
Di dalam kamar, Aziz sedang bersiap siap untuk berangkat kerja. Sebelum ia ke luar dari rumah, ia menyempatkan waktu untuk menghampiri istrinya yang tengah sibuk mengemas pakaian ganti untuk ia bawa pergi saat mendaki nanti.
"Amrita" panggil Aziz sembari berjalan menghampiri istrinya. Ia berhenti tepat dibelakang sang istri.
Amrita menoleh menatap suaminya. "Ada apa Om?" tanyanya mengerutkan dahi.
"Jam berapa kalian berangkat?" tanya Aziz.
"Sekitar jam 10. Memangnya ada apa Om?" tanya Amrita lagi. Tidak biasanya Aziz bersikap seperti pagi ini.
"Hanya mau bilang hati-hati. Ingat! Bawa pulang apa yang kamu bawa pergi dan jangan bawa pulang apa yang tidak kamu bawa pergi. Dan satu lagi, jangan tinggalkan sesuatu selain jejak kaki. Yang namanya gunung, pasti ada penunggunya. Jadi aku harap kamu bisa menjaga pesanku tadi" kata Aziz memperingati istrinya.
"Om, aku tidak mengerti" balas Amrita cemberut. Ia tahu makna dari pesan suaminya hanya saja ia ingin mendengar nasehat dari suaminya secara detail.
"Jika kamu melihat sesuatu di gunung, apapun itu, jangan kamu ambil, biarkan saja begitu. Dan jangan tinggalkan sampah di gunung. Cukup jejak kaki yang kamu tinggalkan disana. Jika bisa, kamu siapkan satu tempat khusus untuk sampah kering agar sampah itu kamu bawa pulang" jelas Aziz.
"Amrita, setan itu ada di mana-mana. Terlebih lagi di gunung. Maka dari itu, aku minta sama kamu untuk tidak membuang sampah sembarangan. Aku tidak mau kamu sakit saat pulang nanti" kata Aziz lagi.
Amrita tersenyum. "Apa Om mencemaskan aku?" tanya Amrita menggoda.
"Tidak, aku tidak mengkhawatirkan kamu. Aku hanya tidak mau menduda di usiaku yang baru 27 tahun" balas Aziz.
"Kamu istriku, sudah jelas aku mengkhawatirkanmu" batin Aziz.
Amrita mengerucutkan bibir saat mendengar balasan suaminya. Bukan jawaban itu yang ia ingin dengar. "Tidak masalah jika aku tidak ada. Toh ada Kak Anaya" balas Amrita berlalu pergi memasuki kamar mandi.
Aziz menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. "Anaya terus yang dia bahas. Apa dia mengira bahwa aku masih menjalin kasih dengan Anaya?" gumam Aziz.
20 menit kemudian. Amrita ke luar dari kamar mandi sembari menyanyikan lagu yang berjudul "Andai dia tahu". Ia tiak tahu jika suaminya masih berada di dalam kamar. Memperhatikannya sejak ia ke luar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Tunggu...!!" teriak Aziz saat melihat Amrita hendak melepas handuk yang ia pakai.
Mata Amrita terbelalak saat melihat suaminya berdiri di hadapannya. Keterkejutan membuatnya panik hingga handuk yang ia kenakan jatuh di lantai. "Apa yang Om lakukan di situ..." teriak Amrita. Ia mengambil handuknya yang jatuh lalu menutup tubuhnya.
Aziz menelan salivanya dengan susah payah saat melihat tubuh mulus istrinya. "Amrita, kamu membuat jiwa laki-laki ku memberontak" kata Aziz dengan jujur. Ia memasang wajah sedih. "Aku sudah menikah tapi seperti masih jomblo" ujarnya.
"Benar apa yang dikatakan Om Aziz. Dia sudah menikah tapi dia seperti orang yang belum menikah. Ya Allah, ampuni dosa dosaku Ya Allah" batin Amrita.
"Om, aku ingin mengenakan baju. Apa Om akan tetap di situ?" tanya Amrita dengan kekehan kecil.
"Aku akan ke luar. Cepat pakai pakaian mu setelah itu temui aku di bawah" kata Aziz berlalu pergi.
