencium perut besar sang istri. "Assalamualaikum anak Papa, sehat-sehat kan? Maaf ya, Papa baru bisa mengajakmu berbicara" ucapnya pada janin yang dinanti kelahirannya.
Janin yang di dalam kandungan Sakia kembali aktif, menandakan bahwa janin itu senang mendengar suara Fattan yang tak lain adalah pria yang akan dipanggil Papa. Semakin Fattan mengajaknya berbicara, semakin aktif pula gerakannya di dalam rahim.
"Kak Fattan, sekarang Kakak mandi ya. Nanti keburu Magrib" ujar Sakia.
Fattan tersenyum mengangguk. Lalu berdiri menghadap istrinya. "Ayo" ajaknya menuntun istrinya ke sofa. "Sekarang kamu tunggu di sini, Kakak mau mandi dulu" sambungnya.
"Mbak Dian.." panggil Fattan pada ART yang bekerja sejak Sakia dinyatakan hamil.
__ADS_1
Wanita yang bernama Dian menghampiri Fattan dan Sakia. "Iya Mas Fattan" jawab Mbak Dian. Mbak Dian adalah Ibu rumah tangga yang memiliki satu orang putra. Putra Mbak Dian tinggal di kampung bersama suami Mbak Dian.
"Tolong letakan ini di piring, setelah itu bawa ke sini" pinta Fattan seraya menyerahkan kresek putih yang berisi gorengan. "Mbak temani istri saya ya, nanti kita makan bersama setelah saya mandi" sambungnya.
"Baik, Mas Fattan" balas Mbak Dian.
Usai mandi dan mengenakan baju, Fattan menemui istrinya dan Mbak Dian di ruang keluarga. Mereka pun menikmati gorengan bersama sambil menunggu waktu magrib.
......🍁🍁......
Waktu begitu cepat berlalu, usia kandungan Sakia semakin membesar. Berdasarkan perkiraan Dokter, Sakia akan melahirkan di tanggal 12, dan dua minggu lagi waktu itu akan tiba. Berhubung waktu kelahiran semakin mendekat, Sakia memilih berolahraga sesuai anjuran Dokter agar kepala bayi turun ke panggul.
"Mbak Sakia, minum dulu" Mbak Dian menyodorkan segelas air putih pada majikannya.
Sakia yang sementara duduk di kursi, wanita itu meraih gelas yang diberikan oleh Mbak Dian. Lalu meneguk air di dalam gelas dalam sekali tegukan. "Terima kasih, Mbak" ucap Sakia tersenyum.
"Air ketubannya pecah, Mbak. Kita harus ke rumah sakit" jelas Mbak Dian dengan panik. Sementara Sakia terlihat biasa saja.
"Mbak, tolong ambil ponsel dan kunci mobil di kamar" pinta Sakia. Ada sesuatu di bagian selangkangannya yang terasa sobek, membuat Sakia merasakan nyeri hebat. Untuk mengurangi rasa nyeri itu, Sakia melakukan gerakan yang dia pernah tonton di youtube, yaitu menghela napas pelan lalu menghembuskannya lewat mulut.
"Iya, Mbak" jawab Mbak Dian bergegas ke kamar majikannya. Tak lama, Mbak Dian kembali sambil membawa kunci mobil dan ponsel milik Sakia.
"Tolong bantu aku" pinta Sakia berusaha untuk berdiri.
Mbak Dian membantu Sakia berdiri dan menuntunnya ke keluar rumah. "Mbak Kia, aku nggak pandai menyetir mobil" ungkap Mbak Dian.
"Cepat masuk Mbak, dan tolong hubungi Kak Fattan dan keluargaku yang lain" pinta Sakia lalu duduk di kursi kemudi. Sementara Mbak Dian duduk di sampingnya sambil mencoba menghubungi Fattan.
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat Mbak Dian gugup. Sementara Sakia, wanita itu terus mengatur napasnya dengan pelan. Rasa nyeri terus menghampirinya namun saran dokter yang dia nonton lewat youtube sangat membantunya. Tak lama, Sakia memarkirkan mobil di depan rumah sakit.
"Tolong... majikan saya mau melahirkan" teriak Mbak Dian.
Petugas medis yang berada di depan pintu UGD pun berlari sambil membawa brankar roda. Mereka membuka pintu mobil belakang dan tidak menemukan pasien yang akan melahirkan.
"Saya yang mau melahirkan, Pak" pekik Sakia sambil menahan nyeri yang kembali menghampirinya.
"Mbak Dian... Sakia mana?" teriak Fattan berlari keluar dari ruang UGD.
Petugas medis membuka pintu bagian kemudi, lalu mengangkat tubuh Sakia dan membaringkannya di brankar roda.
"Sayang, kamu yang kuat ya" ucap Fattan menguatkan istrinya. Dia dan beberapa petugas medis mendorong brankar roda ke ruang persalinan. Sesampainya ke ruang persalinan, Fattan melepas baju dokternya agar dia bisa menemani istrinya melahirkan.
"Di mana Dokter Nurma?" tanya Fattan pada Bu Bidan.
"Dokter Nurma diperjalanan, Dok. Sedikit lagi sampai" jawan sang Bidan.
Sakia mulai mengejan saat merasa ada sesuatu yang menekan keluar. Karena belum sampai pembukaan 10, Bu Bidan memintanya untuk tidak mengejan. Sakia yang merasa kepala bayinya sudah di ambang pintu, wanita itu mengatur napas pelan.
"Kak Fattan, Kia belum melepas ****** ***** yang Kia pakai" pekik Sakia.
"Apa!!" Fattan membulatkan mata. Dengan segera ia melepas ****** ***** istrinya. Tubuhnya lemas saat melihat kepala anaknya sudah keluar. Pemandangan itu harusnya disaksikan oleh Bidan dan Dokter Nurma, namun siapa sangka, posisi Fattan yang berada di depan istrinya, membuat Fattan seperti sedang menuntun pasien melahirkan.
"Bu... kepala anakku sudah kelihatan!!" teriak Fattan menoleh kearah Ibu Bidan.
Bidan yang mendengar itu langsung menghampiri Sakia. Bertepatan dengan pintu terbuka, dan ternyata Dokter Nurma sudah tiba dan sudah siap membantu proses persalinan pasiennya.
__ADS_1
"Oek... oek... oek..." tangisan bayi terdengar. Pandangan Fattan beralih ke bagian ************ istrinya.