
Fakri dan Amrita tak henti-hentinya saling membuka kartu. Sedangkan yang lainnya tercengang mendengar semua yang Amrita dan Fakri katakan. Terutama Pak Sofyan, Pak Sofyan tidak menyangkah jika putranya sering ikut tawuran namun bersembunyi dibalik dua sahabatnya. Dan Aziz, rasa khawatir menyelimutinya. Ia takut orang-orang yang pernah dipukuli oleh istrinya akan membalas dendam dan akan melukai istrinya.
"Amrita, ikut aku ke kamar" titah Aziz beranjak dari duduknya. Aziz menghentikan langkahnya saat ia masih mendengar istrinya tertawa bersama Fakri dan yang lainnya.
"Amrita... apa kamu ingin telingamu jadi satu?" tanya Aziz dengan geram.
"Sepertinya harimau sudah bangun di malam hari. Aku ke kamar dulu ya" kata Amrita pada ibu dan ayah mertua serta kedua adik iparnya.
"Hahahahaha. Coba kamu lihat wajahnya, dia seperti kurang vitamin" ledek Tante Eka sembari melirik putranya.
"Ibu dan menantu sama saja!!" ketus Aziz lalu masuk ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, Aziz menggeram kuat. Sedangkan di lantai satu, mereka sedang tertawa terbahak-bahak.
Cek--lek... Amrita membuka pintu kamar. Berhubung lampu kamar sudah mati maka Amrita berjalan mengendap endap agar tidak ketahuan kalau dia baru masuk ke dalam kamar.
"Nyalakan lampunya" tiba-tiba terdengar suara dari arah sofa. Di sofa, Aziz sedang melipat kedua tangannya di dada. Ia menggeleng kepala saat melihat istrinya mengendap endap.
"Astagfirullah... Om mengagetkan aku saja. Syukur aku tidak jantungan. Bagaimana jika aku jantungan?" ujar Amrita sembari mengelus dadanya.
"Allah tahu kamu wanita yang seperti apa. Nyalakan lampunya dan mari duduk disampingku" balas Aziz.
Amrita menekan saklar lampu. Kamar yang tadinya gelap kembali terang. Sesuai perintah suaminya, Amrita duduk disamping suaminya. "Semoga Om Aziz tidak menghukumku" batin Amrita.
"Amrita, apa kamu tidak menyayangiku?" Entah setan apa yang merasuki Aziz sehingga kalimat itu berhasil lolos dari mulutnya.
"Bagaimana mungkin aku tidak menyayanginya sedangkan aku sendiri sudah jatuh cinta padanya" batin Amrita.
"Kenapa Om bertanya seperti itu?" Amrita balik bertanya.
"Ditanya malah balik tanya!" ketus Aziz. Aziz beranjak dari sofa menuju tempat tidur. Merebahkan tubuhnya di sana.
"Ingat Amrita, ingat janjimu. Layani aku setelah masa menstruasimu selesai. Jika kamu tidak melayaniku maka dengan terpaksa aku akan melakukannya dengan istri baruku nanti" ujar Aziz.
__ADS_1
"Istri baru..." gumam Amrita membulatkan mata tak percaya.
"Jangan coba-coba Om menikah lagi. Berani Om menikah maka dengan terpaksa aku akan mengusir kalian berdua dari rumah ini" Amrita kembali mengancam suaminya.
Aziz tersenyum mendengarnya. "Jika tidak mau suami selingkuh maka lakukan kewajibanmu. Aku rasa kamu sudah lupa amanah almarhum ibu mertuaku. Semoga ibu hadir dalam mimpimu agar kamu bisa bertaubat" ujar Aziz.
Amrita terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan suaminya. "Om, ayo baikan" kata Amrita, ia beranjak dari sofa berjalan menuju tempat tidur. Amrita merebahkan tubuhnya disamping Aziz.
"Kamu tidak bersungguh-sungguh mengatakannya. Aku tidak percaya padamu. Kamu suka mengingkari janji" balas Aziz memiringkan tubuhnya menghadap istrinya.
"Kali ini aku serius, aku tidak sedang bercanda ataupun mengerjai Om. Ayo kita baikan" kata Amrita lagi.
"Katakan sekali lagi" titah Aziz.
"Suamiku yang baik hati dan yang sangat tampan sejagat rumah. Yuk kita baikan" kata Amrita tersenyum manis. Namun hatinya meronta-ronta ingin mencabik-cabik suaminya.
