Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 32


__ADS_3

Tante Eka menghentikan langkah kakinya, ia kembali berlari masuk ke dalam kamar lalu menarik tangan suaminya. "Ayo Pa, sepertinya air di kamar mandi kita sudah mengalir" ujar Tante Eka.


"Sepertinya begitu, Bu. Ayo kita kembali ke kamar" balas Pa Sofyan lalu ke luar dari kamar mandi putranya.


Aziz dan Amrita hanya bisa menggeleng kepala saat melihat Ibu dan Papanya salah tingkah. "Apa yang Ibu dan Papa lakukan di sini?" tanya Aziz pada istrinya.


"Numpang mandi, katanya air di kamar mereka tidak mengalir" balas Amrita. Ia terpaksa berbohong demi menyelamatkan harga diri Ibu dan Papa mertuanya.


"Ada-ada saja mereka" gumam Aziz. Aziz kembali melanjutkan niatnya.


Di tempat lain, tepatnya di kamar Tante Eka. Tante Eka dan Pa Sofyan sedang tertawa terbahak-bahak saat menyadari kegilaan mereka. Rasa sayang pada menantu membuat mereka salah tingkah di depan anak sendiri.


"Pa, cepat mandi dan bersiap-siap. Hari ini kita sekeluarga akan pergi ke Ramang-Ramang" Kata Tante Eka.


Pa Sofyan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. 15 menit kemudian Pa Sofyan ke luar. Pa Sofyan berjalan menghampiri istrinya yang sedang mencari pakaian yang cocok dipakai untuk pergi nanti.


"Bu, Papa pakai baju dan celana yang ini saja. Ini bagus kok" kata Pa Sofyan sembari mengambil baju kous hitam dan celana panjang warna cream.


"Coba Papa pakai" ujar Tante Eka. Pa Sofyan memakai baju dan celana yang ia suka. Dan benar saja, Pa Sofyan terlihat ganteng dan lebih terlihat muda saat mengenakan baju kous putih dan celana jins warna cream.


"Buset, ganteng amat suami Ibu" puji Tante Eka yang dibalas tawa oleh Pa Sofyan.


------------


Sesuai kesepakatan mereka yang kemarin maka hari ini mereka sekeluarga akan pergi ke Ramang-Ramang. Bahkan bukan hanya mereka sekeluarga saja tapi juga ada tambahan personil yaitu Hanin. Pa Sofyan meminta Fakri untuk mengajak Hanin, karena Hanin adalah sahabat Fakri dan Amrita. Jadi tidak ada salahnya jika Hanin diajak pergi.


Kini, Pa Sofyan dan keluarganya sedang duduk di sofa yang berada di ruang keluarga. Mereka sedang menunggu Grab mengambil pesanan mereka yang mereka beli dalam jumlah yang banyak untuk dibawah pergi ke Ramang-Ramang.


"Hanin, Fakri dan kamu Afika. Kalian bertiga naik di mobil kakak kalian. Nanti makanan biar Papa dan Ibu yang bawa" kata Pa Sofyan yang dibalas anggukan oleh Hanin dan Afika. Saat mereka sedang bercengkrama, terdengar klakson mobil dari luar.


"Sepertinya itu Grab yang membawa pesanan kita Pa" kata Fakri lalu ke luar melihat siapa yang datang. Dan benar saja, Grab yang datang membawa pesanan mereka dari RM Sambal Lalap Perintis KM 9.


"Papa..!!" teriak Fakri. Selang beberapa detik Pa Sofyan dan yang lainnya ke luar dari rumah.


"Kamu kenapa sih! Seperti orang kesurupan saja. Pagi-pagi sudah berteriak di luar" ujar Tante Eka.


"Hehehehe. Biasa Bu, lagi belajar vokal" balas Fakri. "Pa, tolong buka bagasi mobilnya dong biar makannya langsung dipindahkan ke mobil Papa" kata Fakri.


"Benar juga kamu" kata Pa Sofyan lalu membuka bagasi mobilnya. Aziz dan yang lainnya membantu Om Grab untuk memindahkan makanan ke dalam mobil Pa Sofyan. Setelah selesai, Pa Sofyan membayar biaya Grab.


