Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 104


__ADS_3

Sesuai permintaan Fattan, yaitu mengajarinya berenang. Kini keduanya berjalan menuju air laut yang teduh. Langkah keduanya terhenti saat Fadila memanggil mereka.


"Papa... aku juga mau..." teriak Fadila berlari kecil mengejar Papa dan kakaknya, yang jaraknya sudah lumayan jauh.


"Ayo cepat, Nak. Nanti Papa ajari kalian berenang" kata Aziz tersenyum menunggu putrinya.


"Papa, minta Mama ajari adikku. Papa ajari aku saja" protes Fattan mendengus kesal.


"Nggak boleh gitu. Fattan Sayang Fadila nggak?" tanya Aziz berjongkok.


"Sayang" balas Fattan.


"Kalau Sayang, nggak boleh bicara kayak tadi. Kan Fattan lihat sendiri, tadi Mama mau ngajarin Fadila tapi Fadila-Nya nggak mau. Dan sekarang maunya sama Papa" jelas Aziz tersenyum.


"Ayo Kakak, Papa" ajak Fadila yang baru saja sampai.


"Ayo, Dek" balas Fattan lalu menggandeng tangan saudara kembarnya.


Di bibir pantai, Tante Eka dan suaminya sedang membuat istana menggunakan pasir basah. Sekali kali terdengar tawa dari mulut keduanya. Layaknya pasangan yang masih muda. Aziz yang tanpa sengaja menyaksikan itu, ada rasa tak terima melihat Ibu dan Papanya bermesra- mesraan.


"Mas... tunggu aku..." teriak Amrita sambil berlari menghampiri keluarga kecilnya.


Aziz menyunggingkan senyum. Pria itu merasa senang karena istrinya mau ikut serta dalam mengajari anaknya berenang. "Iya, Sayang" balas Aziz.


Fattan dan Fadila berdiri di bibir pantai bersama Papa mereka. Mereka bertiga menunggu wanita terhebat, yaitu Amrita. Fattan menatap ke samping. Dilihatnya sang Kakek dan Nenek sedang membuat istana yang menurut Fattan itu unik.


"........." bisik Fattan ditelinga adiknya.


Fadila menoleh ke arah dimana Kakek dan Neneknya sedang bermesraan. "Ayo" balas Fadila bersorak girang. Lalu pergi begitu saja tanpa pamit pada Papa mereka.


"Kalian mau ke mana?" tanya Aziz dengan bingung.


"Papa sama Mama aja. Aku dan Ade mau gabung sama Nenek. Nanti di rumah baru Papa dan Mama ajari kami berenang" jawab Fattan menjelaskan.

__ADS_1


"Alhamdulilah. Kalian anak yang paling pengertian Sayang. Papa tambah Sayang deh" ucap Aziz tersenyum lebar.


Fattan dan Fadila tersenyum lalu menghampiri Kakek dan Nenek mereka. Dari kejauhan, Tante Eka cemberut menatap tajam Aziz yang sedang melambaikan tangan pada Ibunya.


"Pasti dia yang meminta cucuku ke sini. Tapi nggak Papa, aku Sayang cucuku. Lihat saja nanti, aku akan membawa cucuku tinggal beberapa minggu dirumahku. Aku ingin lihat, seberapa besar rindunya saat terpisah dengan kedua anaknya" batin Tante Eka tersenyum simpul.


"Kakek, Nenek. Boleh kami gabung?" tanya Fattan.


"Tentu saja boleh. Fattan dan Fadila nggak boleh ke air laut. Takutnya Fadila dan Fattan tenggelam. Sekarang Fadila dan Fattan duduk manis sambil lihat istana yang Kakek dan Nenek bangun" balas Tante Eka.


Fattan dan Fadila nurut. Keduanya duduk sekitar satu meter dari bibir pantai. Sekali kali mengangguk melihat Kakek dan Neneknya membangun istana.


"Bagus sekali" gumam Fadila.


"Iya. Kakak suka istananya" gumam Fattan dengan takjub.


Beberapa puluh meter dari tempat mereka duduk membangun istana. Terlihat Amrita dan Aziz sedang menelusuri pantai. Keduanya jalan sambil bergandengan tangan layaknya pengantin baru. Saling melempar senyum satu sama lain. Bahkan keduanya seperti pasangan di film bollywood.


"Bu, tolong fokus bangun istananya. Bikin tangga kok kayak tumpukan tanah" tegur Pa Sofyan. Pria paruh baya itu tahu kalau istrinya sedang melirik anak dan menantunya.


