
Nurin nampak mondar mandir di lantai dua. Sekali-kali dia melirik jam dinding, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Namun Nada tak kunjung menampakan batang hidungnya di ruko.
"Itu pasti Nada" gumam Nurin berlari ke balkon. Dan benar saja, dia melihat Nada keluar dari mobil Ferri.
"Astaghfirullah... Apa dia nggak takut jalan sama laki-laki" gumam Nurin menggeram kuat.
Cek--lek... (Pintu terbuka)
"Assalamualaikum" Nada masuk sambil mengucap salam.
"Waalaikumsalam" jawab Nurin.
"Dari mana saja kau? Kenapa baru pulang? Apa kau nggak takut di apa-apain sama Kak Ferri. Kau itu perempuan, kau kesini untuk bekerja bukan jalan-jalan sama laki-laki. Bagaimana kalau dia menggoda mu dan mengambil kesucianmu? Apa yang mau kau berikan pada suamimu nanti?" pertanyaan beruntun serta omelan ke luar dari mulut Nurin dengan intonasi tinggi.
"Kamu apa-apain sih. Suka suudzon sama orang. Nggak baik loh, Nurin. Sadar Nurin sadar" kata Nada dengan santai.
"Kamu yang harusnya sadar. Kita ke kota untuk bekerja bukan untuk jalan sama laki-laki di malam hari!" kata Nurin dengan amarah yang memuncak.
"Cukup malam ini aku melihatmu keluar bersama laki-laki di malam hari ataupun disiang hari. Berani kamu kedapatan jalan sama laki-laki, aku pastikan kamu akan diminta pulang oleh Mama dan Papa kamu!!" ancam Nurin.
Nada tertawa lirih. Dia mengabaikan Nurin yang marah-marah dan sibuk menasehatinya. "Aku mandi dulu ya. Selamat malam Nurin cantik. Ummuaach" kata Nada lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar wanita gila!!" teriak Nurin.
"Hahahaha" tawa Nada pecah. Dia mengabaikan Nurin yang marah marah di luar kamar.
......🍁🍁......
Fattan membaca buku kedokteran di sofa sementara Sakia mengisi uang di dalam amlop coklat. Uang atau gaji Nurin, Nada dan Alif. Selama sebulan, pendapatan mereka lumayan banyak hingga masing-masing dari mereka mendapatkan 11 juta dari hasil penjualan baju gamis online dan hasil penjualan makanan di restoran. Sementara pegawai restoran yang lain juga gajian. Dan gaji yang mereka dapatkan sesuai dengan gaji yang sudah ditetapkan. Namun karena hasil dari restoran lumayan banyak hingga Sakia melebihkan gaji para karyawan.
"Alhamdulilah. Akhirnya doa Nurin dan Nada Allah kabulkan. Dengan uang ini, mereka bisa mengirim adik-adik mereka ke pesantren" gumam Sakia. Sakia mengambil ponselnya lalu melakukan panggilan video bersama Nurin.
__ADS_1
"Assalamualaikum" sapa Sakia tersenyum.
"Waalaikumsalam" jawab Nurin.
"Mana Nada, Dek?" tanya Sakia.
"Dia di kamarnya. Kakak tambah panggilan saja. Aku malas ke kamarnya" kata Nurin cemberut.
Sakia pun menambahkan panggilan. Tak lama menunggu, Nada pun menjawab panggilan video dari Nada. "Assalamualaikum, Kak Kia" sapa Nada tersenyum.
"Waalaikumsalam" jawab Sakia. "Dek, kalian berdua kenapa?" tanya Sakia. Tak biasanya Nurin bersikap seperti tadi.
Nada terkekeh. "Kakak, Nurin marah karena aku pulang malam. Aku tadi di rumah Kak Ferri" jelas Nada.
"Aku kesal padanya. Dia jalan dari pagi hingga malam. Bagaimana kalau dia di apa-apain oleh Kak Ferri. Kak Ferri kan dari Belanda. Sempat aja kebiasannya yang di sana dia aplikasikan di Indonesia" jelas Nurin.
Sakia terkekeh. "Dengar tuh Nada, jangan suka keluyuran" kata Sakia berpura-pura menasehatin sekalipun dia tahu apa yang dilakukan Nada di rumah Ferri.