"Berhubung makanan sudah ada dan tidak ada lagi yang ditunggu maka mari kita pergi" kata Pa Sofyan bergegas masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Fakri kamu duduk dipaling belakang, jangan gabung ditempat duduk Hanin dan Afika" kata Aziz sembari membuka pintu mobil untuk istrinya.


Fakri mengangguk paham, ia duduk di tempat paling belakang. Amrita duduk disamping suaminya di depan. Sedangkan Hanin dan Afika duduk dibagian tengah. Mobil perlahan bergerak meninggalkan kediaman Pa Sofyan. Jarak dari rumah ke Ramang-Ramang sekitar 1 jam 25 menit atau 39 km.


"Sekarang jam berapa?" tanya Aziz.


"Jam 10 kak" balas Afika.


"Oke. Target jam 11 lewat 15 menit kita sudah sampai di tempat tujuan" ujar Aziz.


Dalam perjalanan, Fakri memutar lagu favorite Hanin dan Amrita. Kebetulan Afika juga menghapal lagu yang disukai kedua teman barunya itu. Tanpa malu-malu, mereka berempat mulai bernyanyi di dalam mobil.


Dia indah meretas gundah


Dia yang selama ini ku nanti


Membawa sejuk memanja rasa


Dia yang selalu ada untukku


Di dekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang


Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Bersama arungi derasnya waktu


Kau milikku ku milikmu


Kau milikku ku milikmu


Di dekatnya aku lebih tenang


Bersamanya jalan lebih terang


Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia

__ADS_1


Bersama arungi derasnya waktu


Bila di depan nanti


Banyak cobaan untuk kisah cinta kita


Jangan cepat menyerah


Kau punya aku ku punya kamu selamanya kan begitu


Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku


Berdua kita hadapi dunia


Bersama arungi derasnya waktu


Kau milikku ku milikmu


Kau jiwa yang selalu aku puja.


Sepanjang perjalanan, Aziz tersenyum bahagia. Dalam perjalanan juga, ia memahami satu hal yang membuat istrinya bisa bertahan sampai sejauh ini. Yaitu "Teman". Amrita memperbanyak teman sehingga ia tidak merasa sendiri.


"Jika kamu bisa tertawa lepas bersama teman-temanmu maka akan aku izinkan kamu untuk berkumpul dengan teman-temanmu" batin Aziz.


------------


Perjalanan yang melelahkan, kini mereka sudah sampai di Dermaga Dua Ramang-Ramang. Aziz memakirkan mobilnya ditempat parkir. Selang beberapa detik kemudian Pa Sofyan pun tiba di Dermaga lalu memakirkan mobilnya.


"Papa, ayo kita sewa kapal besar"ujar Tante Eka. Tante Eka sudah tidak sabar menikmati keindahan wisata di Ramang-Ramang.


"Ayo Bu" balas Pa Sofyan mengajak istrinya pergi. Mereka pergi tanpa mengajak anak-anak mereka. Itulah mereka, sejak Fakri dan Aziz dewasa, Pa Sofyan Dan Tante Eka mulai menghabiskan waktu berdua.


"Kalian tidak mengajak kami?" tanya Aziz membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Tentu tidak dong. Kalian berlima, pas untuk menyewa perahu atau kapal besar. Sayang, kan ada kamu di sini. Jadi kamu bisa membayar biaya kapal ketiga adikmu dan juga istrimu" balas Tante Eka tersenyum manis pada putra sulungnya.


"Yes...!! Akhirnya kali ini kita bisa naik kapal, kita akan melihat keindahan Wisata Ramang-Ramang..." sorak Amrita, Hanin dan Fakri bersamaan. Afika hanya diam saja karena baru kali ini ia ke Ramang-Ramang.


"Ibu selalu menjebakku" gumam Aziz, ia terlihat cemberut dan frustasi.


Note: Untuk pembaca atau author yang di Makassar mohon kritiknya untuk tempat parkir Ramang-Ramang karena author belum pernah ke sana 😆😆😆😆😆. Author hanya isi begitu saja 😁

__ADS_1


__ADS_2