"Mulut dan hatimu bertolak belakang" balas Aziz masih menatap istrinya.
"Hahahahaha. Om, geli tahu. Om geli..." tawa Amrita saat tangan nakal suaminya bermain-main di gunung kembarnya.
"Ayo kita baikan" kata Aziz menghentikan kegiatannya. Ia memeluk istrinya dari belakang.
Amrit tersenyum. "Om tidak sungguh-sungguh mengatakannya" balas Amrita. Ia ingin membalas kekesalannya yang tadi.
"Amrita istriku yang nakal tapi baik, ayo kita baikan" kata Aziz mengulang perkataannya.
...---...
Pagi hari
"Akhhhh...!!" teriak Tante Eka. Entah apa yang terjadi sehingga Tante Eka berteriak sekuat tenaga.
__ADS_1
Aziz dan Amrita yang masih tertidur pulas kembali mengerjap saat mendengar suara nyaring dari lantai satu. Aziz mencari celananya yang semalam ia buang sembarangan. Sedangkan Amrita, ia menggeser selimut yang menutupi tubuhnya.
"Akkkhhhhh...!!" teriak Amrita saat ia menyadari kondisinya yang hanya memakai ****** *****.
Tante Eka yang tadinya berteriak kembali lari menuju kamar putra sulungnya. Bahkan Pa Sofyan pun berlari ke luar menuju kamar Putranya. "Amrita... apa yang terjadi padamu, Nak...!!" teriak Tenta Eka sembari menggedor pintu kamar putranya.
"Ibu, cepat cari kunci cadangan. Sepertinya Aziz sedang melakukan KDRT pada istrinya" kata Pa Sofyan dengan panik.
Cek-lek... Aziz membuka pintu kamar. Ia menatap bingung Ibu dan Papanya yang terlihat panik di depan pintu. "Kalian sedang apa di depan pintu kamarku?" tanya Aziz menautkan keningnya.
"Hehehehe, tidak. Tadi Ibu dan Papa sedang olahraga dan karena lelah jadi Ibu dan Papa berhenti di depan kamarmu" kata Tante Eka tersenyum canggung.
Aziz menatap Papanya dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Pa, baru kali ini aku lihat orang lari pagi pakai sarung dan baju dalam" kata Aziz.
"Hahahahahaha. Bu, Aziz sudah lama ya tidak tinggal bersama kita jadi dia tidak tahu kebiasaan Papa yang baru" tawa Pa Sofyan mencoba mengelabui putranya.
"Hahahaha iya Pa. Aziz tidak tahu kebiasaan Papa" timpal Tante Eka tertawa canggung.
"Pa, ko Amrita dari tadi tidak ke luar. Apa Aziz menyembunyikan Amrita di kamar mandi?" bisik Tante Eka.
"Iya, Papa rasa juga begitu. Bu, cari ide dong, kita harus menyelamatkan menantu kita" balas Pa Sofyan tak kalah pelan.
Aziz kembali bingung, ia berjalan melewati Papa dan ibunya. Berjalan menuju lantai satu untuk mengambil air dingin di kulkas. Saat Aziz sudah di lantai satu, Tante Eka menyelinap masuk ke dalam kamar putranya sedangkan Pa sofyan berjaga-jaga di depan pintu.
"Adu... kenapa Ibu lama sekali sih...!!" ketus Pak Sofyan saat istrinya tak kunjung ke luar sedangkan Aziz sudah berjalan menuju lantai dua. Pa Sofyan berlari masuk ke dalam kamar putranya untuk menyelamatkan istri dan menantunya.
"Amrita, di mana yang luka, Nak?" tanya Pak Sofyan memutar tubuh menantunya. Belum sempat Amrita menjawab, Aziz sudah masuk ke dalam kamar. Aziz berjalan menghampiri istrinya yang tengah gugup di samping tempat tidur.
"Ayo kita mandi" ajak Aziz.
Cek--lek... Pak Sofyan dan Tante Eka membuka pintu kamar mandi. Keduanya terlihat basa kuyup. "Hehehehe, air di kamar mandi kami tidak mengalir" kata Tante Eka lalu lari ke luar dari kamar putranya.
__ADS_1
"Ibu... Papa ketinggalan ni...!!" teriak Aziz saat melihat Papanya masih berdiri di dalam kamar mandi.