"Besok Kakak mau ke restoran, mau ngasih gaji kalian" kata Sakia. "Sekarang kalian istirahat, Kakak mau makan dulu. Assalamualaikum" kata Sakia.
Ehem!! Sakia berdehem. "Kakak, izin ya" kata Sakia.
"Iya" balas Fattan tanpa menoleh ke istrinya.
Sakia merebahkan tubuhnya di sofa berbantalkan paha suaminya. "Kakak besok kerja?" tanya Sakia menatap Fattan.
"Iya. Kan besok itu hari senin" jawab Fattan.
"Pulang jam lima lagi?" tanya Sakia lagi.
"Iya, Dek. Oh ya, agenda besok itu masak bersama. Jadi besok kamu jangan memasak. Tunggu Kakak pulang baru kita masak sama-sama" jelas Fattan.
__ADS_1
Sakia mengulas senyum. "Oke" balasnya lalu memejamkan mata. Dia mengantuk tapi tidak mau tidur di kamar. Maka dari itu, tidur di sofa adalah pilihan yang tepat baginya.
Pukul sepuluh malam, Fattan menutup buku cetaknya. Dia menatap wajah istrinya yang tertidur pulas. Seulas senyum tersungging manis di bibirnya. "Tak disangka, dia yang pernah aku abaikan, yang aku tolak cinta dan keberadaannya, kini menjadi wanita yang aku rindukan dan aku inginkan menjadi Ibu dari anak-anakku" batin Fattan mengelus pipi istrinya.
Fattan menggendong istrinya dan membaringkannya di atas tempat tidur. Menutup sebagian tubuh istrinya dan tak lupa mencium puncak kepala istrinya. "Selamat tidur istriku" ucap Fattan lalu mematikan lampu kamar.
......🍁🍁......
Pukul dua malam, Alif dan Ferri sampai di Bandara Hasanuddin. Keduanya mengambil penerbangan pagi agar keduanya bisa langsung naik speed boat menuju kampung wanita yang akan mereka lamar. Perjalanan dari Bandara Hasanuddin ke Bandara Pattimura Ambon memakan waktu satu jam lebih. Dari Bandara Pattimura ke pangkalan speed boat juga satu jam lebih dengan menaiki mobil. Dari pangkalan speed ke kampung Nurin dan Nada empat jam perjalanan menggunakan speed boat.
"Lif, kamu simpan kan nomor yang Nada berikan padamu? Nomor pria yang akan menjemput kita di Bandara nanti?" tanya Ferri saat berada di boarding room Bandara Hasanuddin.
"Iya. Kata Nada kita akan sampai sore di kampungnya. Itupun jika kita langsung ke pangkalan speed boat. Kalau masih mau bermalam di Kota Ambon maka esok harinya baru bisa ke kampung" jelas Alif.
"Kita langsung saja. Nanti pulang dari kampung baru kita jalan-jalan di Kota Ambon" kata Ferri.
......🍁🍁......
Pagi hari
Sakia mencium tangan suaminya sebelum Fattan berangkat kerja. Rumah tangga mereka semakin hari semakin aman damai. Bahkan keduanya semakin romantis. Seperti pagi ini, Fattan mulai bersikap layaknya Papa Aziz yang selalu membantu pekerjaan istrinya. Fattan ingin mencari ART tapi Sakia menolak. Kata Sakia, tunggu dia hamil baru mereka memakai jasa ART untuk membersihkan rumah dan memasak.
"Semangat, Kak. Oh ya, Kia minta izin mau ke restoran" kata Sakia.
"Iya, Dek. Hati-hati bawa motornya. Jangan ngebut-ngebut ya" ujar Fattan mengingatkan sambil mengelus kepala istrinya.
"Iya, Kak" balas Sakia tersenyum.
"Kerjanya jangan sampai lelah. Jangan paksa tenaga. Kakak nggak mau Kia sakit. Kakak pergi dulu ya, Assalamualaikum" kata Fattan tersenyum.
"Waalaikumsalam" jawab Sakia.
__ADS_1
"Kakak, jaga mata jaga hati ya" ujar Sakia sebelum Fattan masuk ke dalam mobil.
Fattan terkekeh. "Siap istriku" kata Fattan lalu masuk ke dalam mobil.