
Happy reading ❤
Amrita menghapus air matanya, menatap itens Dokter Aziz yang kini berbaring di hospital bed. Amrita turun mengambil tasnya, mengeluarkan uang yang diberikan Tante Eka padanya kemudian meletakannya di sofa.
"Tante, aku pamit pulang ya" kata Amrita, ia berusaha untuk tersenyum.
"Terimakasih Amrita. Hati-hati di jalan, Nak" kata Tante Eka.
"Baik Tante" balas Amrita. Sebelum ke luar, Amrita melirik Dokter Aziz yang tengah asik memainkan ponselnya.
"Suatu hari nanti, aku akan membalas luka pagi ini" batin Amrita. Ia keluar dari ruang rawat menelusuri lorong rumah sakit. Amrita memasuki lift, ia menekan angka satu, Lift terbuka, ia pun ke luar.
"Hari ini hari kelulusan, dan aku.. aku harus bekerja. Jika tidak, nanti malam aku mau makan apa " gumam Amrita. Ia duduk di depan rumah sakit, menatap mobil yang berlalu lalang.
Drrtttt... drrrtttt... drrttt... ponsel Amrita bergetar. "Nomor siapa lag ini!" gerutu Amrita saat melihat nomor baru. Amrita menekan tanda merah yang menandakan panggilan ditolak.
Drrtttt... drrrtttt... drrttt... ponsel Amrita kembali bergetar. Dengan rasa kesal, Amrita menjawab panggilan. Belum sempat ia memarahi orang yang menghubunginya. Terdengar suara seseorang dari seberang telepon yang berbicara lebih dulu.
"Segera ke ruang rawat" titah pria tersebut, yang tak lain adalah Dokter Aziz.
"Aku tidak mau..!" seru Amrita dengan kasar.
"Jika kamu tidak datang, maka aku tidak akan menikahimu" ancam Dokter Aziz.
"Menikah? Apa itu tandanya dia akan menikahiku" batin Amrita.
"Aku akan segera kesitu" kata Amrita. Ia beranjak dari duduknya, berlari masuk ke dalam ruang rawat VVIP.
VVIP
Hah... hah... hah... Amrita bernapas terengah engah. Ia duduk di sofa, mengatur napasnya dengan pelan.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Tante Eka yang baru saja masuk ke dalam.
Hah... hah... "Aku lelah berlari di tangga" balas Amrita dengan napas tak teratur.
"Ya ampun sayang, kenapa bisa begitu" ujar Tante Eka sembari mengelus kepala Amrita.
__ADS_1
"Anak Tante mengancamku" balas Amrita dengan jujur.
Aziz membulatkan matanya. Menatap tajam Amrita. Sedangkan Tante Eka, ia tersenyum mendengar dan melihat ekspresi wajah anaknya.
"Amrita sini" panggil Dokter Aziz. Amrita beranjak menghampiri Dokter Aziz.
"Bagaimana? Kapan kita akan menikah?" tanya Amrita dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Tante Eka.
"Apa! Menikah? Jangan bilang semalam kalian berdua---" Tante Eka tak melanjutkan kalimatnya.
"Ibu, ini tidak seperti yang ibu pikirkan. Tidak terjadi apa-apa antara aku dan gadis ini" ujar Aziz.
"Apa Om bilang! Tidak terjadi apa-apa! Lalu siapa yang menciumku semalam dan siapa yang mengangkatku ke tempat tidur" seru Amrita. Ia mengepal tangannya.
"Ya Allah. Kenapa dia berbicara seperti itu di depan ibu" batin Aziz.
"Om, jadi bagaimana?" tanya Amrita, ia menurunkan nada suaranya menatap manik mata Dokter Aziz yang tengah menatapnya.
"Aku akan menikahimu. Di mana keluargamu?" tanya Dokter Aziz.
"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, ibuku meninggal sejak aku berumur dua tahun. Papaku meninggal saat aku masih berumur satu tahun. Dan selama ini, tidak ada keluarga dari Papa maupun ibu yang mencariku" jelas Amrita.
"Aku tidak ke sekolah. Aku sudah memberitahu temanku untuk memberiku informasi" balas Amrita.
"Kenapa? Bukankah hari ini adalah hari kelulusan?" tanya Tante Eka. Baru kali ini ia melihat seorang siswi tidak mau merayakan hari kelulusan bersama teman-temannya.
"Hari ini aku gajian, jika aku tidak masuk kerja maka gajiku akan dipotong. Dan jika aku tidak bekerja, maka di malam hari nanti aku akan tidur dengan perut kosong" balas Amrita.
Aziz kembali terdiam. "Bukankah ibuku sudah memberimu uang" ujar Aziz.
"Sudah aku jelaskan semalam pada Om!" balas Amrita dengan kesal.
"Om, jadi Amrita memanggil Aziz Om" batin Tante Eka menahan tawa. Awalnya ia sedih saat mendengar kisah pilu Amrita. Namun, saat ia mendengar panggilan Amrita pada Aziz, membuatnya menahan tawa.
"Ibu kenapa senyam senyum" tanya Aziz menautkan kedua keningnya.
"Tidak Om. Hahahahahaha" balas Tante Eka disertai tawa. Aziz hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
---------------
Amrita sedang duduk di depan pintu kamarnya, ia menatap uang yang tadinya ia sudah kembalikan namun kini kembali ke tangannya lagi. "Aku simpan saja uang ini" gumam Amrita. Ia pun bersiap-siap untuk pergi kerja di rumah makan Lasehan Damai dan di Upnormal Coffee Roasters Perintis Makassar.
Hampir dua puluh menit bersiap-siap, Amrita pun selesai. Amrita mengenakan baju kous omblong lengan panjang warna merah dan celana jins warna hitam serta sepatu kets warna hitam. "Semangat Amrita. Jika ingin hidup maka jangan patah semangat" gumamnya.
Amrita berjalan keluar dari kos. Berhubung tempat kerjanya tak jauh dari tempat tinggalnya maka Amrita lebih memilih jalan kaki dibandingkan pesan Grab. Sesampainya di jalan raya, Amrita menyebrang jalan lalu berjalan ke Lasehan Damai.
RM. Lasehan Damai
"Assalamualaikum kakak" Amrita mengucap salam pada rekan kerjanya.
"Waalaikumsalam. Cepat pakai baju kerjamu dan antar makanan ini di meja 04" kata Kak Fitri.
"Baik kakak" balas Amrita. Amrita mulai melakukan pekerjaannya. Ia mengelap meja lalu merapikannya. Jika ada yang datang memesan makanan, maka ia akan menyiapkan manu yang dipesan.
Tak terasa, waktu sudah menunjukan pukul 12:00. Sudah waktunya Amrita ke tempat kerjanya yang lain. Amrita mengganti pakaian kerjanya lalu menghadap Bos untuk mengambil gajinya.
"Amrita, ini gajimu bulan ini. Semoga uang ini cukup untuk kebutuhan hari-harimu" ujar Bos RM. Lasehan Damai sembari menyerahkan amplop yang berisi uang.
"Terimakasih Bos, aku pamit dulu" pamit Amrita dengan senyum ramah. Ia pun ke luar dari ruangan bosnya.
"Cie... yang gajian hari ini" ejek Kak Fitri dengan senyum ramah.
"Iya dong, Amrita mau dilawan" balas Amrita membanggakan dirinya.
"Hahahahahaha" tawa Amrita dan Kak Fitri bersamaan.
"Kakak, aku ke Apnormal dulu" pamit Amrita. Ia berlari ke luar menuju tempat kerjanya yang ke dua. Jaraknya sekitar 500 meter dari RM. Lasehan Damai.
Upnormal Coffee Roasters Perintis Makassar
"Amrita, cepat ganti pakaianmu dan antar Cofee ini di meja 11" ujar Kak Ferdi.
"Baik kakak" balas Amrita. Ia berlari masuk ke dalam ruang ganti. Setelah selesai mengganti pakaiannya. Amrita ke luar lalu membuatkan Cofee untuk meja 11. Setelah selesai membuat dan mengantar Cofee, Amrita kembali bergabung dengan rekan kerjanya yang lain.
"Amrita..." teriak Hanin saat membuka pintu. Hanin berlari menghampiri Amrita.
__ADS_1
"Amrita, ada kabar baik untuk mu. Kamu lulus dan dapat juara satu umum. Selain itu, kamu juga dapat beasiswa untuk kuliah di Unhas" ujar Hanin dengan girang. Ia memeluk erat Amrita.
"Ibu, ayah, aku berhasil meraih beasiswa itu. Semoga kalian bahagia di surga" batin Amrita, tanpa sadar, air matanya menetes membasahi pipinya.