Sementara di bale-bale, Mbak Ima sedang tidur. Wanita tua itu merasa bosan karena nggak punya pasangan hingga memilih tidur. Fakri dan Hanin sempat mengajaknya pergi foto bersama tapi alasan yang diberikan Mbak Ima membuat Fakri dan Hanin terkekeh.


"Nanti juga Mbak Ima akan ditinggal" itulah balasan Mbak Ima saat diajak oleh Fakri dan Hanin.


-


Pukul 11:43 AM


Tante Eka, Pak Sofyan dan Mbak Ima duduk di bale-bale. Begitupun dengan Fattan dan Fadila. Mereka semua menunggu pasangan halal dan pasangan yang masih tahap rencana. Keempatnya belum juga kembali ke bale-bale.


"Kami datang..." ujar Aziz tersenyum.


"Makanya! Kalau jadi suami jangan hanya ingat kerja. Pas ngerasain kejar-kejaran di Pantai langsung lupa anak" ujar Tante Eka menyindir Aziz yang baru saja mendudukkan bokongnya di bale-bale.

__ADS_1


"Hahahahaha" Aziz tertawa "Ternyata asik ya, Bu" sambungnya.


"Maafkan kami. Tadi itu kami sudah mau kembali tapi tiba-tiba ada ikan ditepi pantai. Ya sudah, aku dan Mas Aziz berusaha menangkapnya. Lumayan, untuk makan siang" jelas Amrita yang baru saja masuk ke dalam bale-bale.


"Ikan? Mana ikannya, Ma?" tanya Fattan dengan antusias. Sebenarnya, pagi tadi saat mereka makan ikan bakar, Fattan masih ingin makan tapi karena ikan bakarnya sudah habis jadi dia diam.


"Ada di baskom. Sekarang kamu ajak adikmu ke tenda. Mama perhatikan mata adikmu mulai kecil, sepertinya dia mau tidur" titah Amrita yang dibalas anggukan oleh Fattan.


"Papa tolong gendong aku dan bawa aku ke tenda. Kak Fattan sama kecil denganku, nggak mungkin aku minta tolong padanya. Kakek dan Nenek juga sudah tua. Tulang mereka mulai rawan retak. Dan Mbak Ima nggak punya tenaga karena masih mau tidur. Jadi tolong gendong aku" pinta Fadila menjelaskan, dengan kedua tangannya yang mulai terulur ke depan.


Aziz dan Amrita terkekeh, sementara Tante Eka dan Pa Sofyan membulatkan mata. Kedua pasangan tua itu tidak menyangka. Cucunya akan menyebut tulang mereka sudah rawan retak.


"Cucu kalian pintar ya. Gemes deh" kata Aziz memuji anaknya namun tersenyum penuh kemenangan. Entah kenapa, Aziz mulai suka bersaing dengan Ibu dan Papanya. Ia ingin membuktikan pada kedua orang tuanya, bahwa dia juga bisa seromantis Ibu dan Papanya.


"Ayo anak Papa yang pintar" kata Aziz sambil menggendong putrinya lalu membawanya ke dalam tenda.


Dari kejauhan, terlihat Hanin dan Fakri berjalan menuju bale-bale. Masing-masing dari mereka memegang tiga ekor ikan kembung. Ikan yang mereka tangkap di pinggir pantai. Demi ikan bakar, Fakri dan Hanin rela mandi air laut asalkan bisa menangkap ikan.


"Papa, ayo sini. Kita bakar-bakar ikan" panggil Fakri sambil memperlihatkan ikan tangkapan mereka.


Mbak Ima yang sejak tadi mengantuk, wanita itu membuka matanya lebar-lebar. Lalu turun dari bale-bale menghampiri Fakri dan Hanin.


"Ambil dimana ini?" tanya Mbak Ima.


"Iya, kalian ambil dari mana?" tanya Pa Sofyan menyelidik.


Fakri menghela napas kasar kemudian menghembuskannya perlahan. Lalu mulai menceritakan awal mula mereka mendapatkan ikan kembung.


"Bukan cerita bohongan kan?" tanya Tante Eka menyelidik. Berjalan mengelilingi Hanin dan Fakri.


"Mereka baru habis pacaran..." teriak seorang pria yang baru datang untuk berkemah di Pulau Lae-Lae.


"Mati aku!" batin Fakri.

__ADS_1


__ADS_2