Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 8


__ADS_3

Siang telah berlalu dan malam telah menyapa. Fattan dan Sakia baru saja memasuki gerbang Perumahan Citraland. Sakia memarkirkan motornya di depan blok A19. Wanita itu turun dari motor begitu juga dengan Fattan. Ekspresi Fattan masih seperti sore tadi, saat pria itu melihat Sakia tertawa bersama Alif, Nada dan Nurin.


"Kakak kenapa?" tanya Sakia mempercepat langkah kakinya. Mengejar suaminya yang langsung masuk ke dalam rumah dengan ekspresi tak biasanya.


"Nggak tahu!" cetus Fattan sambil menapakkan kaki di tangga dan langsung naik ke lantai dua. Meninggalkan istrinya di bawah tangga.


Sakia mengerutkan kening menatap punggung suaminya hingga menghilang dari pandangannya.


"Apa aku membuat kesalahan" gumam Sakia.


Sakia ke dapur mengambil air es di dalam kulkas. Setelah minum, dia naik ke lantai dua menghampiri suaminya di kamar. "Di mana Kak Fattan" gumam Sakia saat tak mendapati suaminya di kamar.


Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)


Fattan ke luar dari kamar mandi tanpa mengenakan baju dan hanya mengenakan celana boxer. Rambutnya basa dan acak-acakan. "Tolong keringkan rambutku" pinta Fattan mengambil tempat di kursi depan meja rias.


Sakia yang tadinya memalingkan wajah, wanita itu berbalik menghampiri suaminya di meja rias. Sakia mengambil hair dryer lalu mengeringkan rambut suaminya tanpa menatap cermin. Sementara Fattan, pria itu memperhatikan istrinya lewat cermin.


Setelah selesai mengeringkan rambut suaminya, Sakia meletakkan hair dryer di tempatnya tanpa berkata sudah pada suaminya. Fattan yang merasa diabaikan, pria itu mendengus kesal lalu beranjak dari kursi.


"Dasar wanita keras kepala!" sindir Fattan.


Sakia membiarkan Fattan menyebutnya wanita keras kepala. Wanita itu tidak mau mencari masalah dengan suaminya. Biarlah suaminya menggeram, ataupun mengatainya sesuka hati. Untuk menghindari tatapan kesal suaminya, Sakia memilih membuka lemari dan mengambil baju gamis, buste hounder, ****** ***** serta jilbab bergo langsung. Kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Dari pagi hingga pukul tujuh malam lewat lima belas menit, dia dan pegawainya berada di butik karena banyak barang yang mau di packing dan di kirim ke costumer.


"Suka sekali dia mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi. Atau dia masih mencintai Alif hingga dia nggak mau aku melihat rambut dan tubuhnya!!" umpat Fattan mendengus kesal.

__ADS_1


"Aku dengar!!" teriak Sakia dari dalam kamar mandi. Bisa-bisanya Fattan mengungkit Alif dalam rumah tangga mereka. Dan berkata seenak jidatnya tentang mengganti pakaian di dalam kamar mandi. Bukankah hal itu bisa saja dan tidak perlu dipermasalahkan. Apakah orang yang sudah menikah wajib mengenakan pakaian di depan suaminya? Entahlah.


"Bagus kalau dengar!" seruh Fattan.


Di dalam kamar mandi, Sakia berdiri di bawah pancuran sower. Tak lupa menyalakan keran air dan membiarkan air mengguyur seluruh tubuhnya. Sakia menangis di bawah pancuran sower, membiarkan air matanya mengalir bersamaan dengan derasnya air yang mengalir. Sehari bersama Fattan di butik, wanita itu menyadari satu hal, yaitu rasa tak suka Fattan pada Alif. Lalu dia harus bagaimana? Haruskah dia memecat Alit dan memintanya jangan datang lagi? Bagaimana mungkin Sakia melakukan itu sedangkan butik itu mereka kelola bersama. Dia, Alif, Nurin dan Nada. Dan tak ada alasan Sakia memecat Alif.


"Kenapa mereka selalu menjauhkan aku dari orang-orang yang dekat denganku. Bahkan dia yang pernah dekat denganku memintaku menjauh. Apa aku nggak berhak bahagia hingga mereka berbuat sesuka hati" batin Sakia memukul dadanya yang tidak sakit namun terasa sesak di dada.


"Sakia, kamu kenapa, Dek?" Fattan menggedor pintu kamar mandi. Tanpa Sakia sadari, sudah hampir satu jam dia berada di dalam kamar mandi.


Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)


Sakia ke luar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap. Andai Fattan tidak menggedor pintu maka sudah pasti Sakia tidur di kamar mandi. Wanita itu sejak tadi selesai mandi dan memakai baju namun ia masih menangis di dalam.


"Kau menangis? Maafkan Kakak. Kak Fattan nggak bermaksud membuat Kia sedih" jelas Fattan dengan cemas.


"Apa sikapku membuatnya terluka lagi?" batin Fattan. Fattan menghampiri istrinya. Merebahkan tubuhnya di samping sang istri. Menatap nanar wajah istrinya yang tidur miring menghadapnya. Mata sembab istrinya begitu jelas terlihat.


"Maafkan Kakak. Kakak bingung dan nggak tahu cara mengatasi rasa cemburu ini" batin Fattan.


"Yang dulu katakan Fadila telah terbukti. Kebodohanku akan melukai hati Sakia" ujar Fattan dalam benaknya.


...----...


Tarhim subuh terdengar merdu. Membangunkan Sakia dari tidurnya yang nyenyak. Sakia mengerutkan kening merasa ada yang melingkar di pinggangnya. Dilihatnya tangan Fattan melingkar erat di sana. Tak ada senyum, hanya ekspresi biasa saja. Seakan-akan wanita itu berhati batu, tak tergerak saat tangan itu memeluknya dari belakang. Tak ada perasaan senang maupun tak suka.

__ADS_1


"Andai---" Sakia berhenti. "Nggak ada kata andai lagi sekarang. Sekarang ya sekarang. Aku nggak boleh mengingat masa lalu lagi" batin Sakia.


Dengan pelan dan sangat berhati-hati, Sakia memindahkan tangan suaminya. Kemudian bangun dan duduk di atas tempat tidur. Melirik wajah suaminya sejenak lalu menggeser selimut. Ia turun dari tempat tidur dan berdiri di sisi tempat tidur Fattan. Menarik baju tidur yang pria itu kenakan.


"Kakak, bangun. Kak Fattan, ayo bangun" Sakia membangunkan Fattan agar pria itu bisa pergi shalat di masjid.


"Sudah subuh?" tanya Fattan mengerjab.


"Iya" balas Sakia.


Fattan bangun dan duduk di atas tempat tidur lalu menggeser selimut kemudian turun dan masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama, pria itu ke luar dengan wajah segar.


"Baju koko nya ada di atas tempat tidur" kata Sakia sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu menyiapkan baju koko, sarung, peci dan sajadah untuk suaminya.


"Terima kasih" ucap Fattan.


Setelah mengambil wudhu, Sakia ke luar dari kamar mandi mengambil mukena pemberian Fattan yang ia gantung di dalam lemari. Mukena dengan warna kesukaannya, yaitu putih polos.


"Aku ke masjid dulu" pamit Fattan lalu ke luar dari kamar.


Setelah Fattan pergi, Sakia mengambil Al-qur'an lalu mengaji sebentar sambil menunggu adzan subuh. Beberapa menit kemudian, adzan subuh terdengar di masjid. Sakia mengakhiri bacaannya dan mulai bersiap-siap untuk shalat subuh.


...---...


Fattan memperhatikan semua gerak gerik istrinya. Mulai dari menyiapkan baju kerja untuknya, hingga menyiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua.

__ADS_1


"Kakak janji Sakia, Kakak akan membahagiakanmu sekalipun tak ada cinta lagi untuk Kakak" batin Fattan.


__ADS_2