Saat suaminya sudah ke luar dari kamar, Amrita mulai mengenakan pakaiannya. Tak membutuhkan waktu lama, ia ke luar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Ibu, maafkan aku yang melupakan pesanmu" batin Amrita saat melihat suaminya tengah duduk di sofa. Terlihat jelas ia sedang menyandarkan kepalanya di sofa dengan kedua mata yang terpejam.
"Om, kenapa Om belum pergi kerja?" tanya Amrita.
Amrita kembali dibuat heran. "Kami berkumpul di depan Kampus UMI" balasnya.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke sana" kata Aziz beranjak dari sofa.
Amrita mengikuti langkah kaki suaminya. Banyak pertanyaan yang hadir dalam benaknya namun ia sendiri tidak tahu jawaban dari pertanyaannya itu. Hanya Aziz yang dapat menjawabnya. Keduanya masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan bergerak meninggalkan area perumahan menuju jalan raya.
"Om, Om sehat kan? Aku rasa ada sesuatu yang terjadi pada Om" tanya Amrita.
Aziz terkekeh mendengarnya. "Alhamdulilah, aku sehat walafiat. Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Aziz.
"Aku merasa sikap Om terlihat berbeda hari ini. Apa ada sesuatu yang terjadi? Apa tadi Om jatuh lalu hilang ingatan hingga sikap Om berubah?" tanya Amrita dengan jujur tanpa rasa takut.
__ADS_1
"Hahahaha. Aku masih waras Amrita. Jika kamu tidak suka dengan perubahanku maka aku akan kembali ke sifatku yang kamu kenal selama ini" balas Aziz.
Dengan gemesnya, Amrita mencubit pipi suaminya. "Om, aku suka sifat Om yang hari ini" ujarnya.
Aziz kembali terkekeh mendengarnya. Ia senang melihat istrinya bahagia. Sejak istrinya jatuh sakit, Aziz sudah berjanji untuk melindungi dan membahagikan istrinya. Itulah sebabnya, sekali pun Amrita membuatnya kesal, Aziz tetap memaafkan Amrita.
Kampus UMI
Aziz menepikan mobilnya di depan pintu masuk kampus UMI. Di depan kampus, banyak anak Mapala yang tengah berkumpul untuk pergi mendaki. Bahkan, Hanin dan Fakri pun sudah ada di antara orang-orang.
Amrita menatap suaminya. "Om, apa Om ridho?" tanyanya serius.
Aziz tersenyum. "Aku ridho. Sekarang kamu turun dan temui teman-teman mu" balasnya.
Dari kejauhan, Fakri melihat kakaknya yang tengah berbincang dengan Amrita. Ia pun berjalan menghampiri kakaknya di mobil. Fakri berdiri di depan pintu mobil bagian kiri.
"Dek, kakak titip istri kakak pada kamu dan Hanin. Jaga dia untuk kakak" kata Aziz pada Fakri.
Fakri tersenyum. "Kakak jangan takut, aku akan menjaga Amrita. Dia bukan wanita lemah yang mudah sakit. Amrita sangat kuat seperti badak" ujar Fakri yang disambut tawa oleh Aziz. Sedangkan Amrita, ia cemberut saat Fakri mengatainya "Kuat seperti badak".
"Oh ya Amrita, tasmu ada pada Hanin. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kamu cukup menyiapkan tenaga untuk menaiki gunung Bulusaraung nanti" ujar Fakri.
Amrita mengangguk. "Terimakasih sahabat tersayangku" ucapnya tersenyum.
Amrita menyalami suaminya lalu turun dari mobil. Ia dan Fakri berjalan menghampiri teman-teman mereka. Entah apa yang Amrita pikirkan, tiba-tiba ia berbalik menghampiri suaminya. Amrita mengetuk kaca mobil. Di dalam mobil, Aziz sedang memainkan ponselnya. Aziz menurunkan kaca mobil saat melihat istrinya.
"Ada apa Amrita? Apa ada yang kamu lupa?" tanya Aziz.
Amrita mendekatkan wajahnya. "Om, aku ingin membisikan sesuatu" ujarnya.
__ADS_1
Aziz mendekat. Membiarkan istrinya berbisik di telinganya. Senyum terukir diwajahnya saat ia